Minggu, 12 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

AS vs Iran

Peringatan Eks Menteri Libya Agar Tak Percaya Amerika: Banyak Perangkap

Mantan Menteri Informasi Libya melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Amerika Serikat.

Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
HO/IST
BERI PERINGATAN - Kolase foto Presiden Donald Trump dan Moussa Ibrahim belatar bendera AS dan Iran. Di ambang perundingan krusial antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan hari ini, Sabtu (11/4/2026), sebuah suara peringatan dari masa lalu menggema.Mantan Menteri Informasi Libya era Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Washington. 

Ringkasan Berita:Peringatan Agar Tak Percaya Amerika Serikat
  • Eks Menteri Libya Moussa Ibrahim peringatkan Iran soal perangkap diplomasi AS.
  • Kehancuran Libya jadi bukti nyata risiko percaya pada janji manis negara Barat.
  • AS dituding tak berniat damai, hanya ingin kontrol tensi demi kepentingan politik.
  • Meja perundingan dinilai sebagai alat tekan ekonomi dan politik baru bagi Iran.
  • Washington disebut sengaja ciptakan kekacauan agar tak ada kekuatan regional kuat.

 

TRIBUNJAMBI.COM - Di ambang perundingan krusial antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan hari ini, Sabtu (11/4/2026), sebuah suara peringatan dari masa lalu menggema.

Mantan Menteri Informasi Libya era Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Washington.

Dalam wawancara eksklusif bersama Russia Today pada Jumat (10/4/2026), Ibrahim meminta Iran berkaca pada nasib tragis negaranya.

Ia menegaskan bahwa kehancuran Libya bermula dari kekeliruan fatal dalam mempercayai komitmen negara-negara Barat.

"Libya dulu adalah negara yang sangat stabil dan kuat di Afrika. Namun, karena kami sempat percaya bisa menjalin hubungan baik dengan Barat, kami harus membayar harga yang sangat mahal," ungkap Ibrahim dengan nada getir.

Ibrahim mencium adanya perbedaan niat yang kontras dalam pertemuan di Islamabad hari ini.

Jika Iran dianggap tulus mencari solusi damai, sebaliknya AS dituding hanya ingin mengontrol tingkat ketegangan demi keuntungan politik sepihak.

Menurutnya, Washington memiliki perangkap diplomasi yang dirancang untuk melemahkan lawan tanpa perlu memicu perang terbuka.

Bagi Washington, kekacauan yang terkendali di Timur Tengah justru dianggap menguntungkan untuk memastikan tidak ada kekuatan regional yang tumbuh terlalu dominan.

Baca juga: Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Gejolak Perang Iran

Baca juga: Kisah Anin, Siswa Terbaik Pati Lolos Kedokteran Undip Raih Skor Tertinggi SNBP 2026

Mantan pejabat tinggi tersebut menuding AS menggunakan meja perundingan bukan untuk mengakhiri permusuhan, melainkan sebagai sarana baru untuk menekan Iran.

Melalui jalur ekonomi dan politik, AS dinilai berupaya melumpuhkan kedaulatan Teheran tanpa harus mempertaruhkan reputasi militer mereka dalam konflik terbuka.

"Mereka ingin memastikan tidak ada kekuatan regional yang bersatu atau tumbuh terlalu kuat," tambah Ibrahim.

Ia memperingatkan Iran bahwa setiap lembar kesepakatan yang disodorkan AS mungkin mengandung jerat yang bisa melumpuhkan kemajuan negara di masa depan.

Negosiasi Deadlock

Negosiasi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, berjalan buntu (deadlock) tanpa kesepakatan.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved