AS vs Iran
Peringatan Eks Menteri Libya Agar Tak Percaya Amerika: Banyak Perangkap
Mantan Menteri Informasi Libya melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Amerika Serikat.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Para pejabat Iran memulai pembicaraan pada pukul 13:00 waktu setempat pada hari Sabtu di Hotel Serena di Islamabad, Pakistan, pertama-tama dengan para pejabat Pakistan dan kemudian dengan delegasi Amerika.
Perundingan maraton tersebut berlanjut hingga pukul 03.40 waktu setempat pada hari Minggu.
Pembicaraan dijadwalkan akan berlanjut selama beberapa jam lagi pada hari Minggu.
Reporter Tasnim News yang dikirim ke Islamabad melaporkan bahwa “mengingat tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika dan desakan delegasi Iran untuk menjaga kepentingan nasional, dengan usulan dari pihak Pakistan dan penerimaan dari kedua belah pihak, pembicaraan akan dilanjutkan untuk putaran berikutnya pada hari Minggu.”
Sebelumnya, koresponden Tasnim telah melaporkan bahwa putaran pembicaraan tatap muka lainnya antara Iran dan Amerika Serikat berakhir di Islamabad, Pakistan pada Minggu pagi.
Kedua pihak sekali lagi bertukar pesan singkat dengan kehadiran tim ahli.
Hal itu terjadi di tengah perbedaan serius yang masih ada antara delegasi Iran dan Amerika dalam perundingan tersebut.
Kini giliran Amerika untuk mengatasi tuntutan berlebihan yang berulang dan mengganti ambisi dengan pendekatan yang realistis.
Wapres AS JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Biang Kerok
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, menyatakan bahwa perundingan dengan Iran, pada Minggu (12/4/2026) gagal mencapai kesepakatan.
Namun demikian, JD Vance menegaskan bahwa pihaknya masih akan mengajukan "tawaran terakhir dan terbaik" sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan di Pakistan.
Melansir dari AFP, Vance mengisyaratkan pihaknya masih memberikan waktu bagi Teheran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut.
Sebelumnya pada Selasa lalu (7/4/2026), AS telah menyampaikan akan menangguhkan serangan bersama Israel selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi.
"Kami berangkat dari sini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kami akan melihat apakah pihak Iran menerimanya," ujar Vance kepada wartawan usai 21 jam perundingan di Islamabad, Pakistan.
Vance menjelaskan bahwa akar utama perselisihan berpusat pada masalah fasilitas nuklir milik Iran.
Iran bersikeras tidak sedang berupaya memproduksi bom atom, sementara AS dan Israel telah membombardir sejumlah situs sensitif Iran, baik dalam perang yang meletus pada 28 Februari lalu maupun sepanjang tahun 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260412-Kolase-foto-Presiden-Donald-Trump-dan-Moussa-Ibrahim-belatar-bendera-AS-dan-Iran.jpg)