Minggu, 17 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Internasional

Khawatir Perang Kawasan, Arab Minta Amerika Batalkan Serangan Militer ke Iran

Amerika Serikat diminta menahan diri dari opsi serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Tayang:
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Tangkapan Layar/PressTV
UPACARA PEMAKAMAN - Ribuan orang menghadiri upacara pemakaman 60 korban tewas di Iran akibat serangan AS-Israel, Sabtu (28/6/2025).Amerika Serikat diminta menahan diri dari opsi serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. 

TRIBUNJAMBI.COM -Negara-negara Teluk Arab menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat agar menahan diri dari opsi serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Peringatan tersebut muncul seiring situasi domestik Iran yang masih menjadi sorotan internasional akibat tekanan ekonomi, pelemahan mata uang, dan rangkaian unjuk rasa yang sebelumnya terjadi di Teheran.

Negara-negara Teluk menilai potensi serangan terhadap Iran berisiko langsung mengganggu keamanan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.

Mengutip Anadolu, Selat Hormuz adalah perairan sempit yang memisahkan Iran dengan sejumlah negara Teluk Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman.

Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya puluhan kilometer sehingga dinilai rentan terhadap gangguan militer, termasuk serangan langsung, pemasangan ranjau laut, penembakan rudal, maupun pembatasan pelayaran.

Sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dunia melintasi selat tersebut setiap hari, termasuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.

Negara-negara Teluk menyampaikan kekhawatiran bahwa Iran dapat memanfaatkan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan strategis jika terjadi serangan militer terhadap wilayahnya.

Gangguan terbatas berupa insiden keamanan atau ancaman militer dinilai cukup memicu gejolak pasar energi global meskipun tanpa penutupan resmi selat tersebut.

Bagi negara-negara Teluk, kelancaran aktivitas di Selat Hormuz dipandang sebagai kepentingan ekonomi dan keamanan yang saling terkait.

Gangguan sebagian terhadap jalur pelayaran itu disebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak mentah secara signifikan di pasar internasional.

Situasi tersebut dinilai berisiko menekan pendapatan ekspor, mengguncang stabilitas pasar keuangan, serta menghambat agenda pembangunan jangka panjang di berbagai negara.

Negara-negara Teluk memandang potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak bilateral, tetapi juga berimplikasi luas terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

Selain dampak ekonomi, negara-negara Teluk juga menyoroti potensi konsekuensi politik dan keamanan yang dapat meluas di kawasan.

Iran sebelumnya menyampaikan ancaman tindakan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di wilayah tersebut jika terjadi serangan militer.

Ancaman tersebut mencakup kemungkinan penargetan pangkalan militer Amerika Serikat dan potensi gangguan terhadap jalur pelayaran di sekitar Teluk.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved