Berita Internasional
Bertemu Xi Jinping, Trump Peringatkan agar Taiwan Tak Merdeka dari China
Donald Trump memperingatkan Taiwan secara terbuka agar tidak nekat mendeklarasikan kemerdekaan dari Beijing
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Peringatan Donald Trump ke Taiwan
- Trump peringatkan Taiwan jangan deklarasi merdeka pasca-bertemu Xi Jinping.
- Trump enggan seret militer AS ke perang sejauh 15.289 km di Selat Taiwan.
- Kebijakan "Satu China" AS tetap berlaku tanpa komitmen militer baru.
- Presiden Taiwan sebut deklarasi tak perlu karena negaranya sudah berdaulat.
- Beijing labeli Presiden Taiwan sebagai penghancur perdamaian lintas selat.
TRIBUNJAMBI.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait masa depan geopolitik Asia Timur.
Usai menggelar pertemuan puncak dengan Presiden China, Xi Jinping, pada Jumat (15/5/2026), Trump memperingatkan Taiwan secara terbuka agar tidak nekat mendeklarasikan kemerdekaan dari Beijing.
Sikap tegas Trump ini mengindikasikan keengganan Washington untuk terlibat dalam konfrontasi militer terbuka di Selat Taiwan.
Di depan para jurnalis, Trump blak-blakan mengenai beban logistik dan risiko besar jika Amerika Serikat harus memobilisasi kekuatan militernya demi membela pulau tersebut.
“Anda tahu, kami seharusnya melakukan perjalanan 9.500 mil (15.289 km) untuk berperang. Saya tak mencari itu,” ujar Donald Trump sebagaimana dikutip dari BBC.
“Saya ingin mereka tetap tenang, saya ingin China tetap tenang.”
Saat didesak mengenai apakah militer AS akan turun tangan membela Taiwan jika terjadi invasi, Donald Trump menolak membahas skenario tersebut.
Namun, ia menekankan bahwa isu Taiwan menjadi salah satu topik utama yang dibahas intensif bersama Xi Jinping.
Baca juga: Israel Isyaratkan Serangan Baru ke Iran, Katz: Harus Mundur Bertahun-tahun
Baca juga: Pesan Menohok Keluarga Usai Foto Sakit Kamaruddin Simanjuntak Viral
“Xi sangat peduli terhadap pulau itu, dan tak ingin melihat gerakan kemerdekaan,” tambah Trump, seraya menegaskan bahwa dirinya tidak membuat komitmen baru apa pun dan kebijakan "Satu China" (One China Policy) milik AS tetap tidak berubah.
Respons Status Quo dan Label "Pembuat Onar" dari Beijing
Di sisi lain, Presiden Taiwan Lai Ching-te sebenarnya telah menyatakan bahwa negaranya tidak perlu melakukan deklarasi kemerdekaan formal karena secara de facto sudah menjadi negara yang berdaulat.
Langkah hati-hati ini sejalan dengan mayoritas warga Taiwan yang lebih memilih mempertahankan status quo—tidak memproklamasikan kemerdekaan, namun juga menolak bersatu dengan China.
Meski begitu, Beijing tetap menaruh ketidakpercayaan mendalam pada kepemimpinan Lai Ching-te.
Otoritas China secara vokal melabeli presiden Taiwan tersebut sebagai “pembuat onar” serta “penghancur perdamaian lintas selat” yang dapat memicu ketidakstabilan regional.
Secara hukum, Amerika Serikat memang masih terikat undang-undang untuk menyediakan sarana pertahanan diri bagi Taiwan.