Human Insterest Story
Perjuangan Wiwin Hapus Stigma Eks Lokalisasi Payo Sigadung: Saya Cinta Kampung Ini
Sejak resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Jambi, aktivitas dunia malam yang sempat memuncak pada 2020 kini nyaris tak terlihat
Penulis: Srituti Apriliani Putri | Editor: Mareza Sutan AJ
Selama puluhan tahun, Payo Sigadung dikenal sebagai salah satu pusat prostitusi terbesar di Kota Jambi.
Namun kini, kawasan yang akrab disebut Pucuk itu perlahan berubah dan mulai meninggalkan citra lamanya.
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Jambi, aktivitas dunia malam yang sempat memuncak pada 2020 dan mulai meredup pada 2025, kini nyaris tak terlihat lagi.
Jurnalis Tribunjambi.com mengunjungi kawasan eks lokalisasi tersebut beberapa waktu lalu.
Kondisinya sudah jauh berbeda. Kini, sudah menyerupai permukiman biasa.
Meski demikian, menghapus stigma negatif yang melekat di masyarakat bukan perkara mudah.
Yang sebagian orang tau, kawasan itu dulu merupakan tempat prostitusi yang juga dikenal dengan istilah Pucuk.
Hal ini dirasakan langsung oleh Wiwin, Ketua RT 05 Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.
Wiwin yang juga merupakan anak dari mantan muncikari di kawasan itu mengaku kerap memikirkan masa depan anak-anak yang tinggal di sana.
Menurutnya, anak-anak dari kawasan tersebut sering mendapat penilaian kurang baik dari orang luar saat mengetahui latar belakang tempat tinggal mereka.
Stigma tersebut muncul karena kawasan itu telah lebih dari 40 tahun dikenal sebagai lokasi prostitusi.
Di tengah kondisi itu, Wiwin bersama warga mulai melakukan perubahan secara bertahap.
Musala Kecil
Pada 2024, ia membangun sebuah musala kecil di rumahnya sebagai pusat kegiatan keagamaan.
Musala tersebut kini menjadi tempat anak-anak belajar mengaji setiap sore.
| Film Mantagi Telusuri Batanghari dari Hulu ke Hilir, Sutradara Angkat Relasi Manusia dan Air |
|
|---|
| Pemuda Jambi Habiskan Rp9 Juta, Jalan Kaki, Naik Bus, Kereta dan kapal ke Raja Ampat |
|
|---|
| Lansia di Kerinci Hidup Sebatang Kara dan Namanya Dihapus dari Penerima Bansos |
|
|---|
| 80 Siswa Belajar di Bawah Atap Bocor MTsN 3 Bungo yang Dibangun sejak 1970-an |
|
|---|
| Langkah Anak Muda Desa, Membawa BRI Link Lebih Dekat ke Kampung-Kampung di Jambi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/wajah-baru-eks-lokalisasi-pucuk-06042026.jpg)