'Candi Hitam' di Kawasan Percandian Muaro Jambi Belum Tersentuh

Dia melakukan aksi menelusuri sungai terpanjang di Pulau Sumatra itu, untuk mengecek keberadaan stockpile batu bara alias "candi hitam" di sepanjang

Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI
Tribun Jambi edisi 10 Juni 2024 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Video seorang pemuda berambut panjang naik perahu di Sungai Batanghari, viral di media sosial Instagram, Senin (10/6).

Lelaki itu berteriak kencang sembari menyebut nama Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Gubernur Jambi.

"Katanyo ko, setahun lalu, batu bara yang ada di seberang dusun sayo, di seberang candi nak dipindahin. Lah Pak Presiden datang, lah Pak Luhut datang, gubernur datang, katanyo nak pindahin, dak ada batu bara di kawasan candi. Ko masih ada lah lur, serius idak itu lur," ujarnya sembari menunjuk bergunung-gunung batu bara warna hitam yang ada di pinggir Sungai Batanghari.

Pemuda itu bernama Mukhtar Hadi, warga Desa Muara Jambi yang tinggal di kawasan Percandian Muaro Jambi.

Dia melakukan aksi menelusuri sungai terpanjang di Pulau Sumatra itu, untuk mengecek keberadaan stockpile batu bara alias "candi hitam" di sepanjang pinggiran Sungai Batanghari.

"Kemarin itu kan ada peresmian revitalisasi KCBN Muarajambi, ada mau bangun museum dan sebagainya, tapi rupanya lupa persoalan kalau candi ini 'dikepung' batu bara," tutur pegiat di Perkumpulan Rumah Menapo ini.

Kepada Tribun Jambi, pemuda yang populer dengan sapaan Borju itu menuturkan keprihatinannya setahun pascakedatangan Presiden Joko Widodo ke Percandian Muaro Jambi.

"Waktu itu kan Presiden Jokowi sudah tahu kalau stockpile itu jadi permasalahan, jadi ganjalan juga untuk candi jadi warisan dunia. Sudah setahun, tapi kayaknya masih tak tersentuh," tuturnya.

Borju menuturkan revitalisasi Percandian Muaro Jambi yang luasnya 3.981 hektare itu merupakan wacana besar. Itu terlihat juga dari anggaran yang digelontorkan dari pemerintah pusat selama dua tahun ini nilainya hampir Rp1,5 triliun.

"Tapi yang menjadi prioritas malah dilupakan setelah ada anggaran, padahal itu (persoalan stockpile batu bara di kawasan candi; red) adalah PR (pekerjaan rumah) lama, gak selesai hingga kini," ujarnya.

Menurut Borju, pemegang kebijakan melupakan tahapan pembebasan lahan, terutama dari stockpile batu bara, sementara lahan milik warga yang ratusan hektare telah selesai dibebaskan untuk kawasan.

"Tahapan ini dilompati, hanya kebun masyarakat ratusan hektare yang bisa dibebaskan. Tapi perusahaan kok gak bisa, padahal kan lebih kecil," lanjutnya.

Dalam sepengetahuan Borju, ada beberapa stockpile batu bara yang berada di dalam kawasan percandian seluas 3.981 hektare. Seluruhnya, itu masih berdiri dan beroperasi.

"Ada beberapa itu di dalam kawasan. Kalau untuk kondisi sekarang tak tahu, tapi yangg jelas tadi lewat sana (sungai), batu bara masih menumpuk," lanjutnya.

Dia mengatakan di dalam area stockpile perusahaan itu ada menapo, seperti Menapo Pelayangan yang kondisinya kini tertutup semak belukar. Dia khawatir peninggalan itu akan mengalami kerusakan jika dibiarkan.

Borju bercerita, pada 2009 Percandian Muaro Jambi diajukan masuk daftara UNESCO World Heritage.

Namun ternyata ada ganjalan konflik soal stockpile. "Kemudian ini jadi wacana omongan seminar di hotel-hotel, dan hingga kini tak selesai.

Di mana keseriusan pemangku kebijakan? Sudah lama bertahun-tahun," ujarnya.

Selain stockpile, persoalan lainnya tentang pelaku kebudayaan di sekitar candi.

Ada banyak pegiat seni yang selama ini masih mandiri, membutuhkan dukungan dalam aktivitas kesehariannya

"Kemudian juga persoalan fasilitasn infrastruktur untuk disabilitas kurang, misal di jembatan depan itu," ujarnya, sembari memaparkan persoalan manajemen pengelolaan yang perlu dibenahi.

Menuju Warisan Dunia

Pekan lalu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, menyebut berkas usulan atau dossier KCBN Muara Jambi untuk menuju Warisan Dunia dari UNESCO sedang disiapkan.

Hilmar mengatakan bahwa KCBN Muarajambi sejauh ini telah terdaftar sebagai tentative list.

"Kita berpikir karena ini lagi berlangsung dan kita juga masih melakukan penggalian sehingga dossier itu akan bertambah juga informasinya," katanya.

Perihal daftar sementara, kata Hilmar, dari berbagai situs yang akan ditetapkan sebagai Warisan Dunia. Nanti prosedurnya menunggu giliran pembahasan.

"Jadi sudah masuk ke dalam daftar sekarang menunggu giliran pembahasan kapan itu dilakukan tergantug dari pekerjaan di sini. Kalau sudah selesai direvitalisasi kita sudah berani memastikan tahap satu katakan final kita sudah berani daftar karena KCBN Muara Jambi dengan luas 4.000 hektare ada bagian utara itu belum disentuh," tuturnya.

"Tapi dugaan kita, dari temuan awal yang terlihat, banyak sekali temuan-temuan di sana. Kita lagi lihat secara strategis kapan tepatnya itu nanti, dari segi waktu untuk masuk pembahasan di UNESCO," pungkasnya.

Dorong Kementerian PUPR dan Perhubungan

Anggota DPR RI daerah pemilihan Jambi, A Bakri, terus mendorong anggaran dari Pemerintah Pusat untuk pelestarian Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Hal itu disampaikannya seusai peresmian mega-proyek Revitalisasi KCBN Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu (5/6).

"Kita tahu pemerintah provinsi dan kabupaten punya keterbatasan anggaran. Situs ini bukan milik Jambi saja, tapi sudah milik dunia," katanya.

Ketua DPW PAN Provinsi Jambi itu juga berharap Kementerian PUPR menggelontorkan anggaran untuk membangun infrastruktur di situs terluas se-Asia itu.

"Sebanyak mungkin masuk ke sini. Hari ini kita lihat Kemendikbudristek sudah menggelontorkan anggaran ratusan miliar, saya juga berharap Kementrian PUPR juga mempunyai anggaran untuk wisata nasional. Begitu juga dengan Kemenetrian Perhubungan saya juga berharap Kemenhub membawa programnya ke sini,” ucapnya.

Sebagai wakil rakyat yang duduk di Senayan, dia akan terus mengawal anggaran di DPR RI agar KCBN Muara Jambi bisa dikenal oleh dunia. "Atas dukungan Gubernur Jambi dan Kemendikbudristek, mudah-mudahan bisa maksimalkan," pungkasnya. (sud/wir)

Seputar Percandian

+ Kompleks percandian agama Buddha terluas di Asia Tenggara

+ Pusat pendidikan agama Buddha di masa lalu

+ 3.981 hektare

+ Lokasi Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi

+ Di Desa Muara Jambi, Desa Danau Lamo, Desa Dusun Baru, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingking Dalam, Desa Dusun Mudo, Desa Teluk Jambu, dan Desa Tebat Patah

+ Dicalonkan ke UNESCO jadi Warisan Dunia

Baca juga: Konsep Kota Kanal Percandian Muaro Jambi Bakal Jadi Saingan Venesia Italia, Ada Candi Hitam

Baca juga: Kisah Jokowi Setelah 41 Tahun Ekspedisi Gunung Kerinci 1983, tak Sempat ke Sekepal Tanah dari Surga

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved