Duka Orang Rimba di Jambi karena Penasihat Temenggung Meninggal, Malah Divideokan Orang

Meraung-raung menunjukkan kesedihan mendalam. Apa yang dilakukan para Orang Rimba ini merupakan bagian tradisi yang sudah berlangsung sejak lama.

Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
ISTIMEWA/BABINSA
Sekelompok Orang Rimba yang sedang melangun di kawasan Desa Pematang Gajajh, Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muarojambi, Sabtu (1/6). 

"Mereka bersedia pindah ke lokasi yang lebih baik," ujarnya.

Lebih lanjut, informasi yang disampaikan Kapolsek Jambi Luar Kota, mereka akan menempati wilayah di sekitar Bungku, Kabupaten Batanghari.

Pantauan Tribun di lokasi, pondok-pondok yang terbuat dari terpal dan kayu-kayu penyanggah itu pun telah mereka bongkar sejak Sabtu malam, sebelum berangkat meninggalkan kawasan CRC sekitar pukul 19.30 WIB.

Kehidupan Orang Rimba Semakin Terbuka

“Aksi-aksi budaya Orang Rimba akan semakin mudah terlihat dan bisa bermakna aneh bahkan mengganggu bagi masyarakat lain, karena kehidupan mereka yang makin terbuka," kata kata Robert, menjelaskan.

Padahal, sejak dahulu tindakan itu sudah mereka lakukan. Hanya saja, apa yang Orang Rimba lakukan masih tertutup dalam hutan.

"Tatkala hutan makin tipis dan interaksi dengan orang lain makin dekat, maka tampaklah budaya yang sudah turun-temurun mereka jalankan,” kata antropolog KKI Warsi itu.

Orang Rimba merupakan kelompok masyarakat adat marginal yang hingga kini kokoh dengan adat dan budaya mereka.

Adat budaya yang berbasiskan alam rimba, tempat hidup mereka. Adat dan budaya itu sangat berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Untuk itu, menurut Robert Aritonang, mengakomodasi Orang Rimba dalam kehidupan normal merupakan bagian dari upaya untuk penghargaan terhadap budaya mereka.

“Ikut bersimpati dan ikut berduka cita, itu yang mereka butuhkan,” kata Robert.

Selain itu, yang penting dilakukan adalah tetap menyediakan ruang perlindungan hutan untuk kelompok ini.

Mereka hidup membutuhkan hutan untuk segala atraksi budaya dan sosial mereka.

“Juga dibutuhkan pemakluman dan pemahaman dari kita semua bahwa yang terjadi adalah perwujudan budaya mereka, dan dihadapi dengan tradisi mereka juga.

"Beri mereka pembujuk, dengan sendirinya aksi itu akan selesai dan mereka akan melangun, berpindah tempat melanjutkan pengungkapan rasa duka mereka,” kata Robert. (mareza sutan/rifani halim)

Baca juga: Warga Terpaksa Tebus Obat di Luar Apotek RSUD Abdul Manap Jambi, Sebagian Stok Kosong Sejak 2 Bulan

Baca juga: Analisis Politik, Mengapa Golkar Belum Putuskan Calon di Pilgub Jambi 2024

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved