Minggu, 10 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Disaat Banjir Kakek Sugiono Rela Lakukan Hal ini Demi Dapatkan Gas Epiji

Sugiono (60) tampak berat mengayuh sepeda, ia tetap tersenyum sembari menyapa siapa saja yang ditemuinya.

Tayang:
Editor: Herupitra
kompas.com
Sugiono (60) seorang pengecer gas elpiji 3 kilogram yang menerjang banjir di Jalan Sultan Fatah Demak, Selasa (19/3/2024). (KOMPAS.COM/NUR ZAIDI)(KOMPAS.COM/NUR ZAIDI) 

TRIBUNJAMBI.COM - Sugiono (60) tampak berat mengayuh sepeda, ia tetap tersenyum sembari menyapa siapa saja yang ditemuinya.

Ya pagi itu matahari tampak bersinar di langit Demak, namun genangan air tak kunjung surut sepanjang jalan protokol Kabupaten Demak.

Biasanya, setiap menit ratusan kendaraan mobil dan motor lalu lalang memadati kawasan kota. Kini, hanya bisa dihitung jari.

Di ruas jalan yang terendam banjir 50 sentimeter, hanya mobil tertentu yang bisa melintas.

Sementara jalan akses menuju perkampungan padat penduduk rata-rata diportal, sebagai peringatan bahwa lokasi tersebut tidak bisa dilewati kendaraan lantaran tingginya debit air.

Baca juga: Berantas Mafia Tanah, Polda Jambi dan Kanwil BPN Jambi Lakukan Perjanjian Kerjasama

Baca juga: Tunggakan Capai Rp 2 Miliar, DPRD Kota Jambi Minta Pemkot Kejar Penunggak Pajak

Pemandangan yang tidak biasa di pagi yang cerah, para pemotor yang mendorong kendaraan. Selain itu terlihat pejalan yang sedikit berlarian kecil sewaktu mobil melintas untuk menghindar air.

Sugiono (60) ada di antara mereka. Meskipun tampak berat mengayuh sepeda, ia tetap tersenyum sembari menyapa siapa saja yang ditemui.

Di genangan air yang dalam, ia memilih jalan kaki sembari membenahi 4 tabung elpiji yang tergantung di bagian belakang sepeda.

Warga Desa Kalikondang ini sengaja menyusuri banjir untuk mendapatkan gas elpiji. Sebagai pengecer elpiji, dia ingin kebutuhan dirinya dan tetangganya bisa terpenuhi.

Bahkan di tengah kelangkaan dan sulitnya mencari elpiji, Sugiono memilih tak menaikkan harga.

"Untuk sendiri dan untuk tetangga - tetangga, dari agen. Biasanya Rp 21.000," ujarnya kepada Kompas.com ditemui di Jalan Sultan Fatah, Demak, Selasa (19/3/2024).

"Tetangga ada Rp 22.000, saya tetap Rp 21 (ribu). Saya belum pernah menaikkan harganya," imbuhnya.

Sugiono mengatakan, apa yang dilakukan adalah sebatas peran pedagang pengecer. Apabila dibandingkan pekerja, hasil yang dia peroleh tidak seberapa.

"Ini kalau diambil kerja, enak kerjanya. Ini (jualan gas melon) paling dapat berapa," katanya.

Kata Sugiono, saat ini banyak warga yang kesulitan mencari elpiji 3 kilogram. Padahal apa yang dia lihat, masih terdapat akses jalan yang bisa dilalui truk.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved