Femalenial Jambi
Pengacara Muda Sausan Afifah Denadin yang Hidup dengan 'Menciptakan' Bukan 'Mengandalkan'
Sausan Afifah Denadin saat diwawancarai Tribun Jambi mengatakan menjadi seorang pengacara di usianya yang masih 25 tahun merupakan anugerah amat.
Penulis: Rara Khushshoh Azzahro | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM,JAMBI - Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, dan proses setiap orang pun berbeda-beda. Maka, nikmati setiap proses merupakan jalan terbaik.
Kalimat itulah yang menjadi pedoman seorang pengacara muda Sausan Afifah Denadin saat diwawancarai Tribun Jambi.
Menjadi seorang pengacara di usianya yang masih 25 tahun merupakan anugerah amat disyukurinya. Tetapi menurutnya hal baik yang diterimanya bukanlah sebuah keberuntungan tanpa turun tangan tuhan.
"Aku percaya keberuntunganku selama ini jangan-jangan adalah buah dari kebaikan orang tuaku kepada orang-orang," kata Sausan menceritakan kilas balik kisahnya.
Baca juga: Femalenial Agus Triana, Wanita Ujung Tombak Kesuksesan Pengawasan Pesta Rakyat Pemilu 2024
Baca juga: Femalenial Rahma Yuniarsih, Penulis 13 Novel dan Cerita Sejarah Kini Jadi Duta TWK Provinsi Jambi
Sausan merupakan anak dengan didikan seorang ibu dan ayah yang mementingkan nilai-nilai hidup.
Ibunya bukan sosok yang konservatif, tetapi setiap kegiatan Sausan dididik dengan kedisiplinan dan budi pekerti.
Sang ibu sangat menjunjung tinggi etika dan moral. Bagi ibunya, nilai tertinggi terdidiknya seorang manusia apabila disertai dengan etika dan moral yang baik. Maka keseimbangan antara pendidikan, moral, dan etika dijunjung tinggi.
Bagi Sausan, sang ayah merupakan orang yang berhati malaikat. Dari ayahnya lah Sausan belajar bagaimana hidup bermanfaat bagi orang lain itu lebih baik dari pada memanfaatkan orang lain.

Tentu itulah yang mendorong hati kecilnya menjadi seorang advokat dan bertekad membantu banyak orang. Terutama untuk kasus perempuan dan anak yang dipandang sebagai kelompok rentan.
Ketertarikan Sausan pada "Ilmu Hukum" bermula saat menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Keilmuan tentang hukum mulai dinikmatinya hingga membawanya ingin belajar hukum di perguruan tinggi kelak.
Tetapi seperti bukan hidup namanya kalau tidak ada guyonan dari tuhan. Sausan yang jatuh hati pada hukum itu belum lolos SNMPTN UNSRI dan membuatnya cukup merenung.
Ketika itu terjadi, ternyata sang ayah memandang positif. Sausan yang meminta untuk berhenti satu tahun sebelum melanjutkan kuliah pada tahun berikutnya itu pun disetujui.
Baca juga: Herda Yanti, Femalenial Jambi Alumni Mesir Persiapkan Diri Mengajar Santri Usai Idul Adha
Baca juga: Femalenial Upik Sarolangun 2022, Kecantikan dan Inner Beauty Kenya Maharani Esa Pratiwi
Sausan dapat dukungan semangat, dan bertekad dalam hati serta berjanji pada kedua orang tuanya untuk bisa mengejar kelulusan para mahasiswa lain yang seangkatan dengannya.
Ayahnya tidak tinggal diam selama jeda satu tahun itu. Sausan diajak mengikuti setiap kasus perkara yang ditangani sang ayah kemanapun perginya, seolah-olah sedang magang advokat.
"Bersyukurnya ayah sudah pernah mengajak Sausan mempelajari kasus-kasus dan dasar hukumnya sejak SMA. Jadi tambah dalam lagi ketika ikut ayah urus perkara sana-sini," kata Sausan.
Memang diakuinya, walau terlahir dari keluarga dengan disiplin tinggi. Sang ayah dan ibunya cukup suportif. Mereka mendidik Sausan bukan dengan cara otoriter.
Dia diberi kepercayaan penuh oleh orang tuanya untuk dapat menikmati hidup sesuai usianya. Sehingga itu yang membuat Sausan justru lebih menghargai setiap langkah hidup dan keputusannya.
Saatnya mulai masuk perkuliahan dengan suasana baru. Namun satu hal menarik dan masih diingatnya adalah, dia tahu dan paham tentang perkara-perkara serta hukum yang diberikan dosen dalam perkuliahan. Padahal kawan-kawannya baru mulai belajar.
Sausan tidak menyangka, perkataannya pun ditepati. Lulus lebih cepat dari teman kelasnya, karena mengejar ketertinggalan setelah memutuskan untuk berhenti pendidikan (gap year-red) selama setahun.
Saat lulus, Sausan mengikuti pendidikan kembali menjadi seorang pengacara (advokat-red). Tetapi lagi-lagi ia diberi jalan tak terduga saat proses hingga kelulusan.
"Tidak mudah karena dari segi finansialnya pun tidak sedikit. Tetapi mendekati tenggat waktu, ada saja rezekinya bisa terbayarkan. Semakin yakin, itu buah manis kebaikan orang tuaku yang aku bilang," katanya penuh yakin.
Jangan salah, bukan hanya hal manis seperti di film-film yang penuh keberuntungan. Sausan yang masih meneruskan kecintaannya pada dunia hukum memutuskan untuk tes ujian menjadi jaksa. Tetapi lagi-lagi untuk kedua kalinya hal tak seindah angan-angan sebagai orang yang berharap akhirnya terjadi. Sausan belum lolos menjadi jaksa.
Kesedihannya tergantikan dengan studi magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan dengan kegigihannya, dia berhasil diprioritaskan jadi lulusan cepat studi magister hukum saat itu.
"Jadi ada enam yang diprioritaskan dosen, termasuk aku. Dosen itu bilang, beliau bakal memprioritaskan mahasiswanya yang gigih dalam mempertahankan argumen berdasarkan tesis buatannya disertai dengan dasar hukum yang jelas," cerita Sausan.
Sausan tidak menyangka buah dari usahanya adalah ia lulus pendidikan magister hukum dalam satu tahun dua bulan yang biasa ditempuh setidaknya dua tahun.
"Jadi aku percaya keberuntungan itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh diri kita sendiri," kata dia.
Sausan yang selama ini sering terlibat dalam usaha ayahnya dalam menangani kasus, diam-diam semakin mengagumi ayahnya.
Dia heran tentang apa yang dilakukan ayahnya kepada klien-kliennya saat menangani kasus. Sang ayah yang baginya berhati malaikat itu tak jarang ditipu klien karena tak membayar jasa penyelesaian perkaranya.
"Ayah itu prinsipnya membantu. Kasus kalau bisa dipercepat selesainya, bukan diulur. Bagi ayah, berhasilnya ayah ketika kasus tidak naik ke persidangan. Itu rasanya bangga sekali. Jadi kadang ada kejadian orang sudah kehabisan uang, tetap dikerjakannya sampai selesai kasusnya. Habis itu ayah yang ditinggalin," tuturnya.
Ditambah lagi ia mendengar dengan telinganya sendiri, dan Sausan menyaksikan di depan matanya kalau klien ayahnya berterima kasih atas penyelesaian kasusnya.
"Itulah part yang membuat aku makin kagum dengan ayah. Dan bertekad mau terus menjadi pengacara," lanjutnya.
Mungkin pesannya untuk para calon/ mahasiswa hukum di luaran sana kali ini seperti klise. Tetapi bagi Sausan cukup bermakna.
Sausan ingin mahasiswa yang mempelajari hukum dijalani dengan hati terbuka dan penuh rasa cinta. Sehingga apa yang dipelajari benar-benar dipahami.
Dia mengingatkan bahwa semua yang dipelajari dan nanti diterapkan harus atas landasan dasar hukum yang jelas. Sehingga mahasiswa harus paham betul tentang dasar-dasar hukumnya.
Baca juga: Melisa Bella Kurnia, Femalenial Jambi Berjuang Jadi Putri Hijabfluencer Indonesia
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.