Pemilu 2024

Isu Politik Uang Menguat di Tebo, Caleg Tawarkan Ratusan Ribu Hingga Paketan

Menjelang hari pencoblosan pada 14 Februari mendatang, isu praktik politik uang semakin menguat di Kabupaten Tebo.

Penulis: Wira Dani Damanik | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
ist
Ilustrasi politik uang 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARATEBO - Menjelang hari pencoblosan pada 14 Februari mendatang, isu praktik politik uang semakin menguat di Kabupaten Tebo.

Pada 14 Februari nanti akan dilaksanakan pemilihan capres-cawapres, DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten.

Seorang caleg di Kabupaten Tebo sumber Tribun, mengatakan kondisi di masyarakat saat ini sedang hangat diperbincangkan mengenai serangan fajar.

Caleg yang tak mau disebutkan namanya itu mengaku realita di lapangan politik uang tidak terhindarkan.

"Tim saya yang turun ke lapangan ini menemukan bermacam-macam cara untuk memainkan politik uang. Ada caleg yang memang bertalian darah menawarkan harga paketan," katanya, dikonfirmasi Kamis (8/2/2024).

Ia juga mengakui bahwa dirinya juga telah mempersiapkan biaya untuk meraup suara masyarakat dengan menawarkan uang.

Nilai uang yang disiapkan itu pun menyesuaikan dengan kondisi harga di lapangan.

"Berdasarkan kondisi di lapangan ditambah informasi dari tim saya itu, harga suara caleg DPRD kabupaten itu di angka Rp200 ribu, DPRD provinsi Rp100 ribu kalau pusat Rp50 ribu. Kira-kira di kisaran itulah," katanya.

Selain itu, ditemukan pulak serangan fajar yang dipaketkan. Dia menjelaskan ada beberapa caleg yang bertalian darah, melakukan tandem dan uang untuk beli suara masyarakat pun disiapkan satu paket.

Ia juga memberikan kesaksiannya selama berkiprah selama caleg bahwa di lapangan menemukan sebagian kelompok warga yang berupaya mencari dan mendapatkan serangan fajar.

"Memang realita di lapangan begitu. Ada juga yang mengaku punya massa dan siap memberi suara asalkan diberikan uang yang pantas," ungkapnya.

Dia sendiri telah mempersiapkan modal kurang lebih Rp1 miliar untuk bertarung dalam perebutan kursi anggota dewan.

Biaya tersebut digunakan sebagai biaya operasional sekaligus dipersiapkan untuk uang membeli suara.

"Biaya operasional kan cukup besar juga untuk kesana kemari, terus uang saksi, baliho dan lain-lain. Sesungguhnya saya tidak ingin ikut-ikutan untuk membeli suara itu, tetapi realita di lapangan memaksa seperti itu agar kita dapat suara," ujarnya.

Disisi lain, sebagian masyarakat mengaku bahwa isu peredaran uang dari caleg akan bergulir sebelum pencoblosan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved