Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen 7 Januari 2024 - Waspadai, Kasih yang Menyimpang!
Bacaan ayat; 1 Yohanes 4:19 (TB) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita
Renungan Harian Kristen 7 Januari 2024 - Waspadai, Kasih yang Menyimpang!
Bacaan ayat; 1 Yohanes 4:19 (TB) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kasih secara sangat sederhana; kasih adalah rasa sayang (cinta, suka).
Pada prakteknya, kasih itu menjadi persoalan yang rumit. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, memang kasih itu sangat sederhana.
Kesederhanaan itu ditandai dengan sikap taat kepada Tuhan, sebagai Pencipta langit dan bumi.
Tanda itu berlanjut pada relasi yang harmonis antara manusia sebagai ciptaan, dan Allah sebagai Pencipta.
Keharmonisan tersebut berimbas luas pada relasi-relasi yang lain, yaitu dengan diri sendiri, sesama dan alam ciptaan Allah yang dipercayakan untuk dikelola, dikuasai dan ditaklukkan oleh manusia.
Keharmonisan tersebut rusak tatkala manusia memilih tidak taat dan memberontak kepada Allah. Implikasinya, berimbas pada kasih yang menjadi melenceng!
Coba perhatikan dengan saksama; Atas dasar kasih para orang tua ingin menfasilitasi kehidupan anak-anaknya dengan yang terbaik.
Ternyata mendapatkan respon yang variatif. Beberapa anak menjadi gembira dan memanfaatkan segala fasilitas yang tersedia untuk membangun kehidupan.
Sebagai balasannya mereka ingin membahagiakan orang tuanya.
Beberapa anak, juga menikmati fasilitas yang diberikan; namun mengartikannya sebagai kenyamanan hidup.
Ia menjadi anak yang manja, ingin segalanya disediakan dan tidak mau berusaha dalam hidup. Anak yang lain, mulai melirik fasilitas adik atau kakaknya.
Muncul rasa iri hari bahwa fasilitasnya dirasakn lebih sedikit dari mereka dan mulai memendam benih kebencian. Aneh bukan?
Kasih yang sama dari seorang orang tua, ternyata direspon beragam. Variasi responnya semakin kompleks ketika bersinggungan dengan konteks yang sedang dihadapi.
Jika fokus untuk mencari arah dari kasih tersebut, ternyata fokusnya ada pada diri sendiri.
Para anak berfokus pada diri dalam menerima kasih, sementara orangtuanya tanpa disadari juga fokus pada diri sendiri: agar menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab.
Itu sebabnya, Yohanes menulis, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita."
Dalam hal ini Yohanes hendak memberikan pengajaran, yaitu:
Pertama, fokus kasih adalah Allah.
Allah yang telah bertindak untuk mengasihi. Allah adalah kasih, maka pada diri-Nya sendiri Ia bertindak dalam kasih.
Paham ini penting untuk ditanamkan dalam pikiran agar kita tidak salah paham terhadap kasih yang Allah lakukan. Ini akan teruji ketika terjadi, seolah Allah diam ketika hidup kita sedang diterpa penderitaan.
Jika kita tidak fokus pada kasih Allah, sangat mudah bagi kita tergoda untuk berfikir bahwa Allah jahat.
Namun jika kita fokus bahwa Allah adalah kasih maka pikiran kita akan terus terarah untuk menemukan kasih Allah bahkan dalam situasi menderita sekalipun.
Kedua, bertindak kasih adalah pilihan bebas didasarkan kasih Allah sendiri. Inilah kasih yang tidak bersyarat.
Melakukan kasih bukan karena alasan tertentu.
Mengasihi karena memang memilih dan memutuskan untuk mengasihi, apapun keberadaan yang dikasihi.
Sangat mudah mengasihi ketika telah menerima kasih.
Sangat umum, ketika sudah merasa melakukan kasih maka akan menuntut sesama untuk melakukan kasih kepadanya. 'Lu jual, gue beli!'
Begitu kira-kira!
Maka wajar jika banyak kawula muda kesulitan untuk menyatakan kasih, karena fokusnya bukan pada, "Aku mencintai dia!", tapi malah fukus pada, "Dia cinta aku atau tidak ya?".
Bagaimana bisa tahu isi hatinya jika belum pernah menyatakan cinta?
Sadar atau tidak, hampir setiap kawula muda baru berani menyatakan cinta setelah yakin bahwa ia akan dicintai! Bukankah ini bersyarat?
Ketiga, Yohanes sedang mengantisipasi agar kita tidak salah dalam mengasihi. Yohanes sedang mengingatkan kita untuk belajar dari Allah tentang cara mengasihi.
Cara kita mengasihi telah diselewengkan oleh dosa. Itu sebabnya, perlu kembali belajar pada Kasih itu sendiri yaitu Allah.
Membaca Alkitab secara utuh, kita akan disodori kasih Allah yang murni.
Kasihnya terus mengalir meskipun berhadapan dengan pengkhianatan. Kasih-Nya terus mencari cara untuk mewujud.
Itu sebabnya, kematian Kristus di kayu salib menjadi puncak dari kasih yang Allah tunjukan bagi kita.
Pilihlah mengasihi sebagaimana cara Allah telah mengasihi.
Pengkhianatan dan penyelewengan tidak akan membuat kita patah arang, jika kita terus memandang kepada Allah sebagai Guru dalam mengasihi.
Mengasihi adalah pilihan bebas dalam hidup. Resiko pasti ada, sebab penyimpangan dalam mengasihi masih akan terus ada.
Meskipun demikian, Allah telah mengajarkan kita bagaimana cara mengatasinya. Penyelesaiannya adalah dengan mengampuni. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Palembang Siloam
Resep Sambal Geprek, Pastikan Ada Cabe Rawit Merah |
![]() |
---|
Resep Kulit Ayam Krispi untuk Camilan |
![]() |
---|
Menu Makan Hari Ini, Resep Udang Saus Padang |
![]() |
---|
Prediksi Skor Torino vs Napoli, Cek Head to Head dan Statistik Tim, Kick off 21.00 WIB |
![]() |
---|
Arti Mimpi Hujan Rintik-rintik Menurut Primbon Jawa Pertanda Rezeki dan Keberkahan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.