Berita Muaro Jambi

Puluhan Remaja Kesurupan Lukah Gilo dan Perang Dam Rajo di Depan Gubernur Jambi

Belasan orang gadis asal Desa Baru Kecamatan Marosebo Kabupaten Muaro seperti orang kesurupan. Mereka berlari kesana kemari seperti tak tau arah.

|
Penulis: Muzakkir | Editor: Suci Rahayu PK
Tribunjambi.com/Muzakkir
Malam Puncak Kenduri Swarnabhumi yang dipusatkan di objek wisata Lubuk Penyengat Desa Baru Kecamatan Marosebo Kabupaten Muaro Jambi spektakuler. 

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI -- Belasan orang gadis asal Desa Baru Kecamatan Marosebo Kabupaten Muaro seperti orang kesurupan. Mereka berlari kesana kemari seperti tak tau arah.

Mereka berlari kesana kemari dengan membawa peralatan tangkap ikan tradisional. Warga menyebutnya itu adalah lukah.

Selain gadis kesurupan dengan rambut terurai tak beraturan, belasan orang pemuda juga melakukan peperangan. Tak sedikit dari mereka ada yang terluka dan meninggal dunia.

Warga Marosebo tak bisa berbuat banyak ketika mereka tengah melakukan itu, mereka hanya bisa terdiam seribu bahasa, begitu juga dengan Gubernur Jambi H Al Haris yang kala itu ada dilokasi.

Setelah kejadian itu selesai, barulah warga dan gubernur Jambi bisa bernafas lega dan tepuk tangan.

Peragaan yang dilakukan belasan pemuda dan pemudi itu merupakan adegan drama kolosal Dam Rajo dan tarian lukah gilo yang dipersembahkan oleh panitia acara puncak Kenduri Swarnabhumi di Kabupaten Muaro Jambi, Kamis (3/8/2023) malam.

Belasan gadis yang membawa lukah itu merupakan tarian tradisional asal Desa Baru Kecamatan Marosebo Kabupaten Muaro Jambi yaitu lukah gilo.

Baca juga: Kesaksian Anggota Polairud Jambi yang Evakuasi Pengemudi Perahu Wisata Tewas di Danau Sipin Jambi

Baca juga: Rendra Minta Pemprov Jambi Hati-hati Soal Defisit dan Pertanyakan Surat Defisit

Lukah gilo ini merupakan permainan tradisional warga setempat. Dulu, permainan ini dimainkan untuk menghibur anak-anak. Biasanya permainan lukah gilo dimainkan setelah salat magrib menjelang salat isya.

Sebelum permainan dimainkan, semua kulop-kulop (anak laki-laki) dan supek-supek (anak gadis perempuan), dilarang untuk keluar rumah disaat masuk waktu salat magrib. Itulah pantangan atau syarat besar permainan ini. Sinjo buto, itulah sebutan masyarakat lokal sini.

Sinjo buto itu adalah waktu masuknya salat magrib. Dimana pada waktu itu masyarakat sini sangat mempercayai bahwa itu waktunya makhluk halus berkeliaran. Terutama yang sangat mereka takuti itu antu kopek/ wewek gombel.

Setelah sholat magrib selesai, barulah anak-anak mereka diizinkan keluar. Untuk membujuk anak-anaknya supaya gembira lagi, dimainkan lah permainan lukah gilo tersebut.

Sementara Dam Rajo merupakan cerita kerajaan yang dikhianati oleh prajuritnya sendiri. Prajuritnya itu ingin merebut kekuasaan wilayah. Setelah melakukan raja tahu, akhirnya raja murka dan terjadilah peperangan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muaro Jambi Firdaus menyebut, cerita rakyat ini memang sengaja ditampilkan dalam kegiatan Kenduri Swarnabhumi yang dikemas dalam festival Aek Telakung.

"Ini merupakan budaya, warisan yang perlu kita angkat agar tidak punah dan tinggal cerita saja," kata Firdaus.

Saat ini, kata Firdaus, ada beberapa permainan tradisional di Muaro Jambi yang sudah diusulkan hak patennya ke kementerian untuk menjadi permainan asli Muaro Jambi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved