Artificial Intelligence

Penerapan AI di Bidang Kesehatan untuk Diagnostik Kanker Payudara, Temukan Kasus Lebih Banyak

Tenologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini dimanfaatkan dalam bidang kesehatan yakni radiologi terkait risiko kanker payudara.

Editor: Darwin Sijabat
Ist/Kolase Tribun Jambi
Ilustrasi peduli kanker payudara dan teknologi AI. Tenologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. 

TRIBUNJAMBI.COM- Tenologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini dimanfaatkan dalam bidang kesehatan.

Potensi solusi terobosan masa depan dari terknologi itu di bidang radiologi terkait risiko kanker payudara.

Hal itu berdasarkan riset di Swedia yang dipublikasikan pada Selasa (1/8/2023).

Riset tersebut mendapati separuh beban kerja radiolog akan berkurang. Yakni dalam pemindaian rutin saat mencari pertanda awal kanker payudara.

Meski hasil riset dinilai menjanjikan, penelitinya tetap mengingatkan masih butuh waktu untuk penelitian lebih. Sehingga sampai AI dapat benar-benar dipakai luas untuk pemindaian (scan) kanker payudara.

Proporsi radiolog di banyak negara yang tak memadai, ada harapan bahwa AI akan membuat analisis pemindaian rutin.

Pemindaian itu untuk menyisir pertanda sel kanker menjadi lebih cepat dan makin akurat pula.

Menurut data Profil Kesehatan 2021 di Indonesia, dokter spesialis Radiologi atau radiolog tercatat berjumlah 1.763 orang dari total 43.558 dokter spesialis se-Indonesia.

Baca juga: Login Chat GPT- Cara Menggunakan Chat GPT Open AI di Microsoft Word, Selesaikan Tugas Jadi Mudah!

Baca juga: Bareskrim Polri Terima Pelaporan Rocky Gerung Oleh PDIP Soal Dugaan Hina Jokowi, Diskusi Panjang

Baca juga: Respon Anies Baswedan Soal Survei Elektabilitas di Urutan Ketiga, Dikalahkan Prabowo dan Ganjar

Adapun data kanker payudara menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) hingga 2020 ada lebih dari 2,3 juta perempuan didiagnosa menderitanya dengan 685.000 kematian diakibatkan.

Sehingga skrining rutin sangat penting untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal kanker.

Di Eropa, perempuan berusia 50 hingga 69 tahun disarankan melakukan mammogram setiap dua tahun, dengan hasil pindaian yang dianalisis oleh dua ahli radiologi.

Riset di Swedia melibatkan pemindaian terhadap 80.000 perempuan yang menjalani mammogram di empat lokasi di barat daya negara itu pada kurun April 2021-Juli 2022.

Pemindaian mereka dibagi secara acak untuk dianalisis ke sistem yang didukung AI atau ke dua radiolog yang bertugas sebagai kelompok kontrol dalam riset.

Algoritma AI membaca pindaian dan memprediksi risiko kanker dalam skala 10. Prediksinya kemudian diperiksa oleh satu radiolog.

Riset mendapati, sistem yang didukung AI menemukan kasus kanker 20 persen lebih banyak, untuk setiap seribu perempuan yang diperiksa.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved