LIPUTAN KHUSUS

Pengakuan Manusia Badut di Kota Jambi Bikin Kaget

"Awalnyo sudah keliling cari gawe, dak katek. Laju ade kawan nawari, milu jadi badut. Galak lah daripado dak begawe," tandasnya.

|
Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN
Seorang manusia badut terjaring razia tim gabungan personel Dinas Sosial Kota Jambi, Satpol PP dan Pemerintah Kecamatan Alam Barajo. Tim merazia gelandangan-pengemis (gepeng) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Jambi, Rabu (2/8) sore. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -Pengakuan manusia badut membuat kaget personel tim gabungan personel Dinas Sosial Kota Jambi, Satpol PP dan Pemerintah Kecamatan Alam Barajo. 

Hal tersebut terungkap saat tim gabungan melakukan razia terhadap gelandangan-pengemis (gepeng) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Jambi, Rabu (2/8) sore.

Tim gabungan menyisir beberapa wilayah yang disinyalir jadi lokasi keberadaan mereka.

"Kita bersama tim gabungan melakukan penyisiran di beberapa titik di kawasan Kecamatan Alam barajo. Ada beberapa titik yang menjadi target kita sore ini, satu di antaranya di kawasan Simpang Rimbo," ujar Rifki, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Jambi.

Dalam operasi kali ini, ada beberapa target yang akan dirazia. Di antaranya pengemis, manusia badut di jalanan, dan anak punk.

Itu sesuai laporan yang banyak dikeluhkan warga.

Pengakuan manusia badut

Manusia badut yang beroperasi di kawasan Jamtos, Kota Jambi, mengaku dapat mengumpulkan uang Rp500 ribu selama sepekan.

Manusia badut terjaring operasi penjangkauan PMKS di Kota Jambi.
Manusia badut terjaring operasi penjangkauan PMKS di Kota Jambi. (Tribunjambi/Abdullah Usman)

Hal itu diungkapkan lelaki berinisial AC (34) yang terjaring razia Dinas Sosial Kota Jambi.

Dia mengaku berasal dari daerah Sekayu Sumsel.

Hampir setiap hari AC mengais rezeki dengan mengharap iba orang yang lewat di kawasan Sipin.

Dia mendapat ide menjadi manusia badut dari rekannya yang juga seorang badut jalanan. "Awalnyo sudah keliling cari gawe, dak katek.

Laju ade kawan nawari, milu jadi badut. Galak lah daripado dak begawe," tandasnya.

Di tengah kondisi sulitnya mencari pekerjaan, menjadi manusia badut seolah menjadi pilihannya untuk menghidupi istri dan dua anaknya.

"Dalam seminggu itu bisa mengumpulkan hingga Rp500 ribu, termasuk untuk biaya susu anak, kontrakan Rp600 ribu per bulan dan makan, biaya jajan, serta makan minum," tuturnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved