Kisah Mualaf Haji Rusli, Logika Sebagai Pengantar Hidayah dan Perjuangan Menaklukan Hati ibu

Rusli menceritakan awal mula ia mempelajari Islam karena ingin mendapatkan nilai agama di bangku sekolah dahulu.

Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Rahimin
tribunjambi/yon rinaldi
H Rusli pendiri Mesjid Muhammad Cheng Hoo. 

Jika Allah berkehendak ada banyak jalan hingga hidayah masuk ke hati seseorang. Hal ini dialami H Rusli pendiri Mesjid Muhammad Cheng Hoo ini.

H Rusli mengatakan, logikalah sebagai pengantar hidayah masuk ke dalam lubuk sanubarinya hingga ia mengenal Islam dan menerima Islam sebagai tuntunan hidupnya.

"Ternyata ajaran Islam ini masuk logika saya, hingga saya memeluk Islam 1990 silam," katanya membuka pembicaraan kepada Tribunjambi.com, Rabu (22/3/2023).

Rusli menceritakan awal mula ia mempelajari Islam karena ingin mendapatkan nilai agama di bangku sekolah dahulu.

Di mana, Konghucu agama ia sebelumnya belum diakui sebagai sebuah agama sehingga tidak ada mata pelajarannya saat itu.

"Saat itu pelajaran agama di Jambi hanya ada tiga, untuk Islam di kelas sedangkan non muslim bisa ke wihara atau gereja," ujarnya.

"Jadi cuma tiga itu pilihnya, dan saya memilih untuk ikut kelas agama Islam karena lebih praktis dan tidak memerlukan waktu khusus, tinggal masuk aja ke kelas," ungkapnya.

Pilihan Rusli kala masih duduk di bangku kelas 1 SD tersebut disampaikan ke guru agamanya saat itu.

Di mana, sang guru sempat ragu untuk mengijinkan Rusli mengikuti kelasnya.  Hingga kegigihannya membuat luluh hati guru agama Islam itu.

Baca juga: Wisata Jambi - Selain Wisata Religi, Masjid Cheng Hoo Hadirkan Sejarah Perjalanan Laksamana Cheng Ho

Gurunya sangat toleransi sekali. Di mana, ia dibolehkan mengikuti pelajaran agama namun tidak di wajibkan untuk menghapal doa dan membaca Alquran.

"Nah, ini lah yang saya sesalkan sekarang, kalau bakal tau hidaya akan datang kepada saya, tentu kala itu saya akan belajar mengaji dan menghapal doa-doa," katanya sembari tersenyum.

Mempelajari tentang agama Islam ternyata tidak berhenti sampai di bangku sekolah dasar saja, di SMP dia terus mengikuti pelajaran agama Islam hingga lulus.

Umat Islam melakukan Salat Tarawih di Masjid Cheng Hoo Jambi.
Umat Islam melakukan Salat Tarawih di Masjid Cheng Hoo Jambi. (Tribun Jambi/Monang Widyoko)

Tahun terahir SMP inilah kemampuan berlogika Rusli mulai berkembang.

Ia mulai menemukan banyak kebaikan di ajaran Islam. Namun, tidaklah seseorang mengaku beriman tanpa diuji keimanan oleh Allah SWT.

Di bangku SMA tepatnya di kelas 1 ia mulai mendapatkan ujian. Di mana, ia mendapatkan perundungan dari teman- temannya.

Sebab, ia dianggap membahayakan nyawanya, pihak keluarga akhirnya memindahkannya ke sekolah metodis yang ada di Kota Palembang.

Di sekolah barunya tersebut ia mempelajari agama Kristen secara intens selama dua tahun.

"Jadi saya ini telah mempelajari 3 agama hingga memutuskan memeluk Islam," ujarnya kepada Tribunjambi.com.

Keputusannya memeluk Islam datang saat ia bekerja di perusahaan sawit yang ada di Provinsi Jambi. kala itu ia mulai berfikir tantang Islam lebih mendalam.

Hal pertama yang ia kagumi adalah Islam itu mengatur semua sendi kehidupan, dari yang terkecil hingga besar.

Baca juga: Wisata Jambi - Masjid Cheng Ho, Destinasi Wisata Wajib Ketika ke Jambi

"Contoh sederhana saja, seperti buang air. Di Islam semua diatur dengan jelas dan detail sedangkan di agama saya dahulu tidak ada yang mengatur sedetail ini," ujarnya.

Rusli menambahkan, yang membuat ia yakin dengan Islam adalah mengenai ajaran nya tentang etika dan prinsip hidup.

Keimanan Diuji

Sebagai orang Cina ia tentunya diajari berbagai prinsip hidup yang sangat baik, sehingga membuat orang Cina bisa sukses menjalani hidup di dunia ini.

"Ajaran seperti harus berbuat baik, jujur, ulet hingga tidak boleh menyakiti orang lain itu menjadi pegang hidup orang Cina yang di ajarkan turun temurun," katanya. 

Sedangkan di Islam semua ajaran kebaikan yang hampir mirip tersebut tercatat dengan baik. "Jadi literasi nya  sangat jelas," ujarnya. 

Hal inilah yang membuat ia yakin dan memutuskan untuk masuk Islam.

Saat telah mantap memeluk Islam ia mencari guru agama di kala SMP untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Di bawah bimbingan guru agama itulah ia dituntut memeluk Islam.

Kali ini keimanannya sekali lagi diuji, ujian terberatnya datang dari keluarga yang mana sebagai anak laki-laki bungsu menjadi harapan keluarga.

Baca juga: H-1 Ramadan Warga Desa Tuo Ilir Tebo Berburu Daging Kerbau untuk Berbuka Puasa

"Ibu saya itu memiliki keinginan untuk menghabiskan masa tuanya bersama saya, mengetahui saya memeluk Islam itu membuat dia sangat terpukul," ujarnya.

Keislaman Rusli memang tidak di ditunjukkannya secara frontal, ia lebih memilih menyembunyikan keislamannya di tahun-tahun awal di bersahadat.

Hingga ia memberanikan diri untuk menyatakan ke Islamnya kepada ibunya.

"Rasa kecewa sangat terlihat di wajahnya kalah itu," ujar Rusli dengan penuh ketegaran.

Berkat ilmu keislaman yang dia pelajari bertahun-tahun di bangku sekolah membuat ia paham bagaimana memperlakukan orang tua khususnya ibu.

"Ibu itu memiliki kedudukan yang sangat baik di Islam dan saya paham betul bagaimana kita dituntut untuk memuliakan seorang ibu," ujarnya.

Itulah kenapa ia tidak pernah membantah sekalipun saat ibunya marah tentang ke Islamnya.

Rusli menceritakan saat ibunya marah ia hanya diam mendengarkan, saat sudah tidak tahan lagi ia mencari cara untuk pergi.

"Ya kalau sudah tidak tahan lagi, kita coba untuk pergi sejenak, ketika sudah rendah kita kembali lagi," ungkapnya.

Hal ini pun terus di lakukanya tanpa sekalipun berpikir untuk meninggalkan ibunya, walaupun saat itu ia sudah memiliki penghasilan sendiri.

Kondisi inilah yang secara tidak langsung mengajarkan ia tentang kesabaran dan melembutkan hati.

Rusli bilang ia memiliki watak yang cukup keras, jika sudah menginginkan sesuatu harus didapatkan.

Namun, setelah mengenal Islam dan di tempa secara langsung sehingga membuat dia lebih bijak dan lebih lembut dalam bersikap.

Hal inilah yang membuat ibunya tetap tinggal bersamanya walaupun ia telah menikahi temannya kala SMP yang juga beragam Islam.

Rusli mengatakan bagi seorang mualaf itu penting sekali lingkungan yang  mendukung agar bisa menguatkan dari ujian yang Allah berikan.

Masjid Cheng Hoo, Kota Jambi.
Masjid Cheng Hoo, Kota Jambi. (TribunJambi.com)

"Saya bersyukur memiliki istri yang kuat dan sabar dalam menemani saya menjalani ujian selama ini," katanya.

Rusli mengatakan, tinggal dengan ibu yang tidak seagama bukanlah perkara yang mudah khususnya dalam hal makanan.

Sebagai seorang muslim, tentu ia harus menjaga makanannya dari sesuatu yang haram.

Kondisi ini membuat ibunya memutuskan untuk tinggal dengan kakaknya. 

Tentu ini membuat Rusli menjadi sangat terpukul, namun keadaan ini justru membuat ia menjadi lebih dekat dengan ibunya.

"Setelah ibu pindah, tentu membuat saya lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk mengunjunginya tentunya dengan membawa suruh keluarga saya," katanya.

Perjuangan Rusli yang gigih membuatnya mendapatkan restu dari orang tuanya hingga mengantarkan ia menjadi pengusaha sukses saat ini.

Dari ke gigihnya tersebut, saat ini ia berhasil mendirikan mesjid Muhammad Cheng Hoo di kawasan Kota Baru Jambi.

Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Megawati Jadi Mualaf, Sudah Lama Cinta dengan Islam

Baca juga: Jamaah Salat Zuhur Masjid Nurdin Hasanah Batal Bubar Usai Mendengar Seorang Mualaf akan Bersyahadat

Baca juga: Ramadan Hari Pertama, Satu Mualaf Bersyahadat di Masjid Nurdin Hasanah Kota Jambi

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved