Asap Rokok Penyebab Stunting

Paparan asap rokok juga dapat menghambat tumbuh kembang anak akibat terganggunya penyerapan asupan gizi.

Editor: Rahimin
ist
Kantor BPS - Asap Rokok Penyebab Stunting 

Satu masalah lingkungan yang sampai saat ini masih sangat sulit untuk dikendalikan adalah asap rokok.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang tinggal bersama “asap rokok” atau orang tua perokok kronis cenderung memiliki anak-anak yang pendek atau kerdil.

Berdasarkan hasil Indonesia Family Life Survey (IFLS), yang dilakukan oleh lembaga FE UI secara panel selama 2007-2014, Orang tua perokok kronis memiliki probabilita mengalami stunting 5,5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok.

Ditemukan bahwa anak-anak cenderung memiliki pertumbuhan yang lebih lambat dalam berat dan tinggi badan jika tinggal bersama di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien dibandingkan anak-anak yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0,34 cm lebih tinggi daripada mereka yang tinggal dengan orang tua perokok kronis (p2ptm.kemenkes.go.id, 25 Juni 2018).

Komoditi rokok tidak hanya menguasai pasar di Indonesia, tetap juga di Provinsi Jambi. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, rokok memang menjadi salah satu primadona dalam pengeluaran rumah tangga.

Rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar konsumsi nasional termasuk di Provinsi Jambi.

Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan komoditi rokok Provinsi Jambi (Susenas Maret 2021) sebesar 83 ribu rupiah, nomor dua terbesar setelah komponen makanan dan minuman jadi yang sebesar 160 ribu rupiah.

Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan komoditi rokok tertinggi ada di Sungai Penuh sebesar 111 ribu rupiah atau 8,84 persen dari total pengeluaran per kapita sebulan penduduk Kota Sungai Penuh.

Kemudian diikuti oleh Kabupaten Kerinci dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan komoditi rokok sebesar 98 ribu rupiah atau 8,66 persen dari total pengeluaran per kapita sebulan penduduk.

Jumlah konsumsi rokok tentu saja sebanding dengan produksi asap yang dihasilkan. Menurut penelitian, asap rokok mampu bertahan kurang lebih empat jam di udara dan bahkan bisa menempel berhari-hari pada permukaan media yang ada di sekitarnya.

Hal ini mengindikasikan bahwa asap rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok pasif (second hand smoker) bahkan juga bagi individu yang terpapar residu asap rokok (third hand smoker).

Paparan asap rokok sangat berbahaya terutama pada ibu hamil dan anak-anak yang sistem imunnya masih belum sempurna.

Asap dapat rokok menyebabkan ibu hamil berisiko untuk melahirkan anak prematur, keguguran, bayi lahir dalam kondisi meninggal, ataupun melahirkan dengan berat badan lahir rendah (berat badan saat lahir kurang dari 2.500 gram).

Selain itu, paparan asap rokok juga dapat menghambat tumbuh kembang anak akibat terganggunya penyerapan asupan gizi.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved