Berita Batanghari

157 Kasus Kerbau Ngorok di Kabupaten Batanghari Tercatat di iSIKHNAS

157 ekor kerbau menurut sistem informasi kesehatan hewan Indonesia (iSIKHNAS) di Kabupaten Batanghari terserang penyakit ngorok atau Septicemia Epizoo

Penulis: A Musawira | Editor: Suci Rahayu PK
Tribunjambi.com/Musawira
Petugas Puskeswan sedang melakukan pengobatan terhadap kerbau yang terpapar penyakit ngorok. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Sebanyak 157 ekor kerbau menurut sistem informasi kesehatan hewan Indonesia (iSIKHNAS) di Kabupaten Batanghari terserang penyakit ngorok atau Septicemia Epizootica (SE).

Ratusan ekor yang terpapar penyakit kerbau ngorok tersebut terhitung dari Agustus hingga Desember 2022.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batanghari, Awaludin Sofwanto mengatakan kasus penyakit kerbau ngorok tersebut terdapat di Kecamatan Maro Sebo Ulu, Mersam, Batin XXIV, Muara Tembesi dan Kecamatan Muara Bulian.

Petugas Puskeswan sedang melakukan pengobatan terhadap kerbau yang terpapar penyakit ngorok.
Petugas Puskeswan sedang melakukan pengobatan terhadap kerbau yang terpapar penyakit ngorok. (Tribunjambi.com/Musawira)

“Ada 5 kecamatan wilayah yang terpapar penyakit ngorok, yang paling dominan di Kecamatan Maro Sebo Ulu berjumlah 36 kasus,” katanya pada Rabu (4/1/2022).

Data secara keseluruhan itu dilaporkan dari petugas Puskeswan yang ada di empat kecamatan di Batanghari.

Petugas tersebut juga memberikan pelayanan kesehatan hewan pada ternak-ternak petani baik yang terpapar dan yang tidak.

Rozy Zay Hakiki Laporkan Norma Risma Ke Polisi, Bantah Isu Berzina dengan Ibu Mertuanya Sendiri

Baca juga: Umat Hindu di Sadu Tanjabtim Rayakan Hari Raya Galungan

“Di Muara Bulian kita telah melakukan pengobatan sebanyak 80 ekor dan di Maro Sebo Ulu 531 ekor baik terhadap ternak terjangkit dan yang masih sehat,” ujarnya.

Ia mengatakan akibat penyakit kerbau ngorok beberapa ternak dengan kondisi parah ada yang mati karena mungkin disebabkan kondisinya sangat drop.

“Angka kematian terhadap kerbau sendiri sangat rentan. Berbeda kasus PMK yang menyerang sapi tingkat kesembuhannya lebih tinggi karena banyak juga mengalami kesembuhan. Tapi kita belum mendapat data secara keseluruhan,” pungkasnya. (Tribunjambi.com/Musawira)


Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Rozy Zay Hakiki Laporkan Norma Risma Ke Polisi, Bantah Isu Berzina dengan Ibu Mertuanya Sendiri

Baca juga: Antusias Masyarakat Sambut Kedatangan Edi Purwanto di Stand UMKM Jambi Mantap Expo

Baca juga: Beberapa Faktor Penyebab Ikan Sungai Batanghari Terancam Punah

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved