Pentingnya Pendidikan untuk Suku Anak Dalam Jambi

Sekolah Alam Putri Tijah yang beralamat di Dusun Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

Editor: Suci Rahayu PK
ist
SEKOLAH SAD-Guru dan murid-murid sekolah Alam Putri Tijah foto bersama managemen PT SAL serta awak media, Sabtu (10/09/2022) 

TRIBUNJAMBI.COM - Pemerataan pendidikan menjadi satu di antara fokus pemerintah saat ini. Untuk mewujudkannya diperlukan kerjasama semua pihak.

Ketika pendidikan ini dapat dikerjasamakan dengan baik maka tentu akan memberikan sumbangsih secara signifikan dalam pembangunan sumber daya manusia.

Selain itu pendidikan juga menjadi kunci kemajuan sebuah komunitas, tidak terkecuali komunitas adat terpencil seperti Suku Anak Dalam (SAD) yang biasa juga disebut sebagai Orang Rimba.

MENGAJAR - Rismawan saat mengajar anak-anak Suku Anak Dalam di sekolah Alam Putri Tijah, di Dusun Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
MENGAJAR - Rismawan saat mengajar anak-anak Suku Anak Dalam di sekolah Alam Putri Tijah, di Dusun Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi (ist)

Adalah Sekolah Alam Putri Tijah yang beralamat di Dusun Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

Sekolah ini didirikan oleh PT Sari Aditya Loka 1 (SAL-1), perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan pengolahan minyak sawit, yang merupakan satu di antara anak perusahaan PT Astra Agro Lestari, Tbk.

Sekolah ini berada di Penyangga Taman Nasional Bukit Dua Belas. Untuk menuju ke lokasi ini bisa menggunakan mobil dari Kota Jambi dengan waktu tempuh sekira tujuh hingga delapan jam.

Di sekolah ini diajarkan kebersihan, baik kebersihan pribadi maupun kebersihan lingkungan. Kebersihan pribadi yang diajarkan adalah mandi, memotong rambut dan memotong kuku.

Sedangkan kebersihan lingkungan yang diajarkan adalah kebersihan lingkungan sekolah.

Sekolah yang telah berdiri sejak 2009 ini telah mengalami perubahan yang mencolok. Setiap tahun jumlah siswa semakin meningkat dan kesadaran akan pendidikan juga semakin meningkat.

Baca juga: Alasan Sopir Truk Angkutan Batubara Langgar Jam Operasional, Polres Batanghari Amankan 11 Armada

Baca juga: Dua Jenazah Terjebak, Sopir Truk Batu Bara Meninggal Saat Macet di Jalan Batanghari-Sarolangun

Sekolah ini terdiri atas tiga tingkatan pendidikan, yaitu Pendidikan Dasar, Menengah, dan Atas.

Ahmad Rismawan merupakan pria berusia 22 tahun yang menjadi salah satu pengajar di Sekolah ini. Wawan, begitu sapaan akrabnya, adalah warga asli Kota Jambi, yang lahir dan besar di Kabupaten Sarolangun.

Salah satu alasan Wawan tertarik ikut di pemberdayaan SAD, karena adanya pandangan negatif masyarakat tentang beberapa anak-anak SAD. Seperti isu mencuri buah-buahan atau barang yang bukan haknya ketika sedang berjalan di lingkungan masyarakat desa sekitar.

“Dari situ saya bertekad ingin menghapuskan stigma negatif tersebut di masyarakat, dan meyakinkan kepada mereka bahwa anak-anak SAD juga mampu dididik dengan baik," kata Wawan.

Selama satu tahun bergabung sebagai pengajar, Wawan harus menempuh empat jam perjalanan pulang pergi untuk sampai sekolah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved