Mengenal Apa Itu Penyakit Kejiwaan OCD Bersama Psikolog Jambi
Anak menjalani kepahitan hidup bisa menimbulkan efek traumatik yang ini membekas hingga masuk masa dewasanya.
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMNI.COM,JAMBI - Masa anak usia dini adalah masa keemasan dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan diperoleh seorang anak bersama anggota keluarga dan teman-teman sebayanya sehingga seringkali orang ingin mengulang masa-masa yang telah mereka lalui ini.
Akan tetapi tidak semua anak mendapat takdir yang sama dengan limpahan kasih sayang dari lingkungan sekitar. Ada beberapa anak yang dalam kehidupannya menjalani proses yang berat, semisal perceraian orang tua, dibully dan sebagainya.
Ternyata, masa anak ada yang harus menjalani kepahitan hidup bisa menimbulkan efek traumatik yang ini membekas hingga masuk masa dewasanya.
Tentu saja akan muncul dampak psikologis seumpama mengalami masalah gangguan obsesif kompulsif atau yang dikenal juga dengan OCD.
Menurut Ridwan, Psikolog Jambi yang juga selaku ketua PRODI PIAUD FTK UIN Jambi dalam dialognya menuturkan gangguan OCD ini termasuk peringkat tertinggi setelah gangguan phobia, kecanduan zat adiktif serta gangguan depresi.
"Rata-rata usia yang mengalami gangguan ini sekitaran 20 tahun dan pada pria rata-rata di usia 19 tahun dan wanita di usia 22 tahun dan remaja laki-laki lebih rentan dari pada remaja perempuan mengidap OCD," ujarnya Rabu (2/8/2022) di program Mojok Tribun Jambi.
Baca juga: Mendidik Buah Hati Pintar Makan Sendiri dari Usia Dini
Ridwan melanjutkan kalau gangguan OCD ada kaitannya dengan area tertentu di otak sebagaimana sebuah studi dari University of Cambridge, Inggris. Pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif, menunjukan bahwa bagian orbitofrontal cortex orang dengan OCD tidak bekerja semestinya. Kegiatan orbitofrontal cortex bagian lateral yang seharusnya menjadi pusat pengambil keputusan itu tidak teraktivasi secara komplet.
Meski masih dipertanyakan cara kerjanya, banyak penelitian yang mendukung adanya hipotesis bahwa disregulasi serotonin berpengaruh pada pembentukan gejala gangguan OCD, seretonin sendiri merupakan hormon yang dapat meningkatkan rasa senang dan nyaman.
OCD merupakan indikasi gangguan mental. Orang dengan OCD memiliki pikiran dan dorongan yang tidak dapat dikendalikan dan berulang (obsesi), serta perilaku (paksaan) kompulsif. Misalnya, keinginan yang kuat untuk terus melakukan cuci tangan hingga berkali-kali dalam sehari setelah menyentuh benda kotor dan pikiran yang muncul diluar kendalinya meskipun ia sendiri tidak ingin memikirkan dan melakukan hal diluar keinginannya.
Faktor Risiko terjadinya OCD meliputi faktor keturunan, struktur otak dan fungsinya, serta lingkungan termasuk juga kepribadian. Hal yang siginifikan mempengaruhi adalah lingkungan yang tidak mendukung perkembangan psikologis penderita dimasa kecilnya, yakni saat anak diperlakukan tidak wajar, dimana ia sering diremehkan atau bahkan dihina kekurangan yang ada pada dirinya sehingga ada keinginan untuk berpikir dan melakukan yang terbaik.
Baca juga: Punya Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kata Psikolog
OCD bisa menyerang siapapun, baik itu anak-anak, remaja dan orang dewasa. OCD diduga terjadi karena ada gen tertentu yang diturunkan oleh orang tua yang memengaruhi perkembangan otak seseorang. Sementara itu, kepribadian juga menyumbang resiko terjadinya OCD
Orang yang dengan tampilan rapi, teliti, perfeksionis, serta memiliki disiplin tinggi berisiko lebih besar mengalami OCD.
Orang dengan OCD akan mengalami gangguan dalam aspek kehidupannya seperti pekerjaan, sekolah, dan hubungan pribadi. Obsesi sendiri adalah sebuah pikiran yang berulang, dorongan, atau gambaran mental yang memunculkan kecemasan.
Sementara itu, kompulsi adalah perilaku berulang seseorang yang mana ia merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif. Kompulsi umum termasuk pembersihan berlebihan dan/atau mencuci tangan dan mengatur sesuatu dengan cara yang khusus dan tepat. Penderita juga bisa berulang kali memeriksa berbagai macam hal, seperti pemeriksaan berulang kali untuk melihat apakah pintu sudah terkunci atau kompor sudah mati.
Gejala OCD sendiri bisa hilang dan timbul, seiring berjalannya waktu, atau bahkan jadi memburuk pada individu tertentu, akibatnya ada yang berupaya meminum alkohol dan obat-obatan demi meredakannya yang tentunya dapat menimbulkan masalah lain lagi. Orang dewasa pengidap OCD sebagian besar mengerti apa yang dilakukan di luar akal sehat, tetapi beberapa lainnya khususnya anak mungkin tidak menyadari bahwa perilaku mereka di luar kebiasaan.