Ketika Big Data Menjadi Pendukung Fenomena
Data dianggap hal penting dalam perencanaan sebuah kegiatan, menjadi penentu dalam pengambilan kebijakan dan dasar untuk sebuah publisitas.
Era pandemi Covid-19 menjadi momen penting bagi bidang kesehatan untuk memanfaatkan big data. Dengan data riil time, jumlah yang terpapar virus korona bisa dilihat sewaktu waktu.
Masyarakat dengan mudah mengunjungi situs khusus bagi korban Covid-19, melihat daerah mana dengan sebaran kasus covid terbanyak serta pergerakan statistik berapa yang meninggal dunia dan berapa yang bisa sembuh.
Pihak lain yang memanfaatkan big data adalah para pelaku bisnis retail. Dengan menggunakan teknologi canggih mereka mampu mempelajari pasar dan perubahan perilaku konsumen.
Misalnya konsumen meriset topik-topik menu kekinian yang mereka inginkan, dengan ulasan “makanan hits tahun 2022”. Ketika pengusaha menangkap peluang ini mereka akan membuat menu makanan yang sesuai selera pasar.
Era digitalisasi juga merambah dunia konstruksi. Pemanfaatan big data untuk pembangunan konstruksi mengedepankan kombinasi antara voluntary dan mandatory yang mampu mempercepat pembangunan fisik jalan dan jembatan.
Juga digunakan teknologi sensor untuk dimasukkan dalam jembatan baru yang bisa memberikan umpan balik yang berkesinambungan mengenai kondisi terkini strukturnya.
Big data dari sensor ini mampu membantu tim desain untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah sebelum jembatan membahayakan keamanan masyarakat umum.
BPS juga tidak ingin ketinggalan jaman. Lewat kedeputian Metodologi dan Informasi Statistik (MIS), BPS membangun big data untuk menjadi pendukung official statistic.
Pemanfaatan big data diwujudkan dalam bentuk pengumpulan data melalui crawling, scraping dan pengambilan sumber lain dari operator seluler atau aplikasi peduli lindungi.
Crawling data mengambil data dari internet dengan mengakses media sosial seperti facebook atau twitter. Sedangkan scraping lebih pada mengekstraksi sebuah data lewat website tertentu.
Big data juga digunakan BPS untuk menambah fenomena perekonomian. Google trend atau Google Mobility Indeks (GMI) sering dimanfaatkan untuk melihat pergerakan mobilitas masyarakat.
Selama pandemi, pengetatan aturan perjalanan membuat mobilitas berkurang, seiring berlakunya protokol kesehatan dan masifnya vaksinasi maka pelonggaran PSBB dan PPKM pun dijalankan. Hal ini bisa ditangkap lewat teknologi big data.
Dengan bantuan GMI dapat diamati kecenderungan pergerakan masyarakat. Apabila retail&recreation dalam label indeks GMI sudah ramai maka dipastikan perekonomian mulai pulih.
Dalam hal ini ada 5 tempat dalam GMI yang bisa diukur pergerakannya yaitu : residential&workplace, groceries&farmacy, parks, retail&recreation serta transit station.
Demikian juga untuk melihat perubahan pada usaha penyediaan akomodasi dan makan minum. BPS menangkap visualisasi dari pergerakan pemesanan hotel dan restoran. Apakah trend nya mengalami kenaikan atau penurunan.