Tips Kesehatan

Apa Itu OCD? Gangguan Kesehatan Mental yang Diidap Aliando Syarief dan Prilly Latuconsina

OCD didefinisikan sebagai gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang terjebak dalam siklus obsesi dan kompulsi.

Editor: Nurlailis
Kolase
Prilly Latuconsina dan Aliando Syarief public figure yang mengidap OCD 

TRIBUNJAMBI.COM - Beberapa waktu lalu Aliando Syarief mengungkap bahwa dirinya mengidap obsessive compulsive disorder (OCD).

Rupanya bukan hanya Aliando Syarief saja, Prilly Latuconsina, Rina Nose, Olla Ramlan dan Afgan juga mengidap OCD.

Lantas apa OCD sebenarnya? Bagaimana OCD berpengaruh pada penderitanya?

Melansir laman International OCD Foundation, OCD didefinisikan sebagai gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang terjebak dalam siklus obsesi dan kompulsi.

Obsesi ditandai dengan pikiran dan dorongan yang tidak diinginkan serta mengganggu. Hal ini kemudian memicu perasaan resah dan tidak nyaman.

Guna menyingkirkan atau mengurangi obsesi tersebut, seseorang akan melakukan sesuatu. Perilaku ini disebut sebagai kompulsi.

Meski demikian, tidak semua orang bisa didiagnosis mengidap OCD dengan mengalami siklus tersebut. Salah satu indikasi lain dari gangguan kesehatan mental ini adalah siklus obsesi-kompulsi berlangsung secara ekstrem dan berulang-ulang sehingga mengganggu aktivitas sosial, seperti bekerja.

Faktor pemicu atau trigger OCD sebenarnya beragam. Namun, pemicu umum yang sering dialami seseorang berkaitan dengan keteraturan dan kebersihan atau higienitas. Sebagai contoh, apa yang dialami oleh Aliando.

Ia mengaku memiliki kebiasaan menata sampah dengan rapi sebelum dibuang. Jika tidak ditata terlebih dulu, ia merasa tidak tenang.

Selain kebiasaan itu, Aliando juga memiliki simtom OCD lain, seperti menyusun kulit kuaci, mengulang-ulang lagu, dan mengepalkan tangan hingga perasannya tenang.

Baca juga: Prilly Latuconsina Tak Tahu Aliando Syarief Alami Gangguan Kesehatan Mental: Nggak Berani Komentar

Faktor risiko dan terapi

Melansir laman Mayo Clinic, OCD memiliki sejumlah faktor risiko. Pertama, gangguan zat kimia pada otak dan riwayat keluarga dengan gangguan OCD. Kedua, trauma terhadap sesuatu hal. Ketiga, memiliki gangguan kesehatan mental lain.

Adapun OCD tidak dapat disembuhkan seratus persen. Meski demikian, penyintas OCD bisa menjalani dua terapi utama, yakni psikoterapi dan medikasi, agar bisa mengurangi siklus obsesi-kompulsi.

1. Psikoterapi

Jenis psikoterapi yang dianggap paling efektif untuk penyakit OCD adalah cognitive behavioral therapy atau CBT. Terapi ini menerapkan metode exposure and response prevention (ERP).

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved