Breaking News:

Tim Kejari Heran Ada Uang Rp 230 Juta di Brankas Bendahara KPU Tanjab Timur

Temuan uang Rp 230 juta di brankas KPU Tanjab Timur masih menjadi tanya tanya. Tim Kejari Tanjab Timur masih menyelidiki asal duit ratusan juta itu

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Rahimin
ABDULLAH USMAN/TRIBUNJAMBI.COM
Kasi Pidsus Reynold bersama Kasi Intel Kejari Arsyad memberikan penjelasan kepada awak media, terkait kasus dugaan korupsi dana hibah KPU pada pilkada 2020. Tim Kejari Heran Ada Uang Rp 230 Juta di Brankas Bendahara KPU Tanjab Timur 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Tim Kejaksaan Negeri Tanjab Timur masih menyelidiki terkait temuan uang tunai Rp 230 juta dalam brankas bendahara KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Tim Kejaksaan Negeri Tanjab Timur heran ada uang dalam jumlah banyak tersimpan dalam brankas.

Sebab, ada UU (undang-undang) yang mengatur terkait jumlah uang tunai untuk keperluan kantor. 

Terkait keberadaan uang cas tersebut, kejari sebut ada aturan aturan sesuai UU berapa jumlah uang cas yang ada dalam satu kantor. (yang dapat digunakan sebagai keperluan kantor).

"Terkait jumlahnya memang sudah diatur maksimal tidak boleh lebih dari Rp 100 juta. Sedangkan yang kita temukan jumlahnya mencapai Rp 200 juta lebih," ujar Kajari Tanjab Timur Rahmad Surya Lubis melalui Kasi Pidsus Reynold, Kamis (30/9/2021)

"Untuk kejelasan lebih lanjut terkait uang tersebut uang apa dan untuk apa, masih kita selidiki lebih lanjut," sambungnya.

Lanjutnya, untuk uang tersebut saat ini telah di titipkan ke kas daerah sampai sudah ada putusan pengadilan di fakta persidangan.

"Nanti akan kita tanyakan ke Bendahara KPU Kabupaten Tanjab Timur terkait dengan uang Rp 230 juta tersebut," ujarnya.

Selain itu saat ini tim penyidik Jaksa sedang melakukan pendalaman kasus dengan melakukan pemeriksaan terhadap berkas yang berhasil disita sebagai barang bukti. 

Dalam berkas-berkas itu, ditemukan sejumlah dokumen terkait dengan  perjalanan dinas fiktif, seperti SPJ dan beberapa kwitansi kosong yang ada tanda tangan, namun tidak ada rinciannya.

"Termasuk terkait temuan 50 stempel yang masih basah berhasil disita. Menurut KPU, bahwa stempel itu sudah ada sejak 5 tahun yang lalu. Namun penyidik masih menemukan kejanggalan," ujarnya.

Soal proses pemeriksaan dan penggeledahan yang dilakukan secara tiba tiba, dan terkesan tanpa prosedur dan sprindik, Reynold menjelaskan, penggeledahan sudah sesuai dengan sprindik yang diterbitkan di akhir Agustus 2021, sedangkan leadnya pada Juli 2021.

"Sudah merasa cukup bukti, jadi kita ekspos bersama-sama, dan kita tingkatkan ke tahap penyidikan," pungkasnya. 

Seperti diketahui, pasalnya saat proses penggeledahan di kantor KPU Tanjab Timur, tim gabungan kejari tidak hanya mengamankan berkas dan barang elektronik. Namun juga segepok uang tunai yang angkanya mencapai Rp 230 juta dari brankas bendahara.

Baca juga: Sehari Pasca Penggeledahan oleh Kejari, Kantor KPU Tanjabtim Beroperasi Seperti Biasa

Baca juga: Ruang Ketua dan Sekretaris KPU Tanjabtim Disegel Kejari

Baca juga: BREAKING NEWS Kejari Tanjabtim Geledah Kantor KPU Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved