Berita Tebo

Tradisi Sesadingon di Suku Anak Dalam (SAD) Tebo Bikin Mereka Terhindar dari Covid-19

Menurutnya, salah satu alasan SAD tidak terpapar Covid-19 karena mereka tinggal di hutan. Selain itu, SAD masih menerapkan tradisi yang mereka sebut

Penulis: HR Hendro Sandi | Editor: Suci Rahayu PK
ist
Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARATEBO - Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) Tebo, Ahmad Firdaus mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan warga Suku Anak Dalam ( SAD) di wilayah Kabupaten Tebo, yang terpapar Covid-19.

"Sejauh ini belum ada informasi SAD terpapar Covid-19," kata Firdaus, Selasa (3/8/2021).

Menurutnya, salah satu alasan SAD tidak terpapar Covid-19 karena mereka tinggal di hutan.

Selain itu, SAD masih menerapkan tradisi yang mereka sebut Sesadingon.

Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalamkelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.
Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalamkelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. (ist)

Dijelaskannya, Sesadingon atau sesadingan merupakan tradisi SAD untuk menghindari penyakit menular, yakni menjaga jarak atau memisahkan diri dari kelompoknya.

Tradisi ini kata dia, sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka dahulu.

"Biasanya kalau ada yang sakit, yang sakit itu langsung memisahkan diri dari kelompoknya. Tujuannya agar penyakit tersebut tidak menular ke yang lainnya," sebutnya.

Selama pandemi ini SAD, lebih memperketat tradisi sesadingon.

Tidak hanya yang sakit, namun bagi warga mereka yang berada diluar atau yang berpergian ke luar hutan, saat ingin kembali harus menjalani isolasi selama satu Minggu.

Baca juga: IN (16) 2 Kali Kabur Untuk Temui Pacarnya dari Game FF, Ibunya di Jambi Temukan Nomor HP Pria di FB

Baca juga: Adat Sesandingon SAD di Tebo Efektif Cegah Virus, Bagaimana Caranya?

"Meskipun kondisinya sehat, tetap saja siapa pun yang baru pulang (masuk ke hutan) harus memisahkan diri selama seminggu, begitu juga dengan Temenggung. Setelah itu baru diperbolehkan berkumpul dengan keluarga dan kelompoknya," bilangnya.

Sementara Pemimpin SAD Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi, Temenggung Ngadap mengaku, meski kelompok SAD yang dia pimpin tinggal di dalam hutan, namun mereka telah mengetahui informasi tentang bahaya dan cara penyebaran Covid-19.

"Kalau kena Corona (Covid-19) itu tanda-tandanya sesak napas, penciuman hilang, rasa juga hilang. Apa yang dimakan rasanya hambar semua. Cara penyebarannya melalui orang luar yang terkena (terpapar) Corona," ungkap Temenggung.

Sejak adanya Covid-19, Temenggung mengaku membatasi diri berhubungan dengan orang luar atau orang diluar kelopaknya.

Alasannya, mereka takut tertular virus yang semakin pandemi tersebut.

"Kalau tidak ada urusan yang sangat penting, tidak satu pun dari kita yang keluar hutan. Kita harus jaga-jaga jangan sampai ketemu orang yang terkena Corona, bisa tertular," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved