Breaking News:

Berita Tebo

Adat Sesandingon SAD di Tebo Efektif Cegah Virus, Bagaimana Caranya?

Sejak dulu warga Suku Anak Dalam (SAD) sudah biasa menerapkan isolasi mandiri jika terjadi wabah, mereka melakukan Sesadingon.

Penulis: HR Hendro Sandi | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Hendro Sandi
Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi 

Adat Sesandingon SAD di Tebo Efektif Cegah Virus, Bagaimana Caranya?

TRIBUNJAMBI.COM, MUARATEBO - Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) Tebo, Ahmad Firdaus mengatakan, sejak dulu warga Suku Anak Dalam (SAD) sudah biasa menerapkan isolasi mandiri jika terjadi wabah, mereka melakukan Sesadingon.

Sesadingon atau sesadingan merupakan tradisi SAD untuk menghindari penyakit menular, yakni menjaga jarak atau memisahkan diri dari kelompoknya. 

Tradisi ini kata dia, sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka dahulu.

"Biasanya kalau ada yang sakit, langsung memisahkan diri dari kelompoknya. Tujuannya agar penyakit tersebut tidak menular ke yang lainnya," sebutnya.

Bahkan kata Firdaus, selama pandemi ini SAD, lebih memperketat tradisi sesadingon. Tidak hanya yang sakit, namun bagi warga mereka yang berada diluar atau yang berpergian ke luar hutan, saat ingin kembali harus menjalani isolasi selama satu Minggu. 

"Meskipun kondisinya sehat, tetap saja siapa pun yang baru pulang (masuk ke hutan) harus memisahkan diri selama seminggu, begitu juga dengan Temenggung. Setelah itu baru diperbolehkan berkumpul dengan keluarga dan kelompoknya," bilangnya.

Baca juga: Karena Ini Warga SAD di Tebo Belum Ada yang Terpapar Covid-19, Sudah Dilakukan Sejak Nenek Moyang

Baca juga: Gadis di Jambi 5 Hari Hilang Tanpa Kabar, Orangtua Temukan Nomor Lelaki Misterius di Facebook

Baca juga: Nomor Telepon Kadis Damkar Tebo Dijadikan Jaminan Pinjaman Online Orang Tak Dikenal

Sementara Pemimpin SAD Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi, Temenggung Ngadap mengaku, meski kelompok SAD yang dia pimpin tinggal di dalam hutan, namun mereka telah mengetahui informasi tentang bahaya dan cara penyebaran Covid-19.

"Kalau kena Corona (Covid-19) itu tanda-tandanya sesak napas, penciuman hilang, rasa juga hilang. Apa yang dimakan rasanya hambar semua. Cara penyebarannya melalui orang luar yang terkena (terpapar) Corona," ungkap Temenggung.

Sejak adanya Covid-19, Temenggung mengaku membatasi diri berhubungan dengan orang luar atau orang diluar kelopaknya. Alasannya, mereka takut tertular virus yang semakin pandemi tersebut.

"Kalau tidak ada urusan yang sangat penting, tidak satu pun dari kita yang keluar hutan. Kita harus jaga-jaga jangan sampai ketemu orang yang terkena Corona, bisa tertular," katanya.

(Tribunjambi/hendrosandi)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved