Berita Kota Jambi

WAWANCARA EKSKLUSIF Kepala SPN Noveriko Siregar 'Di SPN Saat Pandemi Semua Harus dengan Prokes'

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai Kepala SPN Jambi, Kombes Pol Noveriko Siregar. Simaklah hasil wawancara dalam petikan berikut.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Nani Rachmaini
Humas Polda Jambi
Ilustrasi. Siswa Bintara Polri SPN Jambi T.A. 2019 Diktukba Polri SPN Jambi 

TRIBUNJAMBI.COM - Sekolah Polisi Negara (SPN) merupakan lembaga pendidikan yang mencetak Polri yang presisi. Di jajaran Kepolisian Daerah Jambi, SPN berdiri di lahan seluas 28 hektare, tepatnya di Pondok Meja, Kabupaten Muarojambi. Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai Kepala SPN Jambi, Kombes Pol Noveriko Siregar. Simaklah hasil wawancara dalam petikan berikut.

Sebelum membahas lebih jauh tentang SPN, kami ingin lebih kenal dengan Bapak. Bagaimana karier kedinasan Bapak di Polri, bisa diceritakan?
Siregar: Saya dilahirkan di Nanggroe Aceh Darussalam, besar di Jakarta. Tamat sekolah saya melanjutkan pendidikan di Akpol Semarang, angkatan 1995. Penugasan pertama di Kalimantan Timur, penugasan kedua di Nusa Tenggara Timur, penugasan ketiga di Bangka Belitung, dan inilah penugasan saya yang keempat, di Polda Jambi.

Sejak kapan dipercaya untuk menjadi Kepala SPN ini?
Siregar: Dari tahun 2018. Saat itu SPN ini masih berpangkat AKBP dan Polda Jambi masih tipe B. Seiring naiknya tipe Polda Jambi, SPN juga ikut berubah. Seiring berubahnya tipe Polda, satuan kerja yang sebelumnya dijabat oleh AKBP akan sendirinya akan naik.

Bisa diceritakan mengenai perkembangan SPN sejauh ini?
Siregar: SPN Polda Jambi yang berada di Desa Pondok Meja, pertama kali dibangun pada 2003 dan diresmikan pada 2004. Seiring bertambahnya usia, ada perubahan-perubahan, perbaikan-perbaikan, termasuk ada bantuan-bantuan yang diterima SPN, semua itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas peserta didik yang kita bina.
Sampai sekarang, fasilitas yang kita punya, gedung utama 1 unit, gedung bekum, dan ruang pertemuan Kayu Aro dan Sultan Thaha. Untuk jumlah barak kita ada 9 barak, dengan kapasitas 500 siswa dalam keadaan normal, sedangkan dalam keadaan prokes sekitar 250 siswa. Untuk jumlah kelas, kita punya 15 kelas, yang masing-masing memiliki kapasitas 25 orang sesuai dengan prokes yang sekarang kita laksanakan. Ada beberapa gudang, termasuk sarana ibadah, masjid, GOR, perpustakaan, poliklinik, termasuk sarana pendukung lain.
Siswa di sini tinggal belajar, kita bentuk, berikan ilmu, kita berikan pengetahuan, baik itu sikap, disiplin ilmu, mental, semuanya kita berikan. Harapannya, mereka menjadi polisi yang presisi.

Berapa siswa yang saat ini sedang mengikuti pendidikan di SPN?
Siregar: Untuk tahun anggaran 2020, siswa yang dididik di sini ada 216. Tentunya ini adalah hasil rekrutan yang terbaik yang kita terima. Kebetulan, mereka saat ini sedang melaksanakan Latja, salah satu proses dalam mengimplementasi ilmu pengetahuan yang mereka terima selama berada di sini. Mengingat Latja ini seharusnya dilakukan di luar, di Polres-Polres. Namun karena kondisi pandemi (Covid-19), atas petunjuk pendidikan di Jakarta, dilaksanakan di dalam SPN. Itu salah satu yang berubah akibat pandemi. Kita mengikuti kurikulum dari Lemdik.
Kita simulasikan seakan-akan mereka ada di kesatuan Polres. Memang kita mengakui, mereka tidak bisa langsung merasakan realita saat mereka berdinas.

SPN bisa dikatakan Kawah Candradimuka dalam membentuk polisi yang presisi, bagaimana proses pembentukan itu?
Siregar: Iya, betul. Jadi, mereka dicetak dari yang tidak tahu apa-apa, menjadi mengerti dan paham bahwa tugas Polri itu cukup berat, sebagai pelindung, pengayom, bahkan penegakan hukum yang di dalamnya dia memiliki kewenangan yang luar biasa. Oleh karena itu, kita mendidik mereka supaya bisa menggunakan kewenangannya dengan tidak menyalahi aturan bahkan hak asasi manusia. Itu perlu terangkai semuanya, mulai dari sarana-prasarana, tenaga pendidiknya, kurikulumnya, semua itu tujuannya untuk mencetak anggota Polri yang siap menghadapi tuntutan dan kemauan masyarakat ke depannya.

Apa yang merupakan tantangan sebagai kepala SPN mau pun sebagai tenaga pendidik di SPN?
Siregar: Tantangan saat ini terutama terkait pandemi, karena dengan sendirinya itu mengubah pola-pola yang dilaksanakan sudah sekian tahun. Kita coba untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi. Salah satunya dengan situasi prokes, 5M itu sudah kita berlakukan, dan kita coba untuk bisa mereka menjadi salah satu pionir. Sehingga saat mereka keluar, mereka sudah terbisa dengan prokes, tidak perlu kaget lagi, justru mereka bisa menjadi agen perubahan.
Kita mengakui, seperti olahraga, mereka tidak bisa lagi sama-sama berteriak, jaraknya diatur, larinya diatur, semuanya harus memenuhi prokes. Di sini kita buat zona-zona, sehingga tidak bisa semua orang masuk. Kita asumsikan zona barak itu adalah zona hijau yang memang bebas Covid-19.
Umpamanya mereka di asrama zona merah, bukan berarti mereka tidak bisa masuk, tetapi tingkat kewaspadaan mereka harus lebih tinggi. Termasuk juga di masjid, yang biasanya bisa berjemaah, sekarang sudah diatur sedemikian rupa. Perwakilan saja yang sembahyang di masjid, sisanya di barak. Ada penyesuaian-penyesuaian untuk keselamatan bersama.

Sehari-hari, para Bintara ini kegiatannya apa saja?
Siregar: Mereka bangun pukul 05.00 WIB. Mereka sudah ada yang mulai olahraga, kurang lebih setengah jam. Kemudian 06.30 WIB mereka persiapan untuk makan pagi. Setelah makan pagi mereka melaksanakan cek suhu, karena itu salah satu prokes yang harus kita ikuti. Ada yang kita tunjuk dari mereka untuk membantu petugas poliklinik. Kita betul-betul lihat kondisi kesehatan, karena Covid-19 itu biasanya diawali dengan panasnya suhu.
Setelah itu mereka kuliah, sampai pukul 12.00 WIB. Mengingat situasi pandemi Covid-19, pukul 14.00 WIB baru diteruskan lagi. Jadi mereka istirahat makan siang dulu, baru dilanjutkan dengan perkuliahan sampai 17.15 WIB. Setelahnya dilanjutkan dengan kegiatan pola pengasuhan.
Pukul 19.00 WIB mereka makan. Kemudian 20.00 WIB mereka ada pelajaran sampai 22.00 WIB, yang dilanjutkan dengan apel malam. Begitu seterusnya.

Apakah seperti sekolah pada umumnya, ada semacam rapor atau penghargaan sebagai siswa terbaik di SPN ini?
Siregar: Ada. Meski untuk angkatan mereka ini sempat dirumahkan karena situasi pandemi, tapi nanti tetap ada juara 1, juara 2, juara 3. Kita tentukan siapa yang terbaik.

SPN merupakan sekolah yang membentuk polisi. Apakah instruktur atau tenaga pendidik mereka ada yang didatangkan dari luar atau hanya dari Polda Jambi?
Siregar: SPN ini merupakan pendidikan vokasi, pendidikan keahlian, jadi memang tenaga pendidiknya dari internal kepolisian. Kebetulan kita ada tenaga pendidik yang memang secara fungsional mereka bertugas sebagai tenaga pendidik. Tapi ada juga staf dari SPN yang ditunjuk menjadi gadik (tenaga pendidik). Tujuannya sama seperti tenaga pendidik. Mereka juga membantu tenaga pendidik untuk mentransfer ilmu. Tujuannya apa? Supaya kekurangan, keterbatasan tenaga pendidik itu, bisa kita tutupi dari staf yang ada.

Saat ini sudah berapa angkatan yang melakoni pendidikan di SPN?
Siregar: Ini sudah angkatan ke-19, tahun anggaran 2020.

Apa ada peserta dari luar yang mengikuti pendidikan di SPN Jambi?
Siregar: Sampai dengan tahun 2020, untuk Polda lain yang mengikuti pendidikan di SPN Jambi belum ada. Tapi kemarin ada informasi dari Lemdik datang tim menyampaikan SPN Polda Jambi rencananya akan kedatangan 144 siswa dari saudara-saudara kita di Papua. Kita sudah mengambil langkah. Kemarin, tim sudah datang dari Lemdik, sudah bertemu dengan Bapak Kapolda, menyampaikan maksud dan tujuan, termasuk tim dari Lemdik ini juga sudah berdiskusi dengan instansi terkait. Mengingat SPN Pondok Meja yang terletak di Kabupaten Muarojambi ini mengundang, mulai dari Forkopimda, termasuk tokoh-tokoh agama, pemuda, termasuk tokoh-tokoh dari Papua. Kita minta saran, masukan, termasuk juga mereka memberikan saran, dan kita juga menyampaikan rencana dari Lemdik untuk mendidik saudara-saudara di Papua.
Kita mempersiapkan sarana-prasarana, termasuk para tenaga pendidik. Tinggal menunggu kurikulum dari lembaga pendidikan.

Apa kesalahan yang biasa dilakukan siswa di SPN?
Siregar: Kesalahan-kesalahan siswa tahun ini memang tidak begitu signifikan. Misalnya kesalahan-kesalahan layaknya siswa, mereka tidak ada kesalahan yang sifatnya fatal. Semuanya hanya pelanggaran ringan, contohnya bangun terlambat, lupa membawa buku. Tapi untuk pelanggaran yang sifatnya berat itu tidak ada.

Baca juga: Pemprov Jambi Belum Cairkan Dana Parpol Untuk Partai Berkarya, Ini Alasannya

Baca juga: Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi Terpilih akan Dilantik, Tokoh Agama Batanghari Ungkap Harapan

Baca juga: Empat Tersangka Baru KPK di Kasus Suap Pengesahan RAPBD Jambi Terima Ratusan Juta Rupiah

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved