Minggu, 26 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Menyembah Allah Dalam Roh dan Kebenaran

Bacaan ayat: 2 Tawarikh 6:40 (TB) - "Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di

Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Bait Allah dimaksudkan sebagai simbol kehadiran Allah yang bertahta dan berkuasa mutlak atas kehidupan.

Kuasa Allah tetap mengatasi langit dan bumi sebagai ciptaan-Nya.

Meskipun demikian Ia berkenan memakai Bait Allah yang dibangun Salomo sebagai tempat khusus terjadinya ritual sebagai wujud dari komunikasi antara Allah dengan umat-Nya.

Ingat, ketika umat tidak lagi taat, catatan Alkitab memberikan informasi bahwa Bait Allah diijinkan hancur melalui bangsa lain yang mengalahkan kerjaan Israel yang sudah terbelah dua.

Salib adalah simbol. Dua ribu tahun lalu simbol itu dipakai Allah untuk karya penebusan dalam Yesus Kristus.

Hari ini simbol itu seakan melekat dan menjadi identitas diri untuk menyebut seseorang yang beragama Kristen.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Mewarnai Kehidupan Dengan Kasih

Gereja, pada mulanya adalah sekumpulan orang-orang yang membentuk persekutuan karena mereka percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Hari ini, gereja identik dengan gedung yang megah, menjulang tinggi ke langit dengan menara indah. Arsitektur indah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Persekutuan dua atau tiga orang, dianggap kegagalan, dan ribuan orang dalam gedung olahraga yang di sewa jutaan rupiah: dinilai sebagai tanda keberhasilan penginjilan.

Belajar dari sejarah, ketika umat tidak lagi fokus pada Allah dan mulai pada pencurian kemuliaan Allah, Allah mengijinkan hal tertentu terjadi untuk mendaur ulang iman agar kembali fokus kepada-Nya.

Pandemi covid 19 terjadi. Gedung megah ditinggalkan kosong. Mimbar besar teronggok dalam kebisuan. Salib menjulang hanya dipandang dari jauh.

Ribuan orang bersekutu, terganti dengan dua atau tiga orang berkumpul. Mimbar dan altar besar berganti dalam ukuran sentimeter, tergantung layar alat elektronik yang ada.

Saatnya kembali memberi makna ulang terhadap kehidupan beriman.

Mundur, pasti tidak!! Allah sedang berkarya memperlihatkan kuasa-Nya.

Manusia yang sedang eforia dengan kemajuan teknologi dan mulai abai dengan alam yang harus dipelihara, sedang dipaksa merenung dalam keheningan isolasi.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved