Editorial
Penanganan Pandemi Covid-19 dan Berjiwa Besar di Atas Perbedaan
Berbeda karena zonasi risiko penyebaran Covid-19. Jika ada saudara kita yang bisa salat di masjid atau lapangan, kita mungkin cukup di rumah saja.
Sehingga semua kepentingan dapat terpenuhi, prokes terlaksana, pengunjung nyaman karena jarak yang aman, waswas penyebaran dapat dieliminir, dan pendapatan pemilik usaha tercapai meski tidak di angka paling maksimal.
Namun, karena tidak konsekuen semua menanggung rizikonya.
Pengunjung harus kocar-kacir dengan menu yang sudah tersaji, kekhawatiran penyebaran memuncak, dan pemilik usaha harus mengurut dada karena uang yang sudah di depan mata pergi begitu saja.
Baca Berita Jambi lainnya
Baca juga: Pasar Senggol di Kawasan Istana Anak-anak Dipenuhi Masyarakat Mencari Pakaian Baru
Baca juga: Segini Jumlah THR Wali Kota Jambi dan Wakil Wali Kota Jambi plus Anggota DPRD
Baca juga: NASIB Dua Pelaku Pembacokan Mahasiswa Unja di Pasir Putih, Terancam 9 Tahun Penjara
Ditambah lagi sanksi denda tidak menggunakan masker, sanksi denda bagi pemilik usaha dan tempat usaha yang disegel. Nada sumbang pun menggema, ada yang menganggap razia berlebihan karena ada banyak pekerja yang menggantungkan hidupnya dari tempat itu.
Namun, yang mendukung juga tidak sedikit. Ketegasan itu penting untuk keselamatan lebih banyak orang.
Meski menjadi momok, Covid-19 juga mengajar kita untuk lebih menahan diri. Mengajar kita bagaimana bertoleransi terhadap kelompok masyarakat lain yang terimbas.
Jika kemudian ditemukan perbedaan-perbedaan, ayo lebih bijak melihat latar dan meresponnya.(*)