KKB Papua Semakin Brutal Setelah Punya Sniper, Jenderal TNI AD Ini Tewas Ditembak dari Jauh
Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Densus 88 turun tangan memberantas KKB Papua yang semakin berulah.
KKB Papua Semakin Brutal Setelah Punya Sniper, Jenderal TNI AD Ini Tewas Ditembak dari Jauh
TRIBUNJAMBI.COM- Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua semakin agresif dan brutal.
Banyak korban jiwa jatuh akibat keganasan kelompok yang kini dicap sebagai teroris itu, mulai dari warga sipil, petugas dan juga dari kelompok KKB Papua.
Namun selama ini, hanya korban dari petugas dan warga sipil saja yang bisa diketahui jumlahnya.
Sementara dari pihak KKB Papua sulit diketahui jumlah yang tewas, hanya diperkirakan saja.
Ternyata hal ini yang menyebabkan jenazah KKB susah terdeteksi.
Baca juga: Siapa Sosok Tandi Kagoya? Jenazahnya Sampai Diperlakukan Begini KKB Papua,Dikenal Agresif dan Brutal
Baca juga: Nyali KKB Papua Mendadak Ciut Setelah Jokowi Bicara Begini, Kocar-kacir Diserbu TNI-Polri, 5 Tewas
Aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua yang nekat mengangkut jenazah rekannya membuat aparat sulit melakukan identifikasi.
Asisten Operasi Kapolri Inspektur Jenderal Imam Sugianto mengungkap anggota KKB Papua selalu mengangkat jenazah rekannya yang tewas dalam baku tembak.

Hal inilah yang kemudian menyulitkan proses pendataan.
"Mereka kan begitu sudah ketembak itu tidak bisa kita identifikasi musuh,
jasadnya itu karena begitu ketembak itu langsung diangkat mereka, dibawa.
Itu kesulitan yang ada di lapangan," kata Imam dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (30/4/2021).
Namun demikian, kata Imam, pihaknya telah memperkirakan jumlah
korban dari pihak KKB Papua telah mencapai lima orang.
Mereka terkena terluka saat terlibat baku tembak.
"Kita sudah dapat kira-kira melumpuhkan mereka itu ada 5 orang informasi terakhir.
Kalau gak 5, mungkin ada lagi masih diinvetarisir," jelasnya.
Baca juga: Ali Imron Ingatkan Jokowi Bahaya Teroris Lulusan Afghanistan, Setara Kopassus Bisa Buat Bom Nuklir
Baca juga: Kronologi Ratusan Orang Tertipu Investasi Bodong 212 Mart, Pengelola Kabur, Denny Siregar: Mabok!
Namun demikian, ia menyatakan pihaknya tidak akan meningkatkan pola penyerangan terhadap KKB Papua.
Aparat lebih memfokuskan untuk menjaga titik lokasi yang akan dikuasai oleh KKB.
"Kita kan memang, selama ini cenderung lebih bertahan kan.
Kalau ada kejadian, baru kita mengejar target operasi (TO) yang disusun.

TO yang akan dikejar itu disesuaikan dengan perencanaan awal," pungkasnya.
Pasukan Burung Hantu Turun Tangan
Setelah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua dinyatakan sebagai teroris oleh Pemerintah Indonesia,
belum ada kepastian apakah Densus 88 akan bergabung dengan Satgas Nemangkawi.
Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Densus 88 turun tangan memberantas KKB Papua yang semakin berulah.
Apalagi, KKB Papua dinilai punya penembak jitu dan perlengkapan senjata mumpuni.
Hal ini terbukti dengan Gugurnya Kepala BIN Daerah Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Nugraha.
IPW berharap dalam sebulan setelah penetapan KKB sebagai teroris, Densus 88 yang berjuluk Pasukan Burung Hantu bisa turun ke Papua untuk membersihkan aksi teroris yang meresahkan masyarakat.
Baca juga: Pimpinan KKB Papua Nyamar Jadi Warga, Lekagak Telenggen Tak Segan Habisi Jenderal TNI dan Brimob
"Minimal melokalisir gerakan kelompok teror tersebut," ungkap Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, Jumat (30/4/2021).
Namun IPW mengingatkan, teroris di Papua dinilai lebih bengis, terlatih, solid, dan lebih canggih persenjataannya ketimbang teroris yang berada di luar Papua.

"Teroris Papua seakan telah menorehkan fenomena baru
dalam sejarah terorisme di mana seorang jenderal bisa terbunuh dalam serangan teroris."
"Gugurnya Kepala BIN Daerah Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha, pada Minggu (25/4/2021) kemarin menjadi sejarah pertama adanya seorang perwira tinggi TNI yang tewas dalam konflik di Papua."
"Kasus ini juga menunjukkan bahwa teroris Papua sepertinya memiliki penembak jitu yang terlatih dengan senjata mumpuni," ujarnya.
Neta menyebut, ulah bengis teroris di Papua terlihat dalam pekan pertama April 2021.
"Di era itu teroris Papua sudah menewaskan warga dari berbagai kalangan,
mulai guru, siswa hingga tukang ojek di Kabupaten Puncak."
"Selain itu teroris Papua merusak sekolah dan rumah-rumah warga.
Bahkan membakar rumah anggota DPRD di Kampung Beoga," ungkapnya.
Dari data yang diperoleh IPW, para teroris yang berada di Distrik Beoga,
Kabupaten Puncak, memiliki 30 pucuk senjata api.
Terdiri dari berbagai merek, mulai dari laras panjang hingga pistol genggam, di antaranya SS1 hingga M16.
Teroris di Papua, lanjut Neta, terlihat cukup solid dan terafiliasi hanya pada satu kelompok,
yakni Organisasi Papua Merdeka (OPM).
"Berbeda dengan Teroris Non Papua yang terdiri dari lima kelompok,
yakni Negara Islam Indonesia (NII) yang berkembang sejak pasca kemerdekaan Indonesia,
Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),
Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK)."
"Sejak Januari hingga Maret, Densus 88 sudah berhasil menangkap 94 terduga teroris di luar Papua," ungkapnya.
Setelah pemerintah menetapkan KKB Papua sebagai teroris,
Neta menyebut, publik menunggu gebrakan operasi pencegahan
dan penindakan terorisme oleh Densus 88 di Bumi Cenderawasi.
"Publik menunggu mampukah Densus 88 menaklukkan gunung
dan rimba raya tempat persembunyian teroris di Papua."
"Selama ini Densus 88 sudah berhasil menaklukkan teroris di luar Papua
yang bersembunyi di rumah-rumah kontrakan padat penduduk di perkotaan."
"Dan kini 'medan tempur baru' menunggu Densus 88," tukasnya.(*)
Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Waspada KKB Papua Punya Penembak Jitu, Tewasnya Kepala BIN Papua Jadi Bukti, Makin Bengis.