Puasa Ajaran Universal  yang Sehat dan Menyehatkan (1)

Selama hidupnya, Nabi melakukan Puasa Ramadan sebanyak 9 kali,  8 kali dengan hitungan 29 hari dan sekali saja dengan hitungan yang sempurna 30 hari.

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Hasan Basri Husin Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi 

          Begitu juga bangsa Cina melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang dianggap sebagai hari malapetaka.

Selain mereka juga berpuasa pada hari-hari besar, mereka berpuasa ketika ada anggota keluarganya meninggal. Sebagian orang Cina yang tinggal di Tibet bahkan berpantang makan selama 24 jam terus-menerus tanpa berhenti sampai tidak mau menelan ludahnya sendiri.

          Bangsa Yunani mengambil tradisi puasa dari bangsa Mesir kuno, mereka berpuasa pada sebelum musim bunga dan sebelum masa panen.

Baca juga: PENAMPAKAN KRI Nanggala 402 yang Ditemukan di Kedalaman 838 Meter, Terpecah Jadi 3 Bagian

Baca juga: Susi Pudjiastuti Beri Penghormatan untuk Awak KRI Nanggala 402, Kenang Kebersamaan Kolonel Harry

Baca juga: Dihadiahi Timah Panas, Pelaku Pembobol ATM Diringkus Tim Gabungan Polda Jambi di Muara Bulian

Baca juga: Jalani Taaruf dengan Pria Sumatera, Roro Fitria Sempat Minta Break Karena Gaya Bicara

Sebagian mereka berpuasa beberapa hari berturut-turut sebelum berangkat menuju ke medan perang supaya memperoleh kemenangan.

Tradisi berpuasa bangsa Yunani ini juga sama persis seperti yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia.

          Para biksu agama Budha di Vietnam melakukan puasa sebagai protes terhadap orang atau bangsa lain yang dianggap berlaku tidak adil kepada mereka.

Konon Mahatma Ghandi berpuasa selama 21 hari demi persahabatan dan persatuan antara umat Hindu dan umat Islam di India.

          Dalam masyarakat Jawa kuno, tradisi puasa juga sangat terkenal, seakan-akan puasa sudah menjadi keakraban hidup mereka.

Beberapa istilah membuktikan ini, ada puasa mutih, tidak memakan makanan berwarna putih misalnya nasi putih, garam, putih telur dan lain-lain.

Puasa ngrowot atau brakah, menghindari makan nasi dan umumnya hanya memakan dedaunan, ketela atau jagung.

Puasa patigeni, berdiam di ruangan tertutup yang gelap gulita dengan tidak makan dan minum yang umumnya dilakukan selama tiga hari tiga malam.

Ada pula puasa ngalong, tidak makan minum dengan menggelantungkan diri pada batang pepohoinan di alam bebas.

          Terlepas dari sekian banyak tujuan dan latar belakang puasa yang dilakukan oleh umat dan bangsa terdahulu, yang jelas telah terlihat dengan nyata bahwa puasa itu adalah ajaran universal.

Puasa hadir pada sisi kehidupan manusia sebagai sumber pemenuhan kebutuhan naluri bahkan bisa jadi menjadi kebutuhan fitrah.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved