Breaking News:

EDITORIAL

Editorial - Mewaspadai Sugesti Fiktif

Konsekuensi dari kemajuan itu, tersingkirnya secara perlahan perdagangan secara manual. Berbagai aset, sarana prasarana pasar mulai ditinggal dan tera

Tribun Jambi
Tribun Jambi Edisi 21 April 2021 

KEMAJUAN transaksi jual beli secara digital tak hanya menggairahkan perekonomian. Pedagang maupun pembeli juga antusias merespon kemajuan tersebut karena menawarkan aneka kemudahan, kepraktisan dan biaya ringan.

Konsekuensi dari kemajuan itu, tersingkirnya secara perlahan perdagangan secara manual. Berbagai aset, sarana prasarana pasar mulai ditinggal dan terancam menjadi gedung hantu.

Jika tak cepat dialihfungsikan, investor, pemodal hingga pemerintahan harus siap menelan kerugian yang makin dalam.

Namun, tidak selalu perdagangan secara online dapat dipertanggungjawabkan. Ketiadaan pertemuan fisik antara penjual dan pembeli memberi peluang terjadinya kecurangan, penipuan bahkan perdagangan ilegal yang melanggar aturan.

Akhir-akhir ini marak ditemukan perdagangan obat-obatan yang diklaim dapat merangsang wanita melakukan hubungan intim. Dengan penjelasan menggunakan istilah vulgar, dan testimoni meyakinkan cukup untuk membuat siapapun penasaran untuk melakukan pencarian lebih lanjut.

Media perpesanan instan menjadi sarana selanjutnya untuk mendapatkan penjelasan lebih mendalam antara penjual dan pembeli,disertai foto-foto bahkan video yang membuat degub jantung makin kencang.

Penawaran diskon dan bonus hingga ke angka terendah membuat calon pembeli makin sulit untuk menolak pembelian. Bisa kita bayangkan, jika calon pembeli adalah remaja yang baru beranjak remaja yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah.

Dari awalnya hanya penasaran ingin tahu, akhirnya membangun keberanian untuk mencobakan dengan menjebak kawan wanitanya atau siapapun yang ia ingin jebak.

Konfirmasi Tribun ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Jambi mendapatkan jawaban yang memprihatinkan. Sebab, BPOM tak pernah mengeluarkan izin satupun obat/ramuan seperti itu.

Lalu bagaimana dengan klaim efek yang ditimbulkan seperti diungkapkan si penjual? Jawabannya cukup melegakan, dari berbagai produk yang pernah dilakukan pemeriksaan tidak ada yang mempunyai efek seperti itu.

Online shop (Olshop) mulai mencatatkan satu-persatu kelemahannya. Membuat produk dengan khasiat fiktif memanfaatkan rasa penasaran dan ingin tahu masyarakat terutama generasi muda demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Meski tidak ‘berkhasiat’, membangun keberanian untuk melanggar aturan melalui produk fiktif adalah sugesti yang mengkhawatirkan. Sebab, praktik rudakpaksa maupun pergaulan bebas kian hari terus menunjukkan peningkatan. Mungkinkah produk dengan klaim fiktif ini ikut menjadi pemicunya? Mari, buka mata buka telinga. Lebih bijak bertransaksi ke depannya.(*)

Baca juga: Editorial - Waspada Penyalahgunaan Rekening

Baca juga: Editorial - Daya Rusak Miras

Baca juga: Editorial - Marhaban Ya Ramadan

Editor: Edmundus Duanto AS
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved