Breaking News:

Longsor di Muara Emat

Jalur Jalan di Kerinci Langganan Longsor, Apa Penyebabnya? Pakar Beri Penjelasa

Dikatakannya, secara umum tebing jalan sepanjang Muara Emat – Birun Merangin memiliki kelerengan yang cukup

Istimewa
Longsor di Muara Emat 

Ini Kata Pakar Mengenai Longsor yang Sering Terjadi di Kerinci 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Herupitra

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Jalur Kerinci-Bangko tepatnya Muara Emat merupakan jalur langganan longsor. Hampir setiap musim hujan dapat dipastikan akan terjadi longsor sepanjang jalur ini. 

Kondisi ini bukan saja terjadi saat ini, tapi sudah terjadi semenjak akses jalan di kedua jalur ini dibuka dahulu kala. Lantas apa yang menyebabkan seringnya terjadi longsor di Kabupaten Kerinci

Pakar geologi universitas Gadjah Mada (UGM), DR.Akmaluddin Thalib menjelaskan, jika dilihat peta geologi jalan sepanjang jalur Kerinci – Bangko umumnya didominasi oleh endapan volkanik tua akibat letusan gunung api purba yang ada di sepanjang Lempur – Masurai Merangin.

Selanjutnya, urai Akmal yang juga merupakan putra asli Kerinci ini, ketika memasuki Muara Emat batuan ini berubah menjadi batuan metamorf yaitu batu sabak, filit dan batuan sedimen meta.

Dijelaskan oleh Akmal, Batuan metamorf yang berumur Jurasic (150jt tahun) ini mempunyai sifat yang mudah hancur akibat sudah mengalami tekanan tektonik. Sehingga sebutnya, ketika kena air hujan, akan mudah sekali untuk bergerak, terlebih lagi pada lereng yang cukup terjal.

Dikatakannya, secara umum tebing jalan sepanjang Muara Emat – Birun Merangin memiliki kelerengan yang cukup curam, itulah faktor utama sering terjadinya longsor.

”Jadi kombinasi sifat batuan dan kelerengan tebing ditambah curah hujan yang tinggi menjadi faktor utama kenapa sering terjadi longsor di Jalur Kerinci – Bangko,” ujarnya.

Kondisi yang hampir sama terang Akmaluddin terjadi di jalur Sungai Penuh - Tapan Sumbar yang juga dikenal sebagai jalur rawan longsor. Dijalur ini faktor ilmiah penyebab longsor adalah batuan penyusun yang gampang longsor, tebing yang curam tanpa dinding pengaman longsor.

”Puncak Tapan ini litologinya adalah endapan batuan volkanik. Kedua jalur sama sama merupakan jalur patahan sesar yang labil sehingga gampang longsor,” papar Akmal.

Untuk mengatasi longsor di jalur ini Akmaluddin menyarankan, dilakukan pemetaan titik dan daerah rawan longsor. Kemudian daerah yang rawan longsor harus dilakukan tindakan geoteknik untuk mencegah longsor, lalu tebing jalan disepanjang zona rawan longsor jangan dibuat terlalu terjal dan tentunya penebangan hutan di hulu juga harus menjadi perhatian serius.

”Itu upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten Kerinci, Pemrov Jambi dan instansi terkait,” pungkas Akmaluddin Thalib.(*) 

Baca juga: Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan Korban Lakalantas Bus di Tebing Tinggi

Baca juga: Lagi Asik Rekam Aksi Bilqis, Ada Notifikasi Pesan Whatsapp Masuk, Sontak Bikin Netizen Heboh

Baca juga: Perawat di RS Siloam Christina Ramauli Simatupang Memar dan Sakit Akibat Dianiaya Keluarga Pasien

Penulis: Herupitra
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved