Gede Pasek Suardika Kisahkan Setelah Anas Urbaningrum Tersangka dan Dukungan untuk SBY
I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya dirinya pernah di-prank
Memang betul Partai Demokrat waktu itu mau di set up jadi partai terbuka?
Ketika zaman pak Subur Budhisantoso suasana itu kita rasakan. Jadi dinamika perbedaan mengayomi semua merasakannya.
Zaman pak Hadi Utomo luar biasa, boleh dikatakan pak Hadi Utomo ini saya banyak belajar dari beliau. Bagaimana kita mengelola partai. Kita itu kalau diterima berjam-jam, bercerita sama beliau.
Betul-betul ketua umum itu memberi ruang pengetahuan, sehingga kita merasakan bahwa ini luar biasa. Dan saya mengidolakan pak SBY waktu itu.
Kenapa? Ganteng, gagah, cerdas, bicara terstruktur dan politik yang dikenalkan bersih, cerdas, santun. Ini yang saya pegang betul.
Masuklah pertama kali berpartai di sana. Dan itu saya pegang. Sampai satu prank, dua prank, tiga prank, kena prank terus baru saya mengambil kesimpulan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.
Tapi itu penilaian pribadi ya. Mungkin ada yang mengidolakan juga wajar saya kira. Karena saya yakin beliau juga banyak diidolakan. Tapi faktanya yang kita lewati selama ini dalam kasus dengan mas Anas, sehingga kita jaga betul.
Dan saya pernah mengalami sebuah tekanan untuk meninggalkan Anas Urbaningrum.
Posisi saya masih Ketua Komisi III DPR RI. Waktu itu pak menteri Djero Wacik manggil saya, sekarang pak Djero Wacik sama-sama dengan Anas,sering saya ketemu juga.
Beliau manggil saya ketika beliau habis dari Cikeas. Saya diberitahu begini, Pasek kamu harus pilih, kamu milih SBY atau Anas? Lho ada apa pak? Ini akan perang, ini akan tempur, kamu harus milih salah satu. Kalau kamu milih Anas, jabatanmu sebagai ketua Komisi III dicopot, tapi kalau kamu milih SBY kamu tetap jadi ketua Komisi III dan kamu dikasih jabatan yang lebih baik.
Jelas disebut begitu?
Iya ngomong di Widya Chandra, rumah jabatan. Saya datang. Saya tetap bilang nggak bisa, pak SBY itu guru saya, saya tertarik masuk Demokrat karena pak SBY.
Mas Anas ini teman saya, sahabat saya, dia lagi ada masalah, wajar dong saya dampingi. Tetap saya nggak memilih.
Beliau terus bilang. Wah kamu ini keras kepala. Perasaan saya sih saya nggak keras kepala, karena kan saya nggak milih salah satu, saya nggak milih Anas, saya nggak milih SBY. saya milih dua-duanya, kan diluar opsi yang diberikan.
Tapi tetap kalau begitu kamu siap-siap dicopot dari Ketua Komisi III. Terus saya bilang iya nggak apa-apa deh pak. Toh bukan jabatan yang utama, bagi saya persahabatan yang utama, silakan aja.
Dan terjadi. Dan saya sudah tau akan diganti. Jadi satu atau dua minggu kemudian berproses lah itu. Sehingga kita dukung aja.
Bli bisa nggak dijelaskan sedikit, kan tadi disampaikan bahwa pak SBY menawarkan bahwa kalau bisa hasil KLB di Bali itu bukan saya tapi bu Ani, tapi bli bilang jangan, itu sebenarnya apa pertimbangan anda bilang jangan bu Ani Yudhoyono jadi Ketum?
Karena posisi di partai yang langsung in charge itu kan pak sby. Ketua Majelis Tinggi, Ketua Dewan Pembina, sehingga biar langsung itu disatukan saja otoritasnya itu. Tidak lagi tiga kekuatan, langsung satu lagi.
Kalau nggak gitu kan lucu nanti.
Ketua Dewan pembina, Ketua Majelis Tinggi ini bapaknya, Ketum ibu, Sekjen anak. Kan tambah parah lagi, kita nggak bisa jualan di masyarakat.
Wong ini aja sudah menyatu bapak sama anak, masa mau kita rekor MURI lagi ada bapak ibu anak. Tapi kita nggak bilang begitu, kita tetap bilang simbol bapak kita perlukan untuk menyatukan semua. Kalau kita bilang begitu tersinggung pasti.
Karena logika politik saya kan aduh malu kan masa bapak ibu anak, ini apa ini. Walaupun sekarang muncul ya. (tribun network/denis destryawan)