Gede Pasek Suardika Kisahkan Setelah Anas Urbaningrum Tersangka dan Dukungan untuk SBY

I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya dirinya pernah di-prank

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Mantan kader Partai Demokrat Gede Pasek Suardika yang juga loyalis Anas Urbaningrum 

Singkat cerita, saya menemui mas Anas. Semalam itu kita bisa dikatakan aman, nginep, besoknya masih sembunyi belum ada yang tahu.

Akhirnya lama-lama sore, beliau bilang begini, ngapain kita sembunyi-sembunyi bli? kan kita sudah dukung SBY. Mending kita jalan-jalan aja, nikmati Bali Utara. Makanlah kita di sebuah restoran, agak terbuka. Itu kan sedang ramai-ramainya, nah orang yang makan lihat mas Anas akhirnya banyak yang minta foto, langsung heboh.

Beliau tidak menyampaikan maaf?
Nggak ada, seperti tidak pernah ada apa-apa. Malah saya dipretelin semua, wakil ketua fraksi hilang, semua jabatan saya hilang. Jadi yang terjadi akhirnya adalah kita habis bis bis. Dihabisi di situ semua.

Di situ saya berpikir merasa bersalah ke mas Anas. Mas saya minta maaf mas jadi begini semua teman-teman.

Tahu begini kan kita maju aja semua, tarung aja semua. Kalau tarung pasti menang mas Anas, karena DPC dan DPD waktu itu sangat solid ke mas Anas. Tapi akhirnya kita berpikir sudahlah. Karena itulah kemudian saya maju DPD RI.

Karena saya berpikir sudah nggak ada harapan lagi. Jadi ceritanya di KLB itu pun ada kesepakatan pak SBY hanya sampai 2015, meneruskan sisa jabatan mas Anas. Setelahnya akan beliau berikan kepada kader-kader lain yang berpotensi.

Memang begitu komitmennya?
Iya. Hanya di 2015 beliau maju lagi.

Bayangkan ketua umum bapaknya, sekjen anaknya, dan maju lagi di 2015, mau jadi ketum membuat tatib agar dirinya saja yang memenuhi syarat. Marzuki Alie pun tidak memenuhi syarat.

Waktu itu dibuat oleh tim khusus, sembunyi-sembunyi, nggak boleh ada yang tahu, tapi kita tahu.
Yang saya ingat begini, yang boleh menjadi calon adalah yang punya hak suara. Yang punya hak suara itu DPP, ketua umum, DPD, DPC. Ada kemudian syarat berikutnya berpengalaman menjadi pengurus pusat selama 5 tahun.

Berarti yang DPD sama DPC sudah nggak bisa, tinggal dia aja kan. Marzuki Alie aja nggak bisa masuk. Itu contohnya.

Sehingga menjadikan posisinya agak susah. Oleh karena itu saya kira kita mikir waduh kok kayak begini, namanya sang demokrat tapi kok skenarionya harus dibuat seperti itu.

Dan akhirnya yang paling lucu adalah mungkin tidak ada dalam sejarah yaitu kongres belum dibuka tapi pencalonan sudah ditutup. Padahal di mana-mana yang namanya kongres dibuka dulu, kemudian sidang pertama membahas draf tata tertib untuk kemudian disahkan menjadi tata tertib. Dimana-mana begitu. Ini nggak, pendaftaran calon ditutup semua.

Ini kongres mana?

Surabaya. Hasilnya tunggal lah dia. Di mana saya dan Marzuki Alie kan maunya goda-godain dikit kan gitu. Tapi digodain pun nggak boleh, akhirnya disitulah kemudian semakin absolut partai itu berubah dari Partai Demokrat menjadi partai dulur (sedulur : saudara), partai dinasti.

Tapi memang di awal bli gabung ada indikasi itu nggak?
Nggak ada. Saya adalah orang yang mengidolakan beliau.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved