Gede Pasek Suardika Kisahkan Setelah Anas Urbaningrum Tersangka dan Dukungan untuk SBY
I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya dirinya pernah di-prank
Tahunya ketua umum dan sekretaris jenderal. Jadi kalau kita ingin partai ini disimpelkan saja, kewenangan itu kasih ketua umum.
Singkat cerita, perdebatan di media massa itu beliau tangkap. Diundanglah saya ke istana. Waktu itu saya datang malam hari, ada bu Ani almarhum, mas Ibas, dan pak SBY. Tapi duduknya kami berdua saja, saya dan pak SBY.
Kita ngobrol, saya benar-benar dari hati tulus niat ingin menyelamatkan partai waktu itu, karena sudahlah kita ribut tapi kita mau nyaleg semua, mau selamat semua.
Ditanya lah, kenapa kamu mau minta saya jadi ketua umum. Sempat nawarkan kenapa nggak bu Ani saja. Saya jelasin sampai saya bilang kalau bapak tinggal mengambil pasti ini akan kompetisi lagi.
Kalau pak Marzuki Alie maju, maka akan mengajukan Saan Mustopa.
Nanti kompetisi lagi habis lagi energi. Sebenarnya kalau bapak mengambil, ini akan bersatu lagi. Lalu beliau menyambut gembira lah itu. Tapi apakah bisa dibantu untuk semua bisa aklamasi? Kita bilang asal pak Marzuki Alie tidak maju, kami dan dari pihak kami pasti bisa. Dan saya nanti akan datang lagi ke mas Anas karena ini sudah saya diskusikan ke mas Anas, beliau titip salam juga.
Singkat cerita beliau mengajak nanti kita ketemu di Bali ya, itu kira-kira tiga empat hari menjelang kongres. Singkat cerita ada komitmen di sana nanti kalau saya sudah terpilih kita bersatu lagi semua ya, saling bahu membahu kita selamatkan partai, biasalah bahasa yang menarik hati, memikat kita semua.
Dengan semangat saya pulang dari situ langsung ke Duren Sawit. Saya bilang sama mas Anas, pak SBY sudah mau. Mas Anas ketawa, terus langsung dia ambil hp nelponin DPD, DPC.
Banyak yang kaget kenapa diarahkan milih SBY. Oh sudahlah biar semua selamat pilih SBY aja dulu, nanti urusan saya belakangan lah yang penting proses teman-teman nyaleg.
Saya lihat mas Anas mengorbankan dirinya untuk teman-temannya ini selamat dulu. Saya semakin kasihan melihat beliau, padahal sudah tahu penyebab beliau begitu itu siapa.
Singkat cerita KLB di Bali, saya di sana memang mensetting mas Anas ini kan kalau dibilang pengamanannya menggunakan alat kekuasaan itu ya pas zaman SBY bukan zaman pak Jokowi.
Pengamanan gimana maksudnya?
Intel ditaruh di mana-mana hanya untuk melacak di mana ada Anas. Padahal kan Anasnya sudah dukung. Tapi tetap masih khawatir.
Karena kita jiwa aktivis ini kadang kita nakal kan. Lalu kita bilang mas settingan begini, teman-teman intel bilang posisi begini, jadi mas lewat darat aja. Jadi lewat darat lah, dari Surabaya itu mas Anas lewat darat ke Bali. Tidak ke Denpasar tapi ke Buleleng, Bali Utara.
Saya carikan tempat tersembunyi di situ, jadi nggak ada yang tahu. Karena bandara sudah dijaga dan semuanya sudah komplit. Ketika saya ke Buleleng, tempat saya malah sudah diperiksa aparat semua.
Tempat tinggal saya, tempat tinggal orang tua saya, kakak saya, wah semua sudah dicari semua nggak nemu Anas Urbaningrum.