Gede Pasek Suardika Kisahkan Setelah Anas Urbaningrum Tersangka dan Dukungan untuk SBY
I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya dirinya pernah di-prank
I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya dirinya pernah di-prank oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan setengah tertawa, I Gede Pasek mengingat awal mula kejadian yang menyebabkan adanya prank dari SBY yaitu ketika Anas Urbaningrum mundur dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat.
Anas mundur tepat satu hari setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi terkait proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada 22 Februari 2013.
I Gede Pasek saat itu mengajak Anas berdiskusi terkait nasib kawan-kawannya yang bersiap nyaleg dalam pemilu yang akan datang. Sebab tahapan pemilu sudah mulai digelar.
"Suatu malam saya ke tempat mas Anas di Duren Sawit. Kita diskusilah ngomongin nasib teman-teman. 'Mas ini bagaimana? Teman-teman itu nunggu apakah pindah partai atau tetap seperti ini, siapa nanti penggantinya mas Anas'," ucap I Gede Pasek Suardika saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Jumat (19/3).
Berikut petikan wawancara Tribun Network bersama I Gede Pasek Suardika:
Bisa nggak cerita kenapa bapak SBY yang ditunjuk sebagai ketum, padahal posisinya tinggi waktu itu?
Itu kalau saya mau cerita gimana ya, itu cerita tentang saya kena prank seorang presiden yang saya percayakan orangnya bersih, cerdas, santun.
Jadi ceritanya begini, ketika mas Anas mundur itu kan saya diskusilah dengan mas Anas. Kita temani lah namanya beliau sedang dalam masalah itu. Ada lah ide teman-teman ini kan mau nyaleg, ini apakah pindah partai atau tetap di sini.
Gimana kalau demi penyelamatan partai, saya punya ide dan saya bilang ke mas Anas, kita dukung pak SBY aja.
Jadi kalau cerita ini antara senang dan sedih. Senangnya itu karena yang ngeprank saya itu seorang presiden. Nggak senangnya itu kok ada gitu lho orang yang seharusnya kita sudah bicara gentleman agreement, seorang politisi yang berbicara dalam konteks bangsa bernegara kok bisa menipu hal yang sangat substansial
Suatu malam saya ke tempat mas Anas Urbaningrum di Duren Sawit kita diskusilah ngomongin nasib teman-teman. Mas ini gimana, teman-teman itu nunggu apakah pindah partai atau tetap seperti ini gimana, siapa nanti penggantinya mas Anas. Gimana kalau kita dukung pak SBY aja sampai di Pemilu ini saja, biar kompak kita semua.
Oh boleh juga. Katanya. Mas Anas nggak apa-apa kan kalau saya ngomong gitu ke media soal ide ini? Oh ya silakan gitu. Dapet izin mas Anas saya waktu itu masih Ketua Komisi III, di DPR kan wartawan ngumpul, ada berita. Kita ngomong itu lah. Ketika ngomong itu semua wartawan ketawa, pak jangan bercanda.
Lho serius ini, mulai pasang tripod dan wawancara resmi, saya sampaikan bahwa saya mengusulkan pak SBY sebagai ketua umum agar bisa dipilih secara aklamasi demi bersatunya semua elemen partai, karena kita sudah masuk tahapan pemilu, dimana kita harus segera berkompetisi di lapangan, segala problem di internal kita tutup dulu.
Baca Berita Jambi lainnya
klik:
Baca juga: Sukandar Perintahkan Wabup Panggil Seluruh Pihak Terkait Rencana Tambang Batubara di Muara Kilis
Baca juga: Al Haris di Jambi, Cek Endra di Jakarta, Mahkamah Konstitusi Putuskan Sengketa Pilgub Jambi
Baca juga: Pemkab Batanghari Refocusing Anggaran, Program Bantuan Sapi Unggul Ditiadakan, Ini Kata Disbunnak
Baca juga: KABAR GEMBIRA, Ada Tambahan 27.303 Kuota Untuk Formasi Guru Agama Jalur PPPK
Jadilah itu berita. Ruhut Sitompul marah, Marzuki Alie, Syarief Hasan semua pada protes dan semua menganggap saya menghina SBY, menurunkan kadar SBY dari dewan pembina dan majelis tinggi partai kok jadi ketua umum. Lalu saya jelaskan bahwa UU partai politik dan UU Pemilu nggak mengenal dewan apa itu nggak dikenal.
Tahunya ketua umum dan sekretaris jenderal. Jadi kalau kita ingin partai ini disimpelkan saja, kewenangan itu kasih ketua umum.
Singkat cerita, perdebatan di media massa itu beliau tangkap. Diundanglah saya ke istana. Waktu itu saya datang malam hari, ada bu Ani almarhum, mas Ibas, dan pak SBY. Tapi duduknya kami berdua saja, saya dan pak SBY.
Kita ngobrol, saya benar-benar dari hati tulus niat ingin menyelamatkan partai waktu itu, karena sudahlah kita ribut tapi kita mau nyaleg semua, mau selamat semua.
Ditanya lah, kenapa kamu mau minta saya jadi ketua umum. Sempat nawarkan kenapa nggak bu Ani saja. Saya jelasin sampai saya bilang kalau bapak tinggal mengambil pasti ini akan kompetisi lagi.
Kalau pak Marzuki Alie maju, maka akan mengajukan Saan Mustopa.
Nanti kompetisi lagi habis lagi energi. Sebenarnya kalau bapak mengambil, ini akan bersatu lagi. Lalu beliau menyambut gembira lah itu. Tapi apakah bisa dibantu untuk semua bisa aklamasi? Kita bilang asal pak Marzuki Alie tidak maju, kami dan dari pihak kami pasti bisa. Dan saya nanti akan datang lagi ke mas Anas karena ini sudah saya diskusikan ke mas Anas, beliau titip salam juga.
Singkat cerita beliau mengajak nanti kita ketemu di Bali ya, itu kira-kira tiga empat hari menjelang kongres. Singkat cerita ada komitmen di sana nanti kalau saya sudah terpilih kita bersatu lagi semua ya, saling bahu membahu kita selamatkan partai, biasalah bahasa yang menarik hati, memikat kita semua.
Dengan semangat saya pulang dari situ langsung ke Duren Sawit. Saya bilang sama mas Anas, pak SBY sudah mau. Mas Anas ketawa, terus langsung dia ambil hp nelponin DPD, DPC.
Banyak yang kaget kenapa diarahkan milih SBY. Oh sudahlah biar semua selamat pilih SBY aja dulu, nanti urusan saya belakangan lah yang penting proses teman-teman nyaleg.
Saya lihat mas Anas mengorbankan dirinya untuk teman-temannya ini selamat dulu. Saya semakin kasihan melihat beliau, padahal sudah tahu penyebab beliau begitu itu siapa.
Singkat cerita KLB di Bali, saya di sana memang mensetting mas Anas ini kan kalau dibilang pengamanannya menggunakan alat kekuasaan itu ya pas zaman SBY bukan zaman pak Jokowi.
Pengamanan gimana maksudnya?
Intel ditaruh di mana-mana hanya untuk melacak di mana ada Anas. Padahal kan Anasnya sudah dukung. Tapi tetap masih khawatir.
Karena kita jiwa aktivis ini kadang kita nakal kan. Lalu kita bilang mas settingan begini, teman-teman intel bilang posisi begini, jadi mas lewat darat aja. Jadi lewat darat lah, dari Surabaya itu mas Anas lewat darat ke Bali. Tidak ke Denpasar tapi ke Buleleng, Bali Utara.
Saya carikan tempat tersembunyi di situ, jadi nggak ada yang tahu. Karena bandara sudah dijaga dan semuanya sudah komplit. Ketika saya ke Buleleng, tempat saya malah sudah diperiksa aparat semua.
Tempat tinggal saya, tempat tinggal orang tua saya, kakak saya, wah semua sudah dicari semua nggak nemu Anas Urbaningrum.
Singkat cerita, saya menemui mas Anas. Semalam itu kita bisa dikatakan aman, nginep, besoknya masih sembunyi belum ada yang tahu.
Akhirnya lama-lama sore, beliau bilang begini, ngapain kita sembunyi-sembunyi bli? kan kita sudah dukung SBY. Mending kita jalan-jalan aja, nikmati Bali Utara. Makanlah kita di sebuah restoran, agak terbuka. Itu kan sedang ramai-ramainya, nah orang yang makan lihat mas Anas akhirnya banyak yang minta foto, langsung heboh.
Beliau tidak menyampaikan maaf?
Nggak ada, seperti tidak pernah ada apa-apa. Malah saya dipretelin semua, wakil ketua fraksi hilang, semua jabatan saya hilang. Jadi yang terjadi akhirnya adalah kita habis bis bis. Dihabisi di situ semua.
Di situ saya berpikir merasa bersalah ke mas Anas. Mas saya minta maaf mas jadi begini semua teman-teman.
Tahu begini kan kita maju aja semua, tarung aja semua. Kalau tarung pasti menang mas Anas, karena DPC dan DPD waktu itu sangat solid ke mas Anas. Tapi akhirnya kita berpikir sudahlah. Karena itulah kemudian saya maju DPD RI.
Karena saya berpikir sudah nggak ada harapan lagi. Jadi ceritanya di KLB itu pun ada kesepakatan pak SBY hanya sampai 2015, meneruskan sisa jabatan mas Anas. Setelahnya akan beliau berikan kepada kader-kader lain yang berpotensi.
Memang begitu komitmennya?
Iya. Hanya di 2015 beliau maju lagi.
Bayangkan ketua umum bapaknya, sekjen anaknya, dan maju lagi di 2015, mau jadi ketum membuat tatib agar dirinya saja yang memenuhi syarat. Marzuki Alie pun tidak memenuhi syarat.
Waktu itu dibuat oleh tim khusus, sembunyi-sembunyi, nggak boleh ada yang tahu, tapi kita tahu.
Yang saya ingat begini, yang boleh menjadi calon adalah yang punya hak suara. Yang punya hak suara itu DPP, ketua umum, DPD, DPC. Ada kemudian syarat berikutnya berpengalaman menjadi pengurus pusat selama 5 tahun.
Berarti yang DPD sama DPC sudah nggak bisa, tinggal dia aja kan. Marzuki Alie aja nggak bisa masuk. Itu contohnya.
Sehingga menjadikan posisinya agak susah. Oleh karena itu saya kira kita mikir waduh kok kayak begini, namanya sang demokrat tapi kok skenarionya harus dibuat seperti itu.
Dan akhirnya yang paling lucu adalah mungkin tidak ada dalam sejarah yaitu kongres belum dibuka tapi pencalonan sudah ditutup. Padahal di mana-mana yang namanya kongres dibuka dulu, kemudian sidang pertama membahas draf tata tertib untuk kemudian disahkan menjadi tata tertib. Dimana-mana begitu. Ini nggak, pendaftaran calon ditutup semua.
Ini kongres mana?
Surabaya. Hasilnya tunggal lah dia. Di mana saya dan Marzuki Alie kan maunya goda-godain dikit kan gitu. Tapi digodain pun nggak boleh, akhirnya disitulah kemudian semakin absolut partai itu berubah dari Partai Demokrat menjadi partai dulur (sedulur : saudara), partai dinasti.
Tapi memang di awal bli gabung ada indikasi itu nggak?
Nggak ada. Saya adalah orang yang mengidolakan beliau.
Memang betul Partai Demokrat waktu itu mau di set up jadi partai terbuka?
Ketika zaman pak Subur Budhisantoso suasana itu kita rasakan. Jadi dinamika perbedaan mengayomi semua merasakannya.
Zaman pak Hadi Utomo luar biasa, boleh dikatakan pak Hadi Utomo ini saya banyak belajar dari beliau. Bagaimana kita mengelola partai. Kita itu kalau diterima berjam-jam, bercerita sama beliau.
Betul-betul ketua umum itu memberi ruang pengetahuan, sehingga kita merasakan bahwa ini luar biasa. Dan saya mengidolakan pak SBY waktu itu.
Kenapa? Ganteng, gagah, cerdas, bicara terstruktur dan politik yang dikenalkan bersih, cerdas, santun. Ini yang saya pegang betul.
Masuklah pertama kali berpartai di sana. Dan itu saya pegang. Sampai satu prank, dua prank, tiga prank, kena prank terus baru saya mengambil kesimpulan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.
Tapi itu penilaian pribadi ya. Mungkin ada yang mengidolakan juga wajar saya kira. Karena saya yakin beliau juga banyak diidolakan. Tapi faktanya yang kita lewati selama ini dalam kasus dengan mas Anas, sehingga kita jaga betul.
Dan saya pernah mengalami sebuah tekanan untuk meninggalkan Anas Urbaningrum.
Posisi saya masih Ketua Komisi III DPR RI. Waktu itu pak menteri Djero Wacik manggil saya, sekarang pak Djero Wacik sama-sama dengan Anas,sering saya ketemu juga.
Beliau manggil saya ketika beliau habis dari Cikeas. Saya diberitahu begini, Pasek kamu harus pilih, kamu milih SBY atau Anas? Lho ada apa pak? Ini akan perang, ini akan tempur, kamu harus milih salah satu. Kalau kamu milih Anas, jabatanmu sebagai ketua Komisi III dicopot, tapi kalau kamu milih SBY kamu tetap jadi ketua Komisi III dan kamu dikasih jabatan yang lebih baik.
Jelas disebut begitu?
Iya ngomong di Widya Chandra, rumah jabatan. Saya datang. Saya tetap bilang nggak bisa, pak SBY itu guru saya, saya tertarik masuk Demokrat karena pak SBY.
Mas Anas ini teman saya, sahabat saya, dia lagi ada masalah, wajar dong saya dampingi. Tetap saya nggak memilih.
Beliau terus bilang. Wah kamu ini keras kepala. Perasaan saya sih saya nggak keras kepala, karena kan saya nggak milih salah satu, saya nggak milih Anas, saya nggak milih SBY. saya milih dua-duanya, kan diluar opsi yang diberikan.
Tapi tetap kalau begitu kamu siap-siap dicopot dari Ketua Komisi III. Terus saya bilang iya nggak apa-apa deh pak. Toh bukan jabatan yang utama, bagi saya persahabatan yang utama, silakan aja.
Dan terjadi. Dan saya sudah tau akan diganti. Jadi satu atau dua minggu kemudian berproses lah itu. Sehingga kita dukung aja.
Bli bisa nggak dijelaskan sedikit, kan tadi disampaikan bahwa pak SBY menawarkan bahwa kalau bisa hasil KLB di Bali itu bukan saya tapi bu Ani, tapi bli bilang jangan, itu sebenarnya apa pertimbangan anda bilang jangan bu Ani Yudhoyono jadi Ketum?
Karena posisi di partai yang langsung in charge itu kan pak sby. Ketua Majelis Tinggi, Ketua Dewan Pembina, sehingga biar langsung itu disatukan saja otoritasnya itu. Tidak lagi tiga kekuatan, langsung satu lagi.
Kalau nggak gitu kan lucu nanti.
Ketua Dewan pembina, Ketua Majelis Tinggi ini bapaknya, Ketum ibu, Sekjen anak. Kan tambah parah lagi, kita nggak bisa jualan di masyarakat.
Wong ini aja sudah menyatu bapak sama anak, masa mau kita rekor MURI lagi ada bapak ibu anak. Tapi kita nggak bilang begitu, kita tetap bilang simbol bapak kita perlukan untuk menyatukan semua. Kalau kita bilang begitu tersinggung pasti.
Karena logika politik saya kan aduh malu kan masa bapak ibu anak, ini apa ini. Walaupun sekarang muncul ya. (tribun network/denis destryawan)