Sejarah Indonesia

Sejarah Serangan 1 Maret 1949, Indonesia yang Geram dan Serang Balik Belanda, Besok Akan Diperingati

Semua cerita sejarah itu berawal pada 19 Desember 1948, Kala itu Belanda mengkhianati perjanjian damai Renville dengan melancarkan Agresi Militer

Editor: Andreas Eko Prasetyo
YouTube
Pada 1 Maret 1949, berlangsung serangan serentak besar-besaran di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Saat itu, Yogyakarta menjadi ibu kota Indonesia. 

TRIBUNJAMBI.COM - Bulan Maret akan tiba, dalam bulan ketiga di setiap tahunnya itu. Peringatan 1 Maret menjadi hal penting dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda kala itu.

Semua cerita sejarah itu berawal pada 19 Desember 1948, Kala itu Belanda mengkhianati perjanjian damai Renville dengan melancarkan Agresi Militer Belanda II.

Dalam Agresi Militer Belanda II tersebut, Belanda yang menjajah Indonesia berhasil menaklukan ibukota Yogyakarta dan menangkap pemimpin-pemimpin pemerintahan Republik Indonesia.

Baca juga: Dunia Militer Geger Pada 31 Maret 1981, Serangan Kilat Kopassus Tumpas Teroris di Operasi Woyla

Baca juga: Dokumen BBC Ungkap Bukan Soeharto Penggagas Serangan Umum 1 Maret, Tapi Sultan Hamengku Buwono IX

Baca juga: Promo KFC Hari Ini 10 Januari Sampai 31 Maret 2021, Beli 9 Potong Ayam Free 1 Totebag Cantik

Bangsa Indonesia tidak tingal diam dengan pengkhianatan Belanda tersebut. Bahkan merespons Agresi Militer Belanda II dengan melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Dilansir dari website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Serangan Umum 1 Maret jadi bentuk pembalasan bangsa Indonesia terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah Belanda di Yogyakarta kala itu.

Perang besar pun terjadi, bahkan pasca Agresi Militer Belanda II, kondisi ibukota Yogyakarta jadi sangat kacau.

Banyaknya korban bertumbangan dari kalangan militer dan sipil Indonesia karena Agresi Militer Belanda II tersebut.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX (profilbos)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (profilbos) ()

Sri Sultan Hamengkubuwono IX kala itu sebagai raja Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat sangat merasa geram terhadap peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Sejak itulah, Hamengkubuwono pun menghubungi Jendral Sudirman tentang perlunya pengadaan operasi militer untuk melawan pasukan Belanda yang ada di Yogyakarta pada awal tahun 1949.

Jendral Sudirman yang mendengar laporan Hamengkubuwono pun menyetujui usulan dari itu untuk melakukan operasi militer.

Jendral Sudirman menginstruksikan kepada Hamengkubuwono IX agar tetap berkoordianasi dengan perwira militer yang ada di Yogyakarta terkait rencana penyerangan Belanda tersebut.

Baca juga: KONI Jambi Usulkan Penambahan Kuota Atlet PON Papua

Baca juga: Syahrini Berdandan ala Geisha, Rayakan Ulang Tahun ke-2 Pernikahan dengan Reino Barack: I Love You

Baca juga: Terima Kunjungan Pj Gubernur Jambi, Al Haris Sampaikan Poin Ini

Setelah menerima instruksi tersebut, Hamengkubuwono IX selaku Raja di kesultanan Yogyakarta segera melakukan koordinasi dengan Letkol Soeharto untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949.

Pada tanggal 1 Maret 1949, pasukan gabungan tentara dan laskar Indonesia melakukan pun melakukan serangan balasan dengan serangan umum dari seluruh penjuru kota Yogyakarta.

Dalam Serangan Umum 1 Maret, Letkol Soeharto bertugas sebagai komandan tertinggi pasukan gabungan.

Kala itu Letkol Soeharto yang memimpin penyerangan dari Barat menuju ke Malioboro.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved