Rabu, 8 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

PESAN DARI ROMA: Ikatan NKRI Lemah, Ini Alasannya!

Bahkan di saat Indonesia menghadapi pandemi, krisis tetap terjadi dengan kondisi masyarakat terbelah dalam berbagai posisi.

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Istimewa
Misa virtual dari Roma Italia dalam rangka Buka Tahun Baru Bersama XVI 2021 Paguyuban Wattawan Katolik Indonesia bersama Rm Agustinus Purnomo MSF (Superior General Kongregasi MSF), RP Markus Solo Kewuta SVD - Konselebeans Utama dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC (Assistant Superior General Kongregasi MSC), Sabtu (23/01/2021). 

TRIBUNJAMBI.COM, ROMA - Ikatan kebangsaan dan spirit ke-Indonesiaan pada saat ini melemah.

Alasan utama adalah telah terjadi polarisasi dalam tubuh bangsa Indonesia dan ini mengakibatkan kemajemukan bangsa yang seharusnya menjadi kekuatan menjadi kelemahan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan anugerah tersebut.

Akibatnya, sejak merdeka Indonesia menghadapi berbagi krisis termasuk politik, relasi sosial budaya, relasi lintas agama, berbagai malapetaka hingga ancaman degradasi moral.

Bahkan di saat Indonesia menghadapi pandemi, krisis tetap terjadi dengan kondisi masyarakat terbelah dalam berbagai posisi.

Demikian ditegaskan oleh RP Markus Solo Kewuta SVD, konselebrans utama dalam misa secara virtual Buka Tahun Baru Bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) XVI – 2021, Sabtu (23/01/2021). Konselebrans lain dalam misa yang diadakan di Roma, Italia itu adalah Rm Agustinus Purnomo MSF (Superior General Kongregasi MSF) dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC (Assistant Superior General Kongregasi MSC) dan ketiga konselebran itu berasal dari Indonesia.

Baca juga: Live Streaming Ikatan Cinta Hari Ini 24 Januari 2021 Lengkap, Masalah Baru di keluarga Andin dan Al

Baca juga: Kota Jambi Menunggu Diterapkan Sistem OSS Versi Tiga, Bisa Urus IMB Secara Daring

Baca juga: Sukandar Minta Kades di Tebo Ciptakan Desa Mandiri

Markus Solo yang Staf Dewan Kepausan Untuk Dialog AntarUmat Bergama Untuk Tahta Suci dan berkedudukan di Vatikan itu menegaskan, krisis yang muncul di Indonesia pada saat ini terutama disebabkan ada sebagian masyarakat yang tidak mendukung serta bekerjasama secara jujur dan sekaligus sepenuh hati kepada presiden yang resmi dipilih secara demokratis.

Hal ini menambah berbagai kompleksitas krisis yang menambah berbagai persoalan yang dulu belum terpecahkan.

“Saya menghimbau kepada wartawan Indonesia terutama Wartawan Katolik untuk mejaga keutuhan dengan mempererat Ikatan dan spirit ke-Indonesiaan demi utuhnya NKRI dengan berpegang pada tiga hal yakni percaya pada penyertaan Tuhan, aktif menebarkan benih kasih dan kebenaran, serta terus mengabarkan warta gembira,” tegas Markus Solo yang berasal dari Nusa Tenggara Timur itu.

Oleh Markus Solo digarisbawahi, dalam menunaikan tugasnya, PWKI menghadapi tantangan dunia Indonesia yang sebagian warganya berani berada dalam “post-truth era” atau “era pasca-kebenaran”, yang lebih suka menyebar hoax dan fake news daripada kebenaran.

“Mengutip pernyataan Rasul Paulus, kelompok masyarakat post truth itu lebih suka memilih menjadi hamba-hamba huruf dan kalimat yang dapat menghancurkan nilai-nilai kehidupan bersama, daripada menjadi hamba-hamba roh yang menyebarkan nafas-nafas kehidupan yang menyelamatkan. Tantangan inilah yang harus dihadapi para wartawan, terutama ketika berenang melawan arus, terjadi pertentangan nurani dan bahkan yang melukai integritas,” ujar Markus.

Dalam konteks ini, wartawan siapapun orangnya seharusnya menjadi “nabi” (modern) yang hidup di zaman “open society” (masyarakat terbuka) seperti sekarang ini. Para wartawan harus siap menjadi ‘nabi” yang berani ditolak , dicemooh ketika harus memperjuangkan kebenaran

Baca juga: Curah Hujan Tinggi di Kabupaten Bungo Diprediksi Hingga Maret Mendatang, BPBD Ingatkan Hal Ini

Baca juga: Suara Dentuman Misterius Terdengar Warga Bali dan Tertangkap Sensor BMKG, Ada Meteor Jatuh?

Baca juga: Santunan Rp3 Juta Akan Didapat Masyarakat Batanghari yang Meninggal Dunia, Khusus Warga Kurang Mampu

“Wartawan harus menjadi garam dan terang. Para wartawan tidak boleh membiarkan diri dimanipulasi oleh orang lain agar misi serta jati dirinya menjadi garam yang melezatkan dan terang yang menerangi tidak kabur agar diperoleh kebenaran Mar,” ujarnya.

Hanya saja, diingatkan Pastor Markus. karena kebenaran cenderung memperhamba manusia atas nama hukum dan aturan, wartawan harus memiliki kasih untuk mengontrol kebenaran itu sendiri.

Kasih adalah DNA, Parameter kemuridan Kristus dan akhirnya Kebenaran berfungsi untuk memerdekakan kita.

Hadir secara virtual dalam acara ini adalah, Dubes Indonesia untuk Tahta Suci L. Amrih Jinangkung, Dirjen Bimas Katolik Y Bayu Samodro dan pengusaha Franciscus Welirang dan sementara Mekominfo Johnny G. Plate hadir dalam sambutan virtualnya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved