Presiden Macron Mendadak Kerahkan Ribuan Tentara Jaga Perbatasan Eropa, Trauma Serangan di Prancis

Presiden Emmanuel Macron mengatakan perjanjian Schengen Uni Eropa, yang memungkinkan orang untuk melintasi perbatasan dengan bebas perlu direformasi.

Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Associated Press
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi gereja di kota Nice, Prancis yang diserang pada Kamis (29/10/2020). Tiga orang tewas dalam peristiwa ini. 

Melalui perjanjian Schegen, orang-orang di Uni Eropa diizinkan dengan bebas melewati batas negara tanpa harus menunjukkan paspor mereka. Namun, pemeriksaan perbatasan negara mulai berlaku beberapa bulan terakhir karena pandemi virus corona.

Tentara menjaga Gereja Notre-Dame de l'Assomption Basilica di Nice, Prancis, setelah serangan teror mengakibatkan tiga orang tewas dibunuh menggunakan pisat, Kamis, 29 Oktober 2020.
Tentara menjaga Gereja Notre-Dame de l'Assomption Basilica di Nice, Prancis, setelah serangan teror mengakibatkan tiga orang tewas dibunuh menggunakan pisat, Kamis, 29 Oktober 2020. (ERIC GAILLARD / POOL / AFP)

Apa yang kita ketahui tentang serangan terbaru?

Seorang perempuan tua dipenggal dan dua orang lainnya terbunuh di sebuah gereja di Nice pada 29 Oktober. Para saksi mata mengatakan mereka mendengar teriakan "Allahu Akbar".

Tersangka, yang ditembak dan ditahan oleh polisi, diidentifikasi bernama Brahim Aioussaoi, 21 tahun, seorang warga Tunisia yang melakukan perjalanan melalui pulau Lampedusa di Italia pada September ke Prancis beberapa hari sebelum penyerangan terjadi.

Baca juga: Presiden Macron Akhirnya Sadar, Klarifikasi Soal Kartun Nabi Muhammad yang Buat Umat Islam Marah

Awal Oktober, seorang guru di Conflans-Sainte-Honorine, Prancis, Samuel Paty mendapat serangan dan dipenggal di jalan oleh seorang Muslim Chechnya berusia 18 tahun.

Korban telah menjadi target diancam selama berhari-hari setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya sebagai bagian dari pelajaran kewarganegaraan.

Penggambaran Nabi Muhammad secara luas dianggap tabu dalam Islam, dan menyinggung perasaan Muslim.

Masalah ini sangat sensitif di Prancis menyusul keputusan majalah satire, Charlie Hebdo untuk menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Baca juga: Ini Strategi Trump Gulingkan Biden, Partai Republik Siapkan Dana Besar untuk Pertarungan Kedua

Persidangan saat ini sedang berlangsung atas pembunuhan 12 orang oleh ekstremis Islam di kantor majalah tersebut pada tahun 2015.

Komunitas Muslim Prancis, merupakan terbesar di Eropa, terdiri dari sekitar 10% populasi.

Beberapa Muslim Prancis mengatakan bahwa mereka sering menjadi sasaran rasisme dan diskriminasi karena keyakinan mereka - sebuah masalah yang telah lama menimbulkan ketegangan di negara itu.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Serangan di Prancis: Macron menyerukan reformasi kebijakan perbatasan Uni Eropa

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved