Mendengarkan Pasangan Ternyata Lebih Sulit Ketimbang Berbicara, Ini Tips Agar Langgeng
Banyak orang menganggap, mendengarkan jauh lebih mudah ketimbang berbicara. Dalam hubungan antar-pasangan, ternyata mendengarkan sulit dilakukan.
"Jika dilihat dari pola argumentasi, titik permasalahan biasanya terjadi hanya dalam waktu tiga menit," Kata Saskhya saat forum diskusi virtual Light Friday Talk (LiFT) Webinar bertema 'Love in the Time of Corona Jumat (6/11/2020).
Acara itu diadakan Sampoerna Academi sebagai institusi pendidikan formal bertaraf internasional bersama Tiga Generasi sebagai rumah konsultasi psikologi keluarga.
"Sistem signal pertahanan diri dalam otak kitalah yang menimbulkan rasa penolakan dan memperpanjang masalah tersebut,” ucap Saskhya lagi.
Baca juga: Cara Memerahkan Bibir Hitam - Lumasi Pakai Lidah Buaya hingga Oleskan Kunyit dan Madu
Meskipun demikian, mengutip riset kolaborasi Universitas Stony Brook, Towson, dan Northwestern tahun 2017, kondisi ini dapat dihadapi dengan 'romantic competence' atau “kompetensi hubungan”.
“Melalui “kompetensi hubungan”, pasangan dapat memperkuat hubungan mereka dengan belajar menghargai satu sama lain melalui persepsi masing-masing, mampu menunjukkan kerentanan diri, dan mengubah diri untuk kualitas hubungan yang lebih baik," ujar Saskhya.
Selain itu, ada 4 hal penting perlu diingat yaitu LOVE akronim dari, Listen, Occasionally do new things, Validate, dan Expect-less.
L, listen artinya mendengarkan pasangan dan berikan batasan pribadi bagi pasangan Anda.
O, occasionally do new things, sesekali melakukan hal baru bersama.
V , validate, artinya validasi perasaan satu sama lain untuk menjaga koneksi pasangan.
E, expect- less, artinya berharap lebih sedikit dan saling menguatkan satu sama lain.
Baca juga: Arya Saloka Makin Digilai Fans Lewat Perannya di Ikatan Cinta, Putri Anne Bakal Bongkar Aib Suami
Psikolog Putu Andani MPsi, Co-Founder Tiga Generasi menjelaskan bahwa dari keempat hal tersebut, mendengarkan pasangan paling sulit dilakukan.
”Kita seringkali tidak benar–benar mendengar pasangan kita dan cenderung melakukan hal lain; seperti melamun, menghakimi, atau bahkan melawan pasangan," ucap Putu.
"Hal inilah yang disebut 'blocks to listen' atau halangan mendengar, sehingga melalui assessment test bisa diketahui tipe listening blocking kita begitu juga dengan pasangan."
"Apakah kita sudah berada di posisi mind-reading, rehearsing, atau ternyata masih berada di posisi judging," ujarnya.
Menurut Putu, hasil tes ini akan membantu pasangan menemukan titik permasalahan dan dapat meningkatkan efektivitas komunikasi.
Baca juga: Masuk Blacklist Taman Nasional Gunung Rinjani, Fiersa Besari: Jangan Meniru Saya