Pilpres Amerika Serikat
Kubu Joe Biden Beri Sindiran ke Donald Trump yang Ngaku Ogah Akui Kemenangan Rivalnya: Pecundang
Hal itu pastinya diharapkan kubu Joe Biden kepada Donald Trump yang menginginkan sang petahana memberikan pidato konsesi itu.
TRIBUNJAMBI.COM - Joe Biden akan segera sah menjadi Presiden Amerika Serikat yang baru atau Presiden AS ke-46 menggantikan Donald Trump.
Pastinya setiap adanya presiden baru di Amerika Serikat. Tradisi pidato konsesi menjadi pendingin dari panjangnya Pemilihan Presiden AS yang pastinya menguras emosi dan tenaga.
Hal itu pastinya diharapkan kubu Joe Biden kepada Donald Trump yang menginginkan sang petahana memberikan pidato konsesi itu.
Bisa dikatakan, jika pemilu diibaratkan sebagai perang antar tentara yang berlawanan, maka pidato konsesi atau penyerahan kekuasaan adalah penjanjian damai.
Baca juga: NGOTOT Merasa Dicurangi di Pilpres AS, Donald Trump Gugat 3 Negara Bagian Ini, Bahkan Minta Hal Ini
Baca juga: Strategi Donald Trump di Facebook saat Pilpres Amerika 2016 Ketahuan, Mengapa Kini Bisa Kalah
Baca juga: Enggan Beri Selamat ke Joe Biden, Donald Trump Bakal Rusak 124 Tahun Sejarah AS yang Sudah Tercipta
Dilansir USA Today, saat ini Presiden Donald masih berjuang dan belum ada tanda-tanda meninggalkan medan perang meski suara elektoralnya tertinggal jauh dari Biden.
Pada Kamis (5/11/2020), penantang Presiden Trump dari Demokrat, Joe Biden memiliki perolehan suara elektoral mendekati batas untuk menang, yakni 270 suara.
Trump dikenal suka tidak mengakui kesalahan atau kegagalan.
Dia rentan memicu perpecahan daripada memperbaiki keadaan, seperti yang ia tuliskan di Twitter dalam beberapa hari terakhir ini.

Saat Biden selangkah lagi menuju kemenangan, Trump mengeluarkan klaim tentang kecurangan pemilu dan Demokrat mencoba mencuri pemilu, tanpa adanya bukti.
Beberapa pihak percaya Trump akan membuat pidato konsesi, jika hanya untuk mempertahankan posisi politiknya sendiri.
Sejatinya Trump bukanlah kandidat presiden pertama yang mempertanyakan hasil pemilu, kata penulis "Almost President: The Men Who Lost the Race but Changed the Nation", Scott Farris.
"Richard Nixon, misalnya, yakin dia telah ditipu pada tahun 1960 melawan John Kennedy karena kejahatan di Texas dan Illinois," kata Farris.
"Tapi dia menyadari bahwa jika dia tidak tampil sebagai pecundang yang baik, masa depannya dalam politik mungkin sudah berakhir."
Menurut Farris, Trump akan sampai pada kesimpulan serupa.
Mungkin nanti Trump akan menyadari sikapnya saat ini akan berdampak buruk pada anak-anaknya yang tampaknya memiliki ambisi politik sendiri.
