Breaking News:

Pilpres AS 2020

PILPRES AS 2020 Belum Selesai, Sudah Ada Klaim Menang hingga Tudingan Curang, Mirip di Indonesia?

Sama seperti di AS yang menganut sistem demokratis, Pilpres di Indonesia juga kerap menyedot perhatian dunia.

Istimewa
Donakd Trump dan Joe Biden di Pilpres AS 2020 

TRIBUNJAMBI.COM - Gelaran pemilihan presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) hari ini, Rabu (4/11/2020), menyedot perhatian dunia tak terkecuali di Indonesia.

Sama seperti di AS yang menganut sistem demokratis, Pilpres di Indonesia juga kerap menyedot perhatian dunia.

Selain karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, Pilpres di Indonesia disebut-sebut sangat sulit pelaksaannya karena mencakup wilayah yang sangat luas.

Nah, ternyata Pilpres di AS dengan Indonesia ada kesamaannya.

Setidaknya bisa dilihat dari ulah dan tingkah laku para politikusnya.

Baca juga: Deputi Rehabilitasi BNN RI Cek Lokasi Panti Rehabilitasi Pecandu di Sarolangun, Lokasi Strategis

Baca juga: Daftar Harga HP Oppo terbaru Awal November 2020 Lengkap 6/128GB Tak Sampai Rp 3 Jutaan

Ngomong curang

Perhitungan suara di Pilpres AS 2020 belum usai namun Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump mencuit di twitter bahwa pilpres kali ini berlangsung curang.

Cuitan Trump itu pun diberikan peringatan oleh Twitter.

Cuitan itu ditengarai memberikan informasi yang tidak benar.

Trump menulis akan memberikan pernyataan dalam waktu dekat. "Kemenangan besar," tulisnya Rabu (4/11/2020).

Setelah menuliskan pengumuman itu, Trump kembali mencuitkan sebuah pernyataan, yang mengarah ke kemenangan pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020.

"Kami naik (menang) besar, tapi mereka mencoba mencuri (mencurangi) pemilihan. Kami tidak akan pernah membiarkan mereka melakukannya. Suara (pemilih) tidak dapat diberikan setelah Polls ditutup," tulisnya.

Tak lama berselang, cuitan tentang mencurangi pemilihan itu langsung diberi peringatan oleh Twitter.

"Konten ini disangsikan dan kemungkinan menyesatkan tentang pemilihan," tulis peringatan Twitter.

Cuitan itu pun tak bisa dibalas, disukai, atau di-retweet.

Kurang lebih sama di Indonesia, pada Pilpres-pilpres sebelumnya ada saja politikus yang bilang Pilpres curang meski perhitungan suara belum usai.

Baca juga: Syahrini Sering Dibully dan Difitnah, Ternyata Reino Barack yang Meminta Istrinya Melapor Ke Polisi

Baca juga: Apa yang Ada Dibenak Anda Jika Dengar kata Virus Corona? Begini Hasil Survey Unicef dan Nielsen

Klaim menang

Penghitungan suara Pilpres AS masih terus berlangsung.

Perolehan suara kedua calon Presiden AS, yakni Joe Biden dan Donald Trump tampak begitu ketat.

Hal itu tampak dalam live quick count atau hitung cepat yang disajikan website CNN, Rabu (4/11/2020) ini.

Untuk sementara Joe Biden Ungguli Donald Trump dengan 205 electoral votes per pukul 12.00 WIB.

Meski belum ada kepastian siapa yang memenangkan Pilpres AS 2020 namun Calon Presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mengklaim pihaknya bakal jadi pemenangnya

Biden mengklaim dengan kemenangan di Arizona dan beberapa daerah, pihaknya bakal keluar sebagai Presiden pilihan rakyat Amerika

Meski begitu, Biden meminta pendukungnya tetap tenang dan menunggu hasil resminya.

Joe Biden Klaim kemenangannya di Pilpres 2020 (CNN)

"Kami tahu ini (penghitungannya) akan berlangsung lama, jadi sabar" katanya kepada penonton beberapa saat yang lalu di depan Chase Center,Delaware.

"Bukan posisi saya atau Donald Trump untuk menyatakan siapa yang memenangkan pemilihan ini," lanjut Biden kepada kerumunan pendukungnya

Capres dari Partai Demokrat itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia optimis dengan hasil pemilihan, tetapi "mungkin perlu waktu lebih lama" untuk mengetahui hasil pemilihan.

"Tetap percaya akan yang terbaik, teman-teman, kami yakin akan memenangkan pemilu ini, kata Biden.

Lagi-lagi saat pilpres-pilpres sebelumnya di Indonesia juga ada yang kerap mengklaim menang padahal perhitungan suara belum usai.

Apakah pemenang nasional pasti jadi Presiden?

Kedua kandidat bersaing untuk memenangi suara dari Electoral College atau Dewan Elektoral.

Setiap negara bagian memiliki jumlah suara electoral college tertentu berdasarkan populasinya.

Mengingat ada 538 suara yang diperebutkan, pemenangnya adalah kandidat yang mendulang 270 suara atau lebih.

Itu artinya para pemilih menentukan persaingan pada tingkat negara bagian, alih-alih tingkat nasional.

Karenanya, seorang kandidat dimungkinkan merebut suara terbanyak pada tingkat nasional—seperti Hillary Clinton pada 2016—namun kalah dari jumlah suara electoral college.

Semua negara bagian, kecuali dua di antaranya, punya aturan bahwa pemenang bisa merebut semua suara Electoral College.

Dengan demikian, setiap kandidat yang mendulang suara terbanyak di sebuah negara bagian berhak meraup seluruh suara Electoral College negara bagian tersebut.

Kebanyakan negara bagian condong pada salah satu partai, sehingga fokus setiap capres biasanya tertuju pada 12 atau lebih negara bagian yang peluang kemenangannya 50-50.

Baca juga: Membludak, Sejak Dibuka Tahap Kedua, Bantuan UMKM di Muarojambi Diserbu Banyak Pendaftar

Negara-negara bagian ini dijuluki negara bagian kunci pertarungan.

Siapa yang bisa memilih dan bagaimana caranya?

Jika Anda seorang warga AS berusia 18 tahun atau lebih, Anda berhak memilih dalam pilpres yang digelar setiap empat tahun sekali.

Akan tetapi, sejumlah negara bagian telah meloloskan aturan yang mewajibkan pemilih menunjukkan dokumen bukti identitas sebelum mereka bisa memilih.

Aturan-aturan ini kerap diloloskan oleh politisi Partai Republik yang mengklaim perlu melindungi pemilu dari kecurangan.

Namun, kubu Demokrat menuding Republik menggunakan aturan tersebut guna menekan para pemilih dari kalangan miskin dan minoritas yang tidak bisa menunjukkan bukti identitas seperti surat izin mengemudi.

Bagaimana cara warga memilih menjadi topik perdebatan tahun ini karena pandemi virus corona.

Sejumlah politisi menyerukan penggunaan kartu suara yang dikirim melalui pos, namun Presiden Trump mengatakan -dengan sangat sedikit bukti—bahwa metode ini bisa membuahkan kecurangan.

Pemilihan ini hanya memilih presiden?

Tidak. Semua perhatian memang tertuju pada persaingan Trump dan Biden, namun para pemilih juga menentukan anggota baru Kongres saat mengisi kertas suara. Kubu Demokrat telah menguasai majelis rendah parlemen atau DPR, sehingga mereka bertekad mempertahankan hal tersebut sekaligus mengincar kendali Senat.

Jika Demokrat punya kursi mayoritas di DPR dan Senat, partai berlambang keledai itu akan mampu memblokir atau menunda rencana Trump jika dia kembali terpilih sebagai presiden.

Sebanyak 435 kursi di DPR AS diperebutkan pada pemilihan tahun ini, sedangkan di Senat terdapat 33 kursi yang dipertarungkan.

Kapan mengetahui hasil pemilu?

Bisa memakan waktu selama beberapa hari untuk menghitung semua kertas suara, namun biasanya pemenang pilpres dapat diketahui dini hari setelah pilpres.

Pada 2016 Donald Trump naik ke atas panggung di New York pukul 03.00 guna menyampaikan pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya.

Akan tetapi, jangan buru-buru menyetel jam weker Anda.

Para pejabat telah mewanti-wanti bahwa kita mungkin harus menunggu lebih lama, mungkin hari, bahkan pekan—sampai hasil resminya diumumkan karena peningkatan jumlah kertas suara yang dikirim melalui pos.

Terakhir kalinya hasil pilpres tidak jelas dalam hitungan jam adalah pada 2000, saat pemenangnya dipastikan melalui putusan Mahkamah Agung sebulan kemudian.

Kapan pemenang Pilpres mulai menjabat?

Jika Joe Biden memenangi pilpres, dia tidak langsung menggantikan Presiden Trump karena ada periode transisi agar pemimpin yang baru punya waktu menunjuk menteri-menterinya dan membuat berbagai rencana.

Presiden yang baru akan resmi dilantik pada 20 Januari dalam sebuah upacara yang dikenal dengan inaugurasi.

Acara ini digelar di tangga gedung Capitol di Washington DC.

Setelah upacara rampung, presiden yang baru akan menuju Gedung Putih untuk memulai masa jabatan selama empat tahun. (*)

SUMBER: Tribun Jateng

Baca juga: Datangi Pengadilan, Syahrini Rupanya Beri Keterangan Sebagai Saksi Perkara Pencemaran Nama Baik

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved