Sumpah Pemuda
Kartosoewirjo, Tokoh Pencetus Sumpah Pemuda yang Buat Soekarno Menangis, Dihukum Mati Karena Hal Ini
Namun dibalik perannya sebagai Tokoh pencetus Sumpah Pemuda, ada kisah sedih di akhir hayatnya yang sampai membuat, Presiden Soakerno ikut berlinang
TRIBUNJAMBI.COM - Memperingati Hari Sumpah Pemuda tidak lepas dari peran penting sosok Kartosoewirjo, dirinya menjadi saru dari 13 tokoh yang mencetuskan Sumpah Pemuda.
Namun dibalik perannya sebagai Tokoh pencetus Sumpah Pemuda, ada kisah sedih di akhir hayatnya yang sampai membuat, Presiden Soakerno ikut berlinang air mata.
Kartosoewirjo, selain dikenal sebagai tokoh pencetus SUmpah Pemuda, dirinya juga merupakan salah satu pentolan pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) atau NII (Negara Islam Indonesia) yang sempat membuat Soekarno menangis.
Dilansir dari SOSOK.grid.id dalam artikel 'Bung Karno Menangisi Sahabatnya, Si Pria Pendek Bertubuh Kurus dan Rambut Keriting', Soekarno tak kuasa menahan tangis saat ia harus menandatangani surat keputusan untuk menghukum mati Kartosuwiryo
Yang membuat sedih Bung Karno bukanlah kelompok pemberontak tersebut, namun Kartosuwiryo pimpinan dari kelompok itu adalah sahabat masa muda Soekarno.
Baca juga: Inilah 13 Tokoh Penting di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda serta Kumpulan Puisi Tentang Sumpah Pemuda
Baca juga: Pelaku Sumpah Pemuda Kwee Thiam Hong: Kalau Soekarno Pidato Semua Diam
Baca juga: 13 Tokoh di Balik Sejarah Sumpah Pemuda yang Tak Diketahui, Simak Ini Isi Teks yang Buat Bergelora
Kartosoewirjo, adalah salah satu kawan dari Soekarno kala masih menimba ilmu dan mondok di rumah HOS TJokroaminoto di Surabaya pada tahun 1918-an.
Ketika menjabat menjadi Presden pasca Kemerdekaan Indonesia, selang berapa tahun kemudian meletuslah pemberontakan yang dipicu kekecewaan dan dipimpin oleh sang sahabat, Kartosoewirjo.
Salah satu keputusan berat yang harus diambil Soekarno adalah menandatangai vonis mati terhadap sahabatnya tersebut.
Karena Kartosoewirjo terbukti sebagai Imam dan Pimpinan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, berkas eksekusi mati tertulis nama itu berkali-kali disingkirkan dari meja kerja Soekarno.
Soekarno dan Kartosoewirjo sama-sama berguru kepada orang yang sama yakni HOS Tjockroaminoto.

"Pada 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air.
Pada tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, di berjuang semata-mata menurut azas agama", Kata Soekarno yang dikutip dari buku "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.
Kartosoewirjo adalah salah satu sahabat semasa tinggal di rumah Pak Tjokro yang tak pernah bosan mengomentari Soekarno saat berlatih pidato di depan cermin.
Namun tak jarang kritik yang dilontarkan Kartosoewirjo lebih kepada ejekan.