7 Dukun Ngumpul di Patung Kuda Lakukan Tindakan Mengejutkan saat Demo Tolak UU Cipta Kerja
Dukun dari Gunung Kidul menyebut, aksi berpakaian menyerupai dukun ini hanyalah bagian dari unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.
7 Dukun Ngumpul di Patung Kuda Lakukan Tindakan Mengejutkan saat Demo Tolak UU Cipta Kerja
TRIBUNJAMBI.COM - Apa yang terjadi pada demo tolak UU Cipta Kerja di Jakarta membuat orang-orang terperangah.
Tujuh dukun ngumpul di Monas menyerukan RIP demokrasi.
Ada dukun dari Gunung Kidul, dukun dari Gunung Kawi, dukun dari Banten, dan dukun-dukun lainnya.
"Grandong! Grandong! Panggil teman-temanmu ke sini. Cepat perintahkan dukun-dukun itu, dukun santet yang ada di banyuwangi, di Banten, dan di Gunung Kidul panggil ke Jakarta untuk melawan DPR!" suara perintah Mak Lampir terdengar lewat pengeras suara Mobil Komando Massa Unjuk Rasa.
Baca juga: 10 Wanita Dicabuli Sopir Angkot, Nekat Jadi Dukun Ngaku Bisa Sembuhkan Corona
Baca juga: Tujuh Bulan Tutup, Hari ini Bioskop Sudah Beroperasi Lagi, Ini Kota yang Bisa Menyaksikan Bioskop
Baca juga: Misteri Pencurian Tali Pocong di Bangko, Benarkah Makam Dibongkar Orang yang Cari Pesugihan
Mak Lampir diminta datang jauh-jauh dari Gunung Merapi ke Monas untuk ikut berunjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di dekat Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusat pada Jumat (16/10/2020) siang.
Bila dalam Film Misteri Gunung Merapi, Mak Lampir menjadi tokoh antagonis, kini ia mendadak jadi aktivis berada di sisi rakyat.
Hantu Grandong patuh akan semua perintah Mak Lampir.
Ia mendatangkan sejumlah dukun itu.
Dukun-dukun itu berkalungkan tanda pengenal berbahan kardus.
Tanda pengenal itu bertuliskan "Penghuni Gunung Merapi", "Dukun Santet Siap Lawan Goib", "Dukun dari Banyuwangi", "Dukun Gunung Kidul", "Dukun Gunung Kawi" dan "Dukun dari Banten".
Bersama Massa Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan sejumlah dukun, Mak Lampir berkeliling membawa keranda mayat keliling Bundaran Jalan Merdeka Barat.
Lalu mereka mulai berunjuk rasa dekat pagar kawat yang memblokade jalan arah Istana Negara.
Massa kemudian meletakkan sebuah keranda mayat bertuliskan "RIP Hati Nurani DPR Tolak UU Omnibus Law".
"Keranda tempat orang mati, ternyata yang mati bukan orangnya tapi yang mati itu hati nurani DPR, saudara-saudara," ujar orator menirukan suara Mak Lampir.