Kisah 'Okta' Pasien OTG Covid-19 Tertular PNS Pemprov Jambi, Dikucilkan Warga Desa
Dia positif corona setelah mengikuti kegiatan dari kantornya, yang ternyata pegawai Pemprov Jambi yang juga ikut kegiatan itu terpapar Covid-19.
Penulis: Monang Widyoko | Editor: Duanto AS
"Sayakan langsung searching itu obatnya. Nama obatnya saya baca itu klorokuin. Saya mencari tahu tentang obat ini dan informasi yang saya dapatkan dosis dari obat ini tinggi," lanjutnya.
"Beberapa teman saya ada yang mual-mual dan muntah-muntah setelah minum obat ini. Keadaan beberapa teman saya yang awalnya baik-baik saja menjadi lemas dan nafsu makan berukurang," beber Okta.
Namun, ia mengatakan bahwa dirinya tidak bermasalah saat meminum obat tersebut.
Setelah berhari-hari ia di rumah sakit, Okta dan teman-temannya belum ada kunjungan dari pihak dokter.
Padahal dari petugas dinkes memberitahukan bahwa akan ada dokter spesialis yang menangani mereka di rumah sakit.
"Kemudian hari ini yakni hari ke empat, baru ada dokter yang datang mengunjungi saya. Itu pun dihari-hari sebelumnya kami ramai dulu di grup WA yang isinya ada saya, teman-teman, dan petugas dinkes yang mengabari hasil swab kami sebelumnya," ujarnya.
Masih belum puas dengan jawaban dokter yang ia temui, Okta pun mencari tahu orang yang ada di Bapelkes, Pijoan, Muaro Jambi.
"Setahu saya di sana itu isinya orang OTG semua seperti saya," lanjut Okta.
• Delapan Pegawai Kantor Bupati Sarolangun Reaktif Rapid Test Covid-19
• Ramalan Zodiak Besok 8 Oktober 2020 Lengkap 12 Bintang, hati-hati Pada Pekerjaan Virgo, Taurus Fokus
"Setelah mendapatkan kontak dari beberapa orang yang saya tanya, pasien di Bapelkes ternyata hanya diberi vitamin, buah, dan air mineral 2 liter, tidak ada obat lain yang diberikan. Tapi kok di sini kami diberikan obat," katanya.
Ia merasa seakan-akan perlakuan pihak rumah sakit terhadap dirinya dan teman-teman seperti disamakan dengan orang yang bergejala Covid-19.
"Saya hanya bisa berharap kami cepat mendapatkan tes swab selanjutnya, agar kami juga bisa cepat-cepat keluar dari sini,".
"Stres kami di sini. Hari-hari kami hanya penuh dengan tanda tanya. Kemudian kalau orang tua menelpon saya, selalu menangis. Sedih rasanya," ungkapnya.
Ia juga mengatakan hasil swab dari kedua orang tuanya serta kakak, kakak ipar, dan anaknya belum keluar. "Abang saya bilang, dari pihak puskesmas mengatakan kalau hasilnya akan keluar delapan hari ke depan," ujarnya.
Kemudian juga ia berharap agar orang tua dan keluarganya di rumah segera diberi bantuan oleh pemerintah. Karena Okta dan kakak laki-lakinya adalah tulang punggung keluarganya.
• BREAKING NEWS Ratusan Pelajar STM Menyerang Gedung DPRD Kota Jambi
• Sebelum Serang Gedung DPRD Kota Jambi, Ratusan Anak STM Sudah Bawa Batu dan Kayu
• VIDEO Gedung DPRD Kota Jambi Diserang
"Saya sudah minta tolong kepada kepala desa saya, agar membantu orang tua saya. Saya dan abang saya kan tidak bekerja selama isolasi. Lalu pendapatan kami dari mana ? Mereka pun juga di rumah saja menjalankan isolasi mandiri, tidak bisa ke mana-mana. Saya mohonlah agar pemerintah memberi bantuan kepada keluarga saya," tutupnya kepada Tribunjambi.com. (Tribunjambi/Widyoko)