Kisah 'Okta' Pasien OTG Covid-19 Tertular PNS Pemprov Jambi, Dikucilkan Warga Desa

Dia positif corona setelah mengikuti kegiatan dari kantornya, yang ternyata pegawai Pemprov Jambi yang juga ikut kegiatan itu terpapar Covid-19.

Penulis: Monang Widyoko | Editor: Duanto AS
Tribun Jambi/Darwin Sijabat
Ilustrasi penjemputan pasien corona di Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Okta, nama samaran, menceritakan tentang kisahnya bagaimana bisa berada di RSUD Ahmad Ripin, Sengeti, Muaro Jambi.

Sebelumnya, Okta dan empat orang temannya terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab. Ia merupakan pasien OTG.

Dia positif corona setelah mengikuti kegiatan dari kantornya, yang ternyata pegawai Pemprov Jambi yang juga ikut kegiatan itu terpapar Covid-19.

Ia menuturkan setelah dirinya mendapatkan info resmi positif reaktif Covid-19 dari dinkes, Okta mengaku belum mendapatkan kepastian akan diisolasi di mana.

PENTING! Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman Sebelum Diberikan ke Masyarakat

Remaja di Kota Jambi Ini Jadi Spesialis Pencurian Kotak Amal, Nasibnya Babak Belur Dihajar Massa

Sebelum Serang Gedung DPRD Kota Jambi, Ratusan Anak STM Sudah Bawa Batu dan Kayu

Pasalnya, ruang isolasi di Kabupaten Muaro Jambi penuh.

Sembari menunggu kabar itu, Okta melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

"Kabar telanjur tersebar dengan cepatnya kepada warga desa saya. Warga mulai heboh dan mengucilkan keluarga kami. Karena keluarga saya dianggap menahan saya agar tidak dibawa ke rumah sakit. Saya pun tidak tenang di rumah. Sehingga saya memutuskan untuk pergi sendiri naik motor ke rumah sakit untuk diisolasi," ungkapnya kepada Tribunjambi.com, Rabu (7/10/2020).

Sesampainya di RSUD Ahmad Ripin, dirinya sempat mengalami penolakan karena tidak memiliki surat rujukan agar diisolasi.

Namun setelah menceritakan semuanya dan juga menelepon saudaranya yang bekerja sebagai tenaga medis, akhirnya Okta mendapatkan ruangan isolasi.

Begitu pula teman-temannya yang positif juga mengikuti dia untuk isolasi di rumah sakit.

"Bukan hanya saya, tapi teman-teman saya pun juga mendapatkan penolakan oleh warga desa mereka masing-masing. Sehingga mereka pun mengikuti cara saya untuk berangkat sendiri ke rumah sakit," jelasnya.

Pada hari pertama ia belum diberi apa-apa dari pihak rumah sakit. Namun ia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan makan dan minum.

"Setelah hari kedua, barulah saya diberi obat. Kemudian saya menanyakan kepada perawat yang memberi obat, ini obat apa ? obat ini berdasarkan apa ? Setelah saya masuk ke sini saya tidak pernah ditanyakan tentang keluhannya apa, sakit apa, terus tiba-tiba saya diberi obat," tuturnya.

Identitas Pelaku Penyerangan Gedung DPRD Kota Jambi

VIDEO: Detik-detik Ratusan Pelajar Gruduk dan Serang Gedung DPRD Kota Jambi, Pecahan Kaca Bertebaran

"Kemudian pihak perawatnya hanya menjawab berdasarkan data pasien. Tapi ketika saya minta soal datanya, mereka enggan memberikan. Ini membuat saya bertanya-tanya," ungkap Okta.

Ia mengatakan dirinya tetap diberikan obat dan kemudian ia menanyakan kepada teman-temannya yang juga diisolasi di sana, bahwa mereka semua diberikan obat yang sama.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved