Kisah Berdarah Kala Kopassus Melawan Tropaz, Saat Ingin Kuasai Dili
Perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat berjuang menahan lepasnya Timor Timur (kini Timor Leste) dari Indonesia ternyata menghadapi banyak ri
Dili dipenuhi suara tembak menembak hari itu.
Senapan serbu AK-47 milik Kopasandha versus senapan G3 standar NATO milik Tropaz dan Fretilin.
Siang harinya, pasukan baret merah itu berhasil menguasai Pelabuhan.
Letkol Soegito menggunakan sebuah bangunan yang belum jadi untuk markas Grup.
Dia mulai bisa mengontak pasukannya yang berceceran.
Di sinilah Soegito menerima kabar Mayor Inf Muji Raharjo tertembak di bagian leher. Lukanya sangat parah. Namun ajaib, nyawanya masih bisa tertolong.
Dia bisa sembuh karena peluru tidak merobek syarafnya.
Kota Dili bisa direbut hari itu juga. Pasukan Tropaz dan Fretilin mundur ke gunung untuk meneruskan perang Gerilya.
Kemenangan yang harus dibayar mahal dengan gugurnya 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501.
Sementara dari pihak musuh sedikit simpang siur.
Ada yang menyebut 122 orang Pasukan Tropaz tewas, ada juga yang mencatat 105 orang. Selain itu puluhan pucuk senjata G-3 juga berhasil direbut.
Dua TNI Gondrong Saling Tatap dengan Anggota Fretelin dan Terjadi Hal Mengerikan Ini
Melihat penampilan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), terbayang dibenak sosok tegap, berambut cepak dan gagah berani.
Terlebih bila anggota TNI tersebut merupakan satuan pasukan khusus yang sering turun ke misi-misi berbahaya dan rahasia.
Saking rahasianya, penampilan yang identik dengan seorang tentara pun terkadang berubah menjadi sosok lain yang sulit untuk dikenali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/dibekali-teknik-bunuh-senyap-kisah-tim-halilintar-kopassus-bungkam-para-pemberontak.jpg)