Berita Internasional
Mati Mendadak, Darah Segar Keluar dari Hidung, Virus Mematikan Menyerang Kelinci di Barat Daya AS
Kelinci-kelinci liar yang hidup di tujuh negara bagian di Barat Daya AS mati dan sekarat akibat virus tersebut.
TRIBUNJAMBI.COM - Disaat Pemerintah Amerika Serikat masih berusaha untuk mengendalikan kasus Covid-19 yang terus meningkat, virus lainnya justru menyebar di kawasan Barat Daya dan mematikan populasi kelinci di sana.
Kelinci-kelinci liar yang hidup di tujuh negara bagian di Barat Daya AS mati dan sekarat akibat virus tersebut. Penyakit yang ditimbulkannya disebut Hemorrhagic Disease Virus (RHDV2).
“Kami menyebutnya Bunny Ebola,” sebut Dokter Hewan dari Texas, Amanda Jones, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (1/7).
Meski disebut Ebola, virus yang mewabah di kalangan kelinci tersebut tidak ada kaitannya dengan virus Ebola.
Namun penyakit tersebut menimbulkan gejala yang sama pada kelinci, seperti halnya saat manusia terkena Ebola.
Antara lain pendarahan parah, kerusakan organ, dan kematian pada manusia juga primata.
• Viral Chat Seorang Pria Banyumas Ngaku Siap Jadi Kelinci Percobaan Disuntik Virus Corona Stadium 4
• Covid-19 Belum Reda, Muncul Virus Baru dari Babi di China hingga Kekhawatiran Jadi Pandemi
Penyakit tersebut menyebabkan lesi (luka) pada organ dalam dan bagian otot kelinci, sehingga menimbulkan pendarahan dalam dan kematian pada hewan tersebut.
Tanda-tanda yang paling terlihat adalah ketika kelinci mati mendadak, darah segar keluar dari hidung mereka.
Sejak April lalu, Departemen Pertanian AS (US Department of Agriculture/ USDA) telah mengkonfirmasi kasus infeksi RHDV2 di Arizona, California, Colorado, Nevada, New Mexico, Utah, dan Texas.
Beberapa wilayah di bagian barat Meksiko juga memiliki angka infeksi. Wabah keempat Ini adalah kali keempat virus ganas tersebut menyebar di Amerika Serikat.
• Fakta Mencengangkan Virus Ebola, Berasal dari Hewan Liar hingga Menular dari Manusia ke Manusia
• Virus Ebola Justru Bantu Afrika Hadapi Virus Corona, Bagaimana Bisa?
Galur (strain) virus telah bermutasi dan menyebar ke hampir semua negara bagian sejak ilmuwan pertama kali menemukannya di China, 35 tahun lalu.
Namun ini adalah kali pertama virus tersebut menyerang hewan selain kelinci. Antara lain pika dan hare yang endemik Amerika Utara. Selain itu virus ini juga menyerang cottontails, snowshoe hare, dan jackrabbit.
“Di beberapa negara bagian, hal ini sangat mengkhawatirkan,” tutur Eric Stewart selaku Direktur Eksekutif American Rabbit Breeders Association.
Pada 2018, virus tersebut muncul dari kelinci peliharaan di Ohio. Kemudian, virus itu menyebar di Negara Bagian Washington.
• Sebelum Meninggal, Pakar Kejiwaan Ungkap 6 Perasaan yang Dialami Jelang Ajal, Termasuk Kesepian
• Inilah 15 Orang Paling Kaya di Indonesia Terbaru di 2020, Makin Tajir Meski Digempur Pandemi
Akhir Februari, lebih dari satu lusin kelinci mati di Centre for Avian and Exotic Medicine yang berlokasi di Manhattan.