Dulu Dilarang, Sekarang Minuman Cap Tikus di Gorontalo Diolah Jadi Hand Sanitizer
Saat ini, banyak bermunculan hand sanitizer. Di Gorontalo, masyarakat setempat membuat hand sanitizer sendiri.
TRIBUNJAMBI.COM -Di tengah pandemi Covid-19 ini, protokol kesehatan selalu diutamakan.
Seperti rajin mencuci tangan dengan memakai sabun, menggunakan hand sanitizer, pakai masker, jaga jarak.
Saat ini, banyak bermunculan hand sanitizer. Di Gorontalo, masyarakat setempat membuat hand sanitizer sendiri.
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie berbagi cerita tentang pembuatan hand sanitizer lokal oleh masyarakat di daerahnya.
Hand sanitizer di daerahnya diolah dari minuman tradisional Cap Tikus yang mengandung alkohol sebesar 40 persen.
"Ini hand sanitizer Sofi. Ini asli buatan masyarakat Gorontalo," ujar Rusli saat mengisi talkshow daring yang digelar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Rabu (24/6/2020).
• UPDATE Bertambah 521 Pasien, Total Hari Ini Positif Covid-19 Yang Sembuh 19.658 Orang
• UPDATE Total Hari Ini Pasien Covid-19 Yang Meninggal Dunia 2.573 Orang
• Siapa Sosok Berambut Gondrong Yang Berbicara Serius Dengan John Kei? Ternyata Dia Anggota Jatanras
• Penyebab Zumi Zola Digugat Cerai Sherrin Tharia s/d Bisnis Online Sang Istri Makin Moncer
Dia mengungkapkan, pada awalnya Pemerintah Provinsi Gorontalo sempat sulit mendapatkan bahan baku hand sanitizer.
Ide membuat cairan pembersih tangan ini bermula ketika Rusli diundang untuk menghadiri pemusnahan 40 ribu ton minuman Cap Tikus oleh aparat setempat.
Dia lantas berpikir untuk mengolah kembali minuman berkadar alkohol 40 persen itu agar bisa mencapai kadar alkohol yang bisa digunakan sebagai bahan antiseptik, yakni sebesar 70 persen.
Selama ini, minuman Cap Tikus dikenal sebagai minuman beralkohol tradisional khas Minahasa yang diolah dari fermentasi air nira dari Pohon Aren (Enau).
Saat itu, Rusli langsung menghubungi Guberner Sulawesi Utara Olly Dondokambey untuk bekerjasama mengolah bahan yang ada.
"Saya telepon beliau, lalu menanyakan, bagaimana kalau kita kerja sama. Sehingga petani anda tak rugi, masyarakat saya juga tidak minum miras, " ungkap Rusli.
"Saya katakan bagaimana kalau kita olah ini ini jadi hand sanitizer berkualitas. Pak Olly lantas setuju lalu kita bikin MoU agar minuman Cap Tikus ini tidak kucing-kucingan dengan petugas," tutur dia.
Rusli mengungkapkan, dari hasil pengolahan yang dilakukan, ternyata hasilnya bagus. Tak kalah dengan produk yang beredar di pasaran.

Bahan baku yang ada itu setelah diolah sudah bisa ditingkatkan kadar alkoholnya menjadi 70 persen dan diproduksi menjadi Hand Sanitizer Sofi.