Pesawat Hadi Tjahjanto Ditembaki di Papua, Lolos dari Maut saat Drop Pasukan Naik Casa
Sebagai pesawat tranpor ringan yang biasa terbang rendah, CASA memang rawan tembakan dari darat karena senjata jenis senapan serbu bisa melumpuhkan
TRIBUNJAMBI.COM - Banyak yang tak mengetahui kisah pesawat Hadi Tjahjanto ditembaki di Papua.
Ada fakta menarik yang barangkali tidak diketahui banyak orang, di balik profil gagahnya Panglima TNI Hadi Tjahjanto.
Panglima TNI Hadi Tjahjanto yang lahir dari darah militer, ternyata memiliki kisah-kisah sejarah hidupnya sebelum menjadi seorang Marsekal.
Banyak rintangan dalam kariernya dalam mengejar pencapaiannya.
• Koopssus Akhirnya Punya Markas Komando, Panglima TNI Tanda Tangan Prasasti di Mabes
• Daftar 21 Panglima TNI sejak 1945-Sekarang, Jenderal Soedirman s/d Marsekal TNI Hadi Tjahjanto
Bahkan ia bercerita hampir kehilangan nyawanya beberapa kali saat bertugas.
Seperti dikutip di buku Anak Sersan Jadi Panglima : Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto’ (2018 ) yang ditulis Eddy Suprapto, Marsekal Hadi ternyata memiliki kisah nyata yang nyaris merenggut nyawanya.
Ketika masih berpangkat sebagai seorang Kapten Penerbang, Marsekal Hadi yang saat itu menerbangkan pesawat transpor ringan Casa NC-212-200 memang termasuk pilot TNI AU yang beruntung.
Pasalnya ketika sedang melaksanakan tugas di daerah rawan seperti Papua, pesawat CASA yang sedang melaksana misi droping logistik dan pemindahan pasukan pernah tertembak dua kali dari bawah.
Tapi tembakan yang diduga berasal dari senapan serbu itu, tidak sampai mengakibatkan para awaknya terluka dan pesawat CASA rusak parah lalu jatuh.
Sebagai pesawat tranpor ringan yang biasa terbang rendah, CASA memang rawan oleh tembakan dari darat karena senjata jenis senapan serbu bisa melumpuhkannya.
Apalagi fuselage (badan) CASA tidak dibuat dari lapisan komposit yang anti peluru tapi alumunium yang mudah sekali ditembus peluru senapan serbu.
• Kisah Pilot Tempur TNI AU, Naik Pesawat Tua, Disuruh Ngebut 1.000 Km/Jam Buntuti Rudal Harpoon
Oleh karena itu dalam penerbangan di daerah konflik CASA selalu terbang pada ketinggian 10.000 kaki sehingga bisa menghindari tembakan dari senapan serbu atau senapan mesin.
Dari sejarahnya pesawat CASA yang rawan diserang pasukan darat saat terbang rendah ini memang sudah ditujukan untuk kepentingan militer.
Ketika pada tahun 1974 militer Spanyol memutuskan untuk mengoperasikan pesawat angkut ringan CASA C-212, pesawat yang diproduksi oleh Aviocar itu ternyata menjadi perhatian dunia.
Oleh militer Spanyol CASA yang dijagokan untuk mengganti pesawat transport dari era PD II tersebut sukses diterbangkan untuk operasi penerjunan pasukan, dropping logistik dan ambulan udara serta mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil.