Virus Corona di Jambi
Posko Covid-19 di Desa Air Batu Dibakar, Empat Warga Dipanggil Polisi
Bupati Merangin Al Haris menyesalkan adanya tindakan anarkis yang dilakukan oleh warga Desa Air Batu yang membakar posko Covid-19 di desa tersebut.
Penulis: Muzakkir | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM,BANGKO -- Bupati Merangin Al Haris menyesalkan adanya tindakan anarkis yang dilakukan oleh warga Desa Air Batu yang membakar posko Covid-19 di desa tersebut.
Al Haris meminta kepada penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini, sebab tindakan yang dilakukan oleh warga tersebut merupakan tindakan melawan hukum.
Menanggapi hal itu, Kapolres Merangin AKBP M Lutfi menyebut jika pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang yang terlibat dalam kejadian tersebut.
"Sudah empat orang yang kita periksa," kata Lutfi.
Meski telah memeriksa empat orang, namun pihaknya belum menetapkan tersangka.
"Untuk TSK masih kita dalami," kata Lutfi lagi.
• Sulit Akses Jaringan Internet, Guru Madrasah di Bungo Mengajar Lewat Telepon
• Dalam Sehari Kasus Covid-19 di Jatim Bertambah 502, Penambahan Tertinggi di Indonesia
• Bingung Tak Bisa Angkut Penumpang, Sopir Bus di Bungo Lakukan Hal Ini di Tengah Pandemi Corona
Untuk diketahui, warga Desa Air Batu Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin mengamuk, posko Covid-19 didesa tersebut dibakar warga.
Selain itu, kantor desa setempat juga ikut menjadi sasaran. Puluhan warga merusak kantor tersebut. Kejadian ini karena warga kesal lantaran perangkat desa memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) diduga tidak tepat sasaran.
Ada warga yang benar-benar berhak menerima bantuan Covid-19 melalui Dana Desa yang diterima Rp 600 ribu ini namun tidak mendapatkan bantuan, sementara warga yang tergolong mampu dan rumahnya bagus malah mendapatkan bantuan tersebut.
Informasi yang dihimpun, sebelum kejadian ini, tepatnya dua hari yang lalu warga mempermasalahkan BLT dengan mendatangi rumah Kades dan malam ini rencana akan diadakan rapat di Kantor Desa namun tidak satupun perwakilan pemerintah desa yang hadir untuk menjelaskan permasalahan BLT.
Penyaluran BLT sudah dilakukan tiga hari yang lalu, namun banyak warga yang seharusnya layak mendapatkan bantuan, tapi tidak terdata atau tidak dapat bantuan, justru yang mendapat bantuan adalah warga yang dianggap mampu.
Selain itu ada juga warga yang namanya ada dalam daftar penerima BLT namun hingga saat ini belum mendapatkan bantuan, sementara yang lainnya sudah diserahkan tiga hari lalu.
"Diduga aparatur desa memanipulasi data, pakai nama warga yang tidak mampu, tapi yang dapat mampu," kata warga setempat.
Aksi protes BLT di Kabupaten Merangin ini bukan kali pertamanya, Sabtu (16/5) lalu juga terjadi aksi protes di Desa Seling Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin, disini warga juga mendatangi kantor desa dan rumah kepala desa.
Di sini warga meminta bantuan tersebut dibagi sama rata, sebab mereka menilai semua warga desa tersebut terdampak Covid-19 ini.
• Kemendikbud Tepis Kabar Tahun Ajaran Baru Sekolah Kembali Dibuka, Nadiem: Tidak Pernah Sampaikan Itu
• Dirumah Aja Ampuh Kurangi Penyebaran Covid-19, Hasil Studi Kajian Ilmiah FKM Universitas Indonesia
• VIDEO Pemkot Bekasi Izinkan Masjid di 38 Kelurahan Adakan Salat Id, Pakar: Siap-siap Klaster Baru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/djdm-jsns.jpg)